Ilustrasi. Foto: Dok MI
Memahami Hubungan Rupiah, Inflasi, dan Suku Bunga Bank Indonesia
Eko Nordiansyah • 21 October 2026 13:30
Jakarta: Nilai tukar Rupiah, inflasi, dan suku bunga memiliki hubungan erat dalam perekonomian. Ketiganya menjadi bagian penting dari kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) untuk menjaga stabilitas harga dan nilai Rupiah.
Mengutip laman resmi Bank Indonesia, stabilitas nilai Rupiah mencakup kestabilan harga barang dan jasa yang diukur melalui inflasi serta kestabilan nilai tukar Rupiah terhadap mata uang negara lain.
Untuk menjaga stabilitas tersebut, BI menggunakan suku bunga kebijakan sebagai salah satu instrumen utama dalam memengaruhi aktivitas ekonomi dan mengendalikan inflasi.
Hubungan suku bunga dan inflasi
Suku bunga kebijakan BI-Rate memengaruhi suku bunga perbankan, termasuk bunga deposito dan kredit. Perubahan suku bunga tersebut kemudian dapat memengaruhi keputusan masyarakat dan perusahaan dalam melakukan konsumsi, menabung, serta investasi.Dalam kondisi tertentu, kenaikan BI-Rate dapat mendorong kenaikan suku bunga kredit perbankan. Kondisi ini berpotensi menekan permintaan kredit dan aktivitas ekonomi sehingga mengurangi tekanan inflasi.
Sebaliknya, penurunan BI-Rate dapat mendorong penurunan suku bunga kredit. Biaya pinjaman yang lebih rendah berpotensi meningkatkan konsumsi dan investasi, sehingga turut mendorong aktivitas ekonomi.
Meski demikian, pengaruh perubahan suku bunga terhadap inflasi tidak terjadi secara langsung. Proses transmisi kebijakan moneter membutuhkan waktu dan dipengaruhi kondisi perekonomian, sektor keuangan, serta respons perbankan dan masyarakat.
Baca Juga :
Peran Rupiah dalam Aktivitas Ekonomi Nasional

(Ilustrasi. Foto: Dok MI)
Pengaruh suku bunga terhadap nilai tukar Rupiah
Selain memengaruhi inflasi, perubahan suku bunga BI-Rate juga dapat memengaruhi pergerakan nilai tukar Rupiah melalui jalur arus modal.Bank Indonesia menjelaskan, kenaikan suku bunga domestik dapat meningkatkan selisih suku bunga Indonesia dengan negara lain. Kondisi tersebut berpotensi menarik investor asing untuk menanamkan modal pada instrumen keuangan di Indonesia.
Aliran modal asing yang masuk dapat mendorong penguatan nilai tukar Rupiah. Apabila Rupiah menguat, harga barang impor dalam Rupiah dapat menjadi lebih murah. Kondisi ini berpotensi membantu mengurangi tekanan inflasi.
Sebaliknya, perubahan arus modal dan nilai tukar dapat memengaruhi harga barang impor serta tekanan harga di dalam negeri. Karena itu, stabilitas nilai tukar menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya pengendalian inflasi.
Untuk mencapai stabilitas tersebut, BI menerapkan kerangka kebijakan moneter Flexible Inflation Targeting Framework (Flexible ITF). Kerangka ini mengintegrasikan pengendalian inflasi dengan upaya menjaga stabilitas sistem keuangan serta mempertimbangkan peran nilai tukar dan arus modal.
BI juga memperkuat koordinasi dengan pemerintah dalam pengendalian inflasi, termasuk melalui upaya menjaga keterjangkauan harga, ketersediaan pasokan, dan kelancaran distribusi barang.
Dengan demikian, Rupiah, inflasi, dan suku bunga saling berkaitan melalui berbagai jalur transmisi kebijakan moneter. Pengelolaan ketiganya menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas perekonomian dan mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. (Natasya Dwi Putri)