Tim BPBD Jember salurkan air bersih di Kelurahan Bintoro, Kecamatan Patrang, Kabupaten Jember, Sabtu (10/10/2026). ANTARA/Hamka Agung
Kemarau Ekstrem, 2.456 KK di Jember Terdampak Krisis Air Bersih
Lukman Diah Sari • 14 October 2026 13:22
Jember: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Jember mencatat sebanyak 2.456 kepala keluarga (KK) terdampak krisis air bersih. Kondisi ini dipicu oleh musim kemarau ekstrem dan berkepanjangan yang melanda wilayah Jember, Jawa Timur.
"Berdasarkan data hingga hari ini, sebanyak 2.456 KK yang tersebar di 19 desa/kelurahan di 10 kecamatan mengalami krisis air bersih karena sumur mereka mengering akibat kemarau ekstrem," kata Kepala BPBD Jember, Edy Budi Susilo, Rabu, 14 Oktober 2026, melansir Antara.
Baca Juga :
"Saat ini kami harus mengatur skala prioritas bagi masyarakat yang membutuhkan air bersih untuk kebutuhan memasak dan minum. Sehingga, masyarakat yang membutuhkan air untuk mandi dan cuci pakaian terpaksa harus bersabar," jelasnya.
Berdasarkan informasi terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), musim kemarau diprakirakan bakal lebih panjang, yakni hingga akhir November 2026. Padahal, prediksi sebelumnya menyebutkan kemarau akan berakhir pada awal November.
"Dengan informasi dari BMKG tersebut, maka awal musim hujan di Kabupaten Jember diprediksi baru terjadi pada awal Desember 2026. Sehingga, kemarau semakin panjang dan kemungkinan kebutuhan air bersih masyarakat juga akan semakin meningkat," papar Edy.

Ilustrasi. ANTARA FOTO/ Putra M. Akbar/agr
Dampak kemarau panjang ini juga meluas ke wilayah yang sebelumnya berstatus zona hijau atau aman dari kekeringan. Beberapa desa di Kecamatan Bangsalsari dan Jelbuk kini terpaksa meminta bantuan distribusi air bersih.
Untuk memenuhi kebutuhan warga, BPBD Jember mengandalkan enam titik sumber mata air, salah satunya berada di Desa Garahan, Kecamatan Silo. Titik-titik ini menjadi tumpuan utama pengambilan air bersih untuk disalurkan ke daerah krisis.
"Kami juga berkoordinasi dengan beberapa instansi, seperti PMI (Palang Merah Indonesia) dan Perumdam Tirta Pandalungan, untuk bersinergi menyalurkan air bersih kepada warga terdampak," urainya.
Mengingat musim kemarau yang diprediksi masih panjang, Edy mengimbau masyarakat untuk lebih bijak dan berhemat dalam menggunakan air bersih. Langkah penghematan sederhana diharapkan dapat mulai diterapkan secara disiplin dari tingkat rumah tangga.