Wakil Ketua MPR RI Lestari Moerdijat (Rerie). Foto- Istimewa
Negara Harus Hadir Lindungi Anak dari Dampak Media Sosial
Achmad Zulfikar Fazli • 7 October 2026 20:03
Jakarta: Negara hingga keluarga tidak boleh mengabaikan dampak media sosial dan kecerdasan buatan (AI) terhadap kesehatan mental generasi muda. Lonjakan gangguan kecemasan di kalangan anak dan remaja di era digital bukan sekadar persoalan individual, sehingga harus menjadi perhatian bersama untuk segera diatasi.
“Situasi saat ini tidak lepas dari terbentuknya budaya baru yang mengubah cara bagaimana remaja saling berhubungan. Ekosistem baru itu membuat para remaja lebih rentan dalam menghadapi tekanan,” ujar Wakil Ketua MPR Lestari Moerdijat dalam sambutannya pada diskusi daring bertema Ancaman Media Sosial dan AI Terhadap Perkembangan Otak dan Lonjakan Kecemasan Berlebihan pada Generasi Muda Indonesia yang digelar Forum Diskusi Denpasar 12 di Jakarta, Rabu, 7 Oktober 2026.
Rerie, sapaan akrab Lestari, mengungkap data yang mengkhawatirkan, dari 34,9 persen remaja usia 10–17 tahun yang berisiko mengalami masalah mental, hanya 2,6 persen mendapatkan penanganan profesional.
Rerie menyoroti anak-anak sudah mengakses gawai 7,5 jam per hari. Bahkan, 40 persen siswa SMP mengakases gawai 3-6 jam per hari.
Paparan algoritma yang tak terkendali, kata Rerie, tidak hanya mengganggu konsentrasi, tetapi juga memicu kecemasan berlebihan.
"Dampak turunan dari terlalu banyak mengonsumsi media sosial dan AI harus menjadi perhatian bersama,” tegas anggota Majelis Tinggi Partai NasDem itu.
Pemerintah telah menerbitkan sejumlah aturan perundangan seperti Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE), Peraturan Menteri Komunikasi dan Digital Nomor 9 Tahun 2026 yang membatasi akses anak di bawah 16 tahun pada platform digital berisiko tinggi, termasuk media sosial.
Rerie menilai langkah tersebut sebagai terobosan penting, namun mengingatkan regulasi saja tidak cukup. Dia menyoroti masih lebarnya ketimpangan antara kecepatan inovasi teknologi dengan kesiapan penegakan hukum dan literasi digital.
Menurut Rerie, negara harus memastikan platform digital bertanggung jawab penuh terhadap dampak yang ditimbulkan produk mereka. Dia juga mendorong sinergi antara keluarga dan para pemangku kepentingan untuk membangun sistem deteksi dini yang terintegrasi.
Rerie mengingatkan AI dan teknologi digital sejatinya adalah alat yang diciptakan manusia untuk mempermudah kehidupan, bukan instrumen yang membelenggu generasi masa depan.
“Manusia mesti menjadi pengguna alat yang diciptakan sendiri. Tugas kita merealisasikan perlindungan konstitusional itu dari ruang virtual yang tak terbatas itu,” ujar Rerie.
Baca Juga :
Perkuat Mitigasi Perundungan dan Bunuh Diri Anak
Founder Layanan Konseling Keluarga & Karir Julianto Simanjuntak mengungkapkan kondisi anak-anak sudah memprihatinkan. Hal itu terlihat dari klien yang datang membutuhkan layanannya semakin meningkat dari 100 klien per tahun sebelum pandemi covid menjadi 5 ribu klien per tahun pascapandemi.
Ternyata pascapandemi covid-19, kata Julianto, orang sudah berani membayar untuk mendapatkan kesehatan mental, relasi, perkawinan, dan keluarga. Akar masalah yang dialami saat ini harus kembali pada keluarga.
