Kelompok pejuang Palestina, Hamas. (Anadolu Agency)
Serangan Udara Israel Tewaskan Komandan Senior Hamas di Gaza Utara
Muhammad Reyhansyah • 30 September 2026 15:04
Gaza: Serangan udara Israel menewaskan kepala sayap bersenjata Hamas Izz al-Din Al-Beik di Gaza utara, Palestina pada Selasa, 29 September 2026.
Pemerintah Israel mengatakan militernya menargetkan dan membunuh Al-Beik, yang disebut terlibat dalam perencanaan serangan serta perekrutan anggota.
Hamas mengonfirmasi kematian Al-Beik dan menyebutnya sebagai salah satu komandan yang memimpin serangan 7 Oktober 2023 ke Israel.
“Serangan Israel menghantam sebuah gedung apartemen di kawasan Nasr, Kota Gaza, sekitar waktu fajar. Seorang korban lainnya meninggal akibat luka-luka yang dideritanya setelah serangan tersebut,” kata tenaga medis dan pejabat kesehatan, dikutip dari Channel News Asia, Rabu, 30 September 2026.
Pada Selasa, dua serangan udara terpisah juga menghantam kamp pengungsi Jabalia. Salah satunya terjadi di dekat sebuah klinik medis, sementara serangan lainnya mengenai area tenda yang menjadi tempat tinggal keluarga pengungsi.
Tenaga medis mengatakan sedikitnya tiga orang tewas dalam kedua serangan tersebut. Militer Israel mengatakan dua serangan di Jabalia menargetkan militan.
Israel Klaim Tewaskan 20 Tokoh Hamas
Israel, yang menuduh Hamas kembali mempersenjatai diri dan melakukan serangan yang melanggar gencatan senjata Oktober, meningkatkan serangan terhadap kelompok tersebut dalam beberapa pekan terakhir.Militer Israel mengatakan telah menewaskan sedikitnya 20 tokoh Hamas pada September.
Mereka termasuk sejumlah orang yang disebut sebagai komandan senior, terlibat dalam serangan 7 Oktober 2023, atau menahan sandera Israel.
Hamas membantah berupaya melakukan serangan atau membangun kembali persenjataannya. Kelompok tersebut menuduh Israel merusak kesepakatan perdamaian Gaza.
Puluhan Jenazah Dimakamkan di Nuseirat
Pada Selasa, warga Palestina di Kamp Pengungsi Nuseirat, Gaza tengah, juga memakamkan jenazah 41 orang yang baru ditemukan.Mereka tewas dalam serangkaian serangan Israel terhadap rumah-rumah di kawasan tersebut dalam satu hari, sekitar tiga minggu setelah perang dimulai.
Ratusan keluarga dan kerabat berkumpul di ruang terbuka untuk memberikan penghormatan. Jenazah ditempatkan dalam kain kafan putih yang dihiasi bendera Palestina.
“Ada perasaan campur aduk antara lega, kesedihan, dan rasa sakit. Namun, alhamdulillah, api di hati saya sedikit mereda karena suami saya kini memiliki makam yang dapat saya dan anak-anak saya yang yatim kunjungi,” kata Areej Farajallah, yang kehilangan suaminya.
Jenazah tersebut merupakan bagian dari sekitar 800 jenazah yang telah ditemukan tim penggalian dari satu lokasi ke lokasi lainnya di Gaza selama masa gencatan senjata.
“Dengan peralatan yang minim, jenazah mereka berhasil ditemukan setelah berjam-jam bekerja, mengambil apa yang tersisa dari tulang, beberapa tengkorak, dan rambut yang sangat sulit bagi kami untuk mengidentifikasinya,” kata Rami Al-Ayedi dari Layanan Pertahanan Sipil Gaza.
Otoritas Palestina memperkirakan lebih dari 8.000 jenazah masih terkubur di bawah reruntuhan. Bulan lalu, jenazah 112 orang dari satu klan yang sama dimakamkan dalam pemakaman massal terbesar sejauh ini.
Kesepakatan gencatan senjata yang dimediasi AS tahun lalu mencakup rencana rekonstruksi Gaza. Namun, kemajuan masih terbatas karena para negosiator belum mencapai kesepakatan mengenai pelucutan senjata Hamas dan penarikan pasukan Israel.
Serangan udara Israel masih terus berlangsung. Pejabat kesehatan Gaza mengatakan sedikitnya 1.400 warga Palestina tewas sejak gencatan senjata, sementara Israel mengatakan empat tentaranya tewas.
Otoritas Palestina mengatakan lebih dari 74 ribu orang tewas dalam serangan Israel di Gaza yang dimulai setelah pejuang yang dipimpin Hamas menewaskan sekitar 1.200 orang di Israel selatan pada Oktober 2023.
Baca juga: Hamas Tuduh Israel Berupaya Hapus Bukti Kejahatan Genosida di Gaza