Harga Minyak Dunia Melemah, Brent Dibanderol USD105/Barel

Ilustrasi. Foto: Freepik.

Harga Minyak Dunia Melemah, Brent Dibanderol USD105/Barel

Husen Miftahudin • 16 October 2026 08:19

Houston: Harga minyak dunia melemah tipis pada perdagangan Jumat waktu setempat, di tengah laporan rencana Amerika Serikat (AS) melonggarkan sanksi terhadap kapal tanker minyak dan langkah Badan Energi Internasional (IEA) mempercepat pelepasan cadangan minyak darurat.
 
Namun, penurunan harga minyak tertahan oleh berlanjutnya konflik di Timur Tengah. Iran dilaporkan kembali menyerang kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz, sementara bentrokan yang melibatkan Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman masih berlanjut.
 
Mengutip Investing.com, Jumat, 16 Oktober 2026, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) berjangka turun 0,4 persen menjadi USD97,58 per barel. Meski melemah pada perdagangan pagi, harga WTI diperkirakan mencatat kenaikan 6,2 persen sepanjang pekan ini.
 
Kenaikan tersebut terjadi setelah harga minyak melonjak pada Kamis menyusul data yang menunjukkan penurunan tajam persediaan minyak AS pada pekan sebelumnya. Sementara itu, minyak mentah Brent ditutup pada level USD105,69 per barel pada Kamis dan tercatat menguat 0,9 persen sepanjang pekan ini.
 
Tekanan terhadap harga minyak muncul setelah laporan menyebutkan AS sedang mempertimbangkan pelonggaran sanksi terhadap kapal tanker yang tergabung dalam armada bayangan (shadow fleet). Armada tersebut digunakan untuk mengangkut minyak dan produk turunannya dari negara-negara yang dikenai sanksi, termasuk Rusia, Iran, dan Venezuela.
 
Rencana tersebut bertujuan menurunkan biaya pengangkutan minyak secara global sekaligus meredakan kenaikan harga bahan bakar. Meski demikian, belum ada kepastian apakah kebijakan itu akan direalisasikan. Pekan sebelumnya, AS juga mengumumkan kesepakatan pasokan diesel dalam jumlah besar dengan Rusia untuk membantu menekan kenaikan harga.
 
Di sisi lain, potensi gangguan pasokan dari Rusia masih menjadi perhatian. Ukraina menyatakan akan melanjutkan serangan terhadap infrastruktur energi Rusia di tengah terbatasnya kemajuan dalam upaya mencapai gencatan senjata antara kedua negara.
 



(Ilustrasi pergerakan harga minyak. Foto: dok ICDX)
 

IEA percepat pelepasan cadangan minyak darurat

 
Upaya menekan harga energi juga dilakukan melalui pelepasan cadangan minyak darurat. Pada Kamis, IEA menyetujui pelepasan lebih dari 20 juta barel diesel dan mengisyaratkan percepatan penyaluran sisa minyak dari program pelepasan cadangan darurat yang dijanjikan pada Maret 2026.
 
Langkah tersebut diarahkan untuk meredakan tekanan harga diesel yang melonjak tajam akibat gangguan pasokan dari Rusia dan Timur Tengah. Meski demikian, IEA memperingatkan pasar diesel global berpotensi tetap ketat hingga 2027. Lembaga tersebut juga memperkirakan permintaan minyak global akan menurun sepanjang 2026.
 
Di Timur Tengah, serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz masih berlangsung. Pada saat yang sama, Arab Saudi dan kelompok Houthi di Yaman kembali terlibat dalam aksi saling serang pada pekan ini. Situasi tersebut menambah risiko terhadap kelancaran distribusi minyak global, terutama karena Selat Hormuz merupakan jalur penting bagi perdagangan energi internasional.
 
Meski demikian, IEA mencatat ekspor minyak mentah dari Timur Tengah pada September 2026 telah mencapai sekitar 75 persen dari tingkat sebelum perang. Perkembangan ini menunjukkan adanya pemulihan pasokan dibandingkan periode sebelumnya.
 
Pergerakan harga minyak selanjutnya akan dipengaruhi oleh perkembangan pasokan global, kebijakan AS terhadap armada kapal tanker, pelaksanaan pelepasan cadangan darurat, serta situasi keamanan di kawasan Timur Tengah.

(Husen Miftahudin)