Ilustrasi, penanganan sapi antraks. (Dok. Antara)
Kasus Antraks Kembali Ditemukan di Gunungkidul, Ini Penyebabnya
Ahmad Mustaqim • 2 October 2026 20:04
Gunungkidul: Kasus antraks kembali ditemukan di Kabupaten Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), setelah kambing mati mendadak diduga diolah dan dikonsumsi warga. Empat orang yang dinyatakan positif antraks kini telah sembuh setelah mendapat penanganan di puskesmas.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul Ismono mengatakan, kasus tersebut bermula saat petugas Puskesmas Semanu I menemukan tujuh orang yang diduga terjangkit antraks di Dusun Pelem. Temuan itu ditindaklanjuti dengan pemeriksaan lebih lanjut.
"Berdasarkan hasil penyelidikan epidemiologi, kasus memiliki riwayat kontak langsung dengan hewan ternak (kambing) yang mengalami kondisi lemas dan kemudian mati mendadak," kata Ismono dihubungi pada Jumat, 2 Oktober 2026.
Baca Juga :
Antraks Jadi Ancaman Utama Hewan Kurban
Hasil penelusuran kontak pada kelompok berisiko mengidentifikasi 47 orang yang memiliki riwayat kontak dengan hewan atau produk hewan dari kambing yang mati mendadak. Ismono mengatakan, pihaknya melakukan langkah-langkah pencegahan.
"Pemberian profilaksis (tindakan pencegahan) dan pemantauan kesehatan terhadap suspek antraks dan populasi berisiko sebagai upaya pencegahan munculnya kasus tambahan," ujar dia.
Suspek antraks dan kontak erat dengan riwayat paparan diberikan profilaksis sesuai kategori risiko dan pedoman penanggulangan antraks. Sementara itu, penyelidikan epidemiologi lanjutan dilakukan terhadap seluruh individu yang terpapar untuk mengidentifikasi faktor risiko, menemukan kasus tambahan, dan memperbarui data populasi berisiko.
"Prosesnya melakukan pemantauan kesehatan terhadap seluruh kontak dan populasi berisiko selama dua kali masa inkubasi atau 60 hari," ucapnya.

Ilustrasi, penanganan sapi antraks. (Dok. Antara)
Ia mengatakan edukasi kepada masyarakat tentang bahaya menyembelih, mengolah, atau mengonsumsi hewan yang sakit maupun mati mendadak masih perlu diperkuat. Masyarakat juga diminta segera melaporkan jika menemukan ternak yang mati tanpa diketahui penyebabnya.
Ismono juga meminta pemerintah setempat memperkuat koordinasi lintas sektor dengan pemerintah desa, Dinas Peternakan, Puskesmas, dan pihak terkait lainnya untuk mencegah dan mengendalikan antraks.
"Kemudian juga melakukan pelaporan dan update informasi secara berkala kepada Dinas Kesehatan Kabupaten Gunungkidul sesuai hasil penyelidikan epidemiologi dan perkembangan pemantauan populasi berisiko," terangnya.