Menurut Julianto, sistem keluarga sudah tidak sehat karena kehilangan peran ibu dan bapak di dalamnya, sehingga anak mencari jawaban atas masalah yang dihadapi kepada pihak-pihak lain.
Sementara itu, Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan, Kementerian Kesehatan RI Imran Pambudi berpendapat terjadi pergeseran senyap tentang apa yang ditakuti manusia.
Data WHO menyebutkan, 45 persen orang lebih takut terganggu kesehatan mentalnya dibandingkan terpapar kanker.
Menurut Imran, cara berpikir manusia berubah seiring bertambahnya usia dan dipengaruh beragam faktor. Hasil cek kesehatan gratis (CKG), tambah dia, menunjukkan anak-anak berpotensi lebih tinggi terpapar kecemasan dibandingkan remaja.
Dugaan gangguan mental terhadap remaja, ujar Imran, kerap kali bukan karena bermasalah. Tetapi, karena sedang berkembang, remaja butuh pemahaman dan pendampingan yang tepat dalam proses pertumbuhannya.
"Upaya mewujudkan kesehatan jiwa masyarakat adalah tanggung jawab bersama. Kita harus mampu melahirkan remaja cerdas digital dan sehat jiwanya," ujar Imran.

Ilustrasi ruang digital. Foto- Dok. Antara
Pakar Neuroscience Ahli Otak dan Sistem Saraf dari Universitas Gadjah Mada Ismail Setyopranoto mengungkapkan masa remaja adalah periode neuroplastis dan sensitif terhadap lingkungan. Menurut Ismail, lingkungan digital menjadi bagian dari lingkungan perkembangan otak para remaja.
Saat ini, jelas dia, validasi digital dapat menjadi pemicu mengubah kehidupan sosial dan menjadi sistem evaluasi 24 jam. Sehingga, muncul fenomena FoMO karena popularitas menjadi angka dan muncul saling membandingkan yang memicu kecemasan.
Menurut Ismail, algoritma dan FoMO menyebabkan gangguan tidur yang secara perlahan dapat menyebabkan gangguan fungsi otak yang sifatnya fungsional dan kepekaan berkurang.
Komisioner KPAI, Dian Sasmita berpendapat bahwa kembali kepada keluarga merupakan langkah penting dalam mengupayakan kesehatan mental anggota keluarga.
Sejatinya, ujar Dian, anak-anak membutuhkan perhatian dan waktu dari orang tuanya agar dapat tumbuh secara maksimal. Anak-anak yang berhadapan dengan hukum adalah anak-anak yang kurang kasih sayang.
Dian mengakui regulasi yang ada belum sepenuhnya memberi perlindungan karena masih membutuhkan perbaikan pada pelaksanaannya.
"Butuh penguatan sistem perlindungan anak di ruang digital hingga tataran undang-undang," ujar Dian.
Wartawan senior Saur Hutabarat berpendapat teknologi tidak bisa lagi kita abaikan bahkan harus kita jadikan teman. Kecerdasan buatan adalah co-pilot, tetapi juga teman.
"Bahkan, ketika AI menjawab pertanyaan kita, saat kita menjawab terima kasih, AI menjawab senang membantu Anda," ujar Saur.
Saur mengatakan kalau teknologi sudah bisa berperilaku seperti manusia, Sang Manusia mestinya harus lebih manusiawi lagi.
Artinya, anak-anak tidak bisa lagi harus diperlakukan sebagai teman. "Bahkan, teman yang lebih intim, lebih dalam dibandingkan kita berteman dengan sosmed dan AI," ujar Saur.
Saur menegaskan hubungan yang sekadar di permukaan itu adalah persoalan. Sebab, hubungan dengan AI dan media sosial sudah lebih dalam.
Terpenting, jelas Saur, bukan lamanya bergaul dengan AI, teknologi, dan media sosial, tetapi intensitas yang harus dikalahkan intensitas sebagai manusia.