Petugas gabungan kembali menangkap ikan sapu-sapu di Pintu Air Setu Babakan Jagakarsa, Jakarta Selatan, Selasa (21/4/2026). ANTARA/Luthfia Miranda Putri.
Dilema 'Menyapu' Ikan Sapu-Sapu: Hama Ekosistem juga Sumber Nafkah
Arga Sumantri • 22 April 2026 12:36
Jakarta: Ikan sapu-sapu sedang menjadi 'incaran' untuk diberantas, khususnya di Jakarta. Ikan jenis invasif ini dianggap hama dan ancaman bagi ekosistem sungai.
Namun ternyata, masih ada warga yang menggantungkan hidup dari ikan sapu-sapu, Ajum salah satunya. Warga Jakarta berusia 39 tahun itu biasa memburu ikan sapu-sapu di aliran Sungai Ciliwung kawasan Kalibata, Jakarta Selatan.
Bagi Ajum, sapu-sapu masih menjadi sumber penghidupan yang tak tergantikan. Pendapatan Ajum dan sejumlah nelayan lainnya bergantung pada kondisi air sungai. Ketika debit air stabil, hasil tangkapan bisa cukup menjanjikan. Namun saat banjir datang, penghasilannya bisa ikut terseret arus.
"Kalau air lagi bagus bisa sampai 20–30 kilogram. Tapi kalau banjir ya paling 10 kilo. Kadang kita nahan dulu karena berisiko,” kata Ajum saat ditemui di bantaran Ciliwung, Jakarta, dikutip dari Antara, Rabu, 22 April 2026.
Dalam kondisi normal, Ajum mampu menangkap sekitar 15 kg ikan sapu-sapu per hari. Namun ketika air meningkat dan arus menjadi lebih deras, hasil tangkapan turun signifikan.
Harga ikan sapu-sapