Dugaan pembunuhan oleh seorang marinir AS di Okinawa menguji hubungan AS-Jepang. (Anadolu Agency)
Menlu AS-Jepang Bahas Dugaan Pembunuhan di Okinawa, Sepakat Cegah Insiden Serupa
Willy Haryono • 11 October 2026 11:20
Tokyo: Menteri Luar Negeri Jepang Toshimitsu Motegi bersama Menlu Amerika Serikat Marco Rubio membahas dugaan kasus perampokan dan pembunuhan di Okinawa yang melibatkan seorang anggota Korps Marinir AS.
Pembahasan dilakukan keduanya melalui sambungan telepon, menurut keterangan Kementerian Luar Negeri Jepang di platform media sosial X.
Mengutip Anadolu pada Sabtu, 10 Oktober 2026, Motegi dan Rubio sepakat menggelar konsultasi untuk membahas langkah-langkah pencegahan agar insiden serupa tidak terulang.
Pihak kementerian mengatakan bahwa Motegi kembali menegaskan posisi pemerintah Jepang, termasuk sangat menyayangkan atas terjadinya insiden tersebut.
Dalam pernyataan terpisah, Departemen Luar Negeri AS mengatakan kedua menteri menegaskan kembali kuatnya aliansi Jepang-AS yang menjadi landasan perdamaian, keamanan, dan kemakmuran di kawasan Indo-Pasifik dan sekitarnya.
Rubio juga menyampaikan belasungkawa atas meninggalnya seorang warga negara Jepang dalam insiden di Okinawa ini. Ia menegaskan kesediaan AS untuk berkomunikasi dan bekerja sama sepenuhnya dengan pemerintah Jepang serta otoritas setempat selama penyelidikan berlangsung.
Kopral Dua Marinir Devin Jacob Ballard, 20, yang bertugas di Pasukan Ekspedisi Marinir III di Stasiun Udara Korps Marinir Futenma, ditangkap pada Minggu atas dugaan membunuh Anna Yagi, 39, di sebuah hotel di Naha, ibu kota Prefektur Okinawa.
Ballard membantah melakukan pelanggaran dan telah diserahkan kepada jaksa untuk diproses lebih lanjut.
Kasus tersebut memicu aksi protes di Okinawa dan Tokyo. Insiden itu juga kembali mendorong desakan untuk meninjau Perjanjian Status Pasukan Jepang-AS yang mengatur keberadaan personel militer AS di Jepang.
Majelis Prefektur Okinawa pada Jumat lalu mengadopsi resolusi yang menyerukan peninjauan mendasar terhadap perjanjian tersebut. Majelis juga mendesak militer AS mengambil langkah-langkah untuk mencegah kejadian serupa terulang.
Pemerintah Jepang juga telah memanggil Duta Besar AS dan komandan pasukan Amerika di Okinawa untuk menyampaikan protes atas insiden tersebut.
Okinawa menjadi lokasi sekitar setengah dari 50.000 personel militer AS yang ditempatkan di Jepang. (Razaqa Hariz)
Baca juga: Pasukan AS di Okinawa Terapkan Jam Malam 30 Hari usai Dugaan Pembunuhan