Ini 3 Faktor Pemicu Banjir di Jakarta

Ilustrasi musim hujan. Foto: Antara.

Ini 3 Faktor Pemicu Banjir di Jakarta

Nattasya Amani Vrazeti • 30 October 2026 16:44

Jakarta: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DKI Jakarta memetakan ancaman bencana pada musim hujan 2026. Terdapat tiga faktor utama yang dinilai memicu potensi banjir di wilayah Ibu Kota.

“Secara umum, ancaman banjir di Jakarta dipengaruhi oleh tiga faktor utama, yaitu tingginya curah hujan lokal, kiriman air dari wilayah hulu melalui aliran sungai, serta pasang air laut atau banjir rob di kawasan pesisir,” ujar Kepala Pelaksana BPBD DKI Jakarta Marulitua Sijabat kepada Metrotvnews.com, Jumat, 30 Oktober 2026.

Marulitua menjelaskan kajian risiko tersebut menjadi acuan dalam menentukan wilayah prioritas penanganan. Langkah ini bertujuan mengoptimalkan perencanaan mitigasi, kesiapsiagaan, hingga penanganan darurat di lapangan.

“Jadi, penentuan prioritas tidak hanya melihat seberapa sering suatu wilayah mengalami banjir, tetapi juga mempertimbangkan potensi dampak terhadap penduduk dan kemampuan wilayah dalam menghadapi bencana,” ucap Marulitua.

BPBD juga mengacu pada dokumen Kajian Risiko Bencana (KRB) Provinsi DKI Jakarta Tahun 2022-2026 yang menjadi dasar penyusunan Rencana Penanggulangan Bencana Daerah Tahun 2023-2027. Dokumen tersebut ditetapkan melalui Peraturan Gubernur (Pergub) Nomor 1 Tahun 2024.

“Penentuan wilayah prioritas dilakukan dengan mempertimbangkan beberapa faktor, antara lain riwayat kejadian banjir, kondisi geografis wilayah, tingkat kerawanan, serta potensi dampak yang dapat ditimbulkan kepada masyarakat,” kata Marulitua.

BPBD DKI Jakarta telah memetakan 25 kelurahan sebagai wilayah prioritas rawan banjir dalam menghadapi musim hujan 2026. Puluhan kelurahan tersebut tersebar di empat kota administrasi, yakni Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Jakarta Timur, dan Jakarta Utara.

Marulitua menyebut pemetaan wilayah prioritas tersebut mengacu pada Rencana Kontinjensi Penanggulangan Banjir Tahun 2021. Langkah ini fokus pada kawasan berisiko tinggi di sepanjang aliran sungai maupun pesisir.

“Dalam menghadapi musim hujan tahun 2026, BPBD Provinsi DKI Jakarta memberikan perhatian terhadap wilayah-wilayah yang memiliki riwayat kejadian banjir dan tingkat kerawanan yang tinggi, khususnya kawasan di sekitar aliran sungai, wilayah dataran rendah, serta kawasan pesisir yang berpotensi terdampak banjir rob,” ujar Marulitua.

Sejumlah wilayah prioritas di Jakarta Barat mencakup Rawa Buaya, Tegal Alur, Kedoya Selatan, Kedoya Utara, dan Kembangan Utara. Sementara itu, di Jakarta Selatan meliputi Jati Padang, Pejaten Timur, Pondok Labu, Ulujami, dan Cipulir.


Ilustrasi banjir di Jakarta. Foto: Antara. 

Adapun di Jakarta Timur, terdapat enam kelurahan yakni Kampung Melayu, Bidara Cina, Cawang, Cipinang Melayu, Kebon Pala, dan Cililitan. Untuk Jakarta Utara meliputi tiga kelurahan, yaitu Pluit, Pademangan Barat, dan Rorotan.

“Wilayah-wilayah tersebut menjadi perhatian dalam perencanaan kesiapsiagaan karena memiliki potensi terdampak banjir akibat curah hujan tinggi, luapan sungai, maupun pengaruh pasang air laut,” jelas Marulitua.

Meski demikian, pemantauan tidak hanya terbatas pada 25 kelurahan tersebut. BPBD tetap mengawasi seluruh wilayah DKI Jakarta dengan memantau kondisi cuaca, tinggi muka air, serta dinamika di lapangan.

(Gabriella Thesa Widiari)