Harga Minyak Dunia 'Ngamuk', Brent Tembus USD109/Barel

Ilustrasi harga minyak dunia naik. Foto: Carsurin.com

Harga Minyak Dunia 'Ngamuk', Brent Tembus USD109/Barel

Husen Miftahudin • 17 October 2026 07:53

Houston: Harga minyak mentah dunia melonjak lebih dari tiga persen pada perdagangan Jumat waktu setempat. Kenaikan ini didorong kekhawatiran terhadap gangguan pasokan di Timur Tengah serta ketidakpastian rencana kesepakatan pasokan bahan bakar diesel antara Amerika Serikat (AS) dan Rusia.

Mengutip Investing.com, Sabtu, 17 Oktober 2026, harga minyak mentah Brent berjangka untuk pengiriman Desember naik 3,4 persen menjadi USD109,48 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November menguat 3,3 persen menjadi USD101,17 per barel. Sepanjang pekan ini, harga Brent tercatat naik 4,5 persen, sedangkan WTI melonjak 10,1 persen.

Pergerakan ini dipengaruhi oleh sentimen para pelaku pasar energi yang masih mencermati risiko gangguan distribusi minyak di Timur Tengah. Meski aliran minyak mentah dari kawasan tersebut secara umum telah mendekati tingkat sebelum perang, kekhawatiran pasokan kembali meningkat akibat serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Iran dilaporkan meningkatkan serangan terhadap kapal komersial yang melintasi jalur tersebut dalam beberapa pekan terakhir, di tengah perselisihan dengan AS mengenai kendali atas Selat Hormuz.

Di Yaman, kelompok Houthi yang didukung Iran juga meningkatkan ketegangan melalui serangan terhadap infrastruktur energi dan bandara di Arab Saudi. Pada Kamis, kelompok tersebut turut menargetkan Istana Kepresidenan di Aden, ibu kota sementara pemerintahan Yaman yang diakui secara internasional.

Perkembangan tersebut menambah kekhawatiran terhadap keamanan jalur pelayaran Bab el-Mandeb, yang menjadi salah satu rute penting perdagangan energi global.
 

 

Pelonggaran sanksi kapal minyak


Pelaku pasar juga mengevaluasi laporan mengenai pertimbangan pemerintah AS untuk melonggarkan sanksi terhadap kapal-kapal yang dikenal sebagai shadow fleet. Kapal-kapal tersebut digunakan untuk mengangkut minyak dan produk turunannya dari negara-negara yang dikenai sanksi, termasuk Rusia, Iran, dan Venezuela.

Rencana tersebut bertujuan meningkatkan ketersediaan kapal untuk pengiriman minyak, menekan tarif angkutan global, serta meredakan kenaikan harga bahan bakar. Namun, pelaksanaannya masih belum pasti. Perusahaan analisis perdagangan energi Kpler menilai pelonggaran sanksi tersebut kemungkinan tidak cukup untuk menurunkan tarif pengiriman yang telah mencapai rekor.

Dari sekitar 160 kapal tanker minyak mentah berukuran sangat besar atau very large crude carriers (VLCC) yang dikenai sanksi Kantor Pengawasan Aset Luar Negeri AS (OFAC), hanya 24 kapal yang dinilai berpotensi kembali beroperasi dalam perdagangan utama setelah mempertimbangkan batas usia kapal dan struktur kepemilikannya. Penilaian tersebut disampaikan Kpler pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Selain minyak mentah, pasokan diesel menjadi perhatian pelaku pasar energi. Presiden AS Donald Trump mengumumkan rencana kesepakatan pasokan diesel dengan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk membantu mengatasi kenaikan harga bahan bakar. Rencana tersebut muncul ketika Ukraina menyatakan akan melanjutkan serangan terhadap infrastruktur energi Rusia, meskipun Trump berupaya mendorong tercapainya gencatan senjata di sektor energi antara kedua negara.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, di sisi lain, memperingatkan dampak kesepakatan diesel tersebut terhadap pendanaan perang Rusia. "Kesepakatan diesel ini tidak akan pernah cukup untuk mengimbangi dampak Selat Hormuz terhadap pasar global. Tetapi ini akan memberikan lebih banyak uang langsung ke kantong Putin untuk mendanai perang ini,” ujar Zelenskyy.

Rencana kesepakatan tersebut juga menghadapi penolakan di Washington. Sebanyak 18 anggota Dewan Perwakilan Rakyat AS, yang terdiri atas 17 anggota Partai Demokrat dan satu anggota Partai Republik, mengajukan rancangan undang-undang pada Jumat untuk memblokir kesepakatan tersebut.

Ahli Strategi Energi Macquarie, Walt Chancellor, menilai Rusia secara teknis masih memiliki kemampuan memasok diesel. Namun, peningkatan ekspor akan bergantung pada pemulihan operasi kilang dan perubahan permintaan bahan bakar domestik.

"Sedikit demi sedikit akan membantu, tetapi kami tidak mengharapkan kesepakatan ini akan secara signifikan mengubah situasi mendasar terkait diesel Rusia," kata Chancellor.

Ia menambahkan, volume ekspor yang telah berlangsung serta potensi kepentingan politik Rusia dapat mendukung realisasi pasokan. Meski demikian, peningkatan ekspor secara signifikan masih bergantung pada kapasitas pengolahan minyak dan kondisi permintaan di dalam negeri.


(Ilustrasi pergerakan harga minyak. Foto: dok ICDX)
 

IEA lepas cadangan diesel 20 juta barel


Secara terpisah, Badan Energi Internasional (IEA) pada Kamis menyetujui pelepasan lebih dari 20 juta barel diesel. Lembaga tersebut juga memberi sinyal akan mempercepat pelepasan sisa minyak dari komitmen penggunaan cadangan darurat yang diumumkan pada Maret.

Meski demikian, IEA memperingatkan pasar diesel global berpotensi tetap ketat hingga 2027. Lembaga tersebut juga memproyeksikan permintaan minyak dunia menurun pada tahun ini.

Perkembangan pasokan minyak mentah dan diesel, ketegangan geopolitik, serta ketidakpastian kebijakan perdagangan energi masih menjadi faktor yang dicermati pelaku pasar.

(Husen Miftahudin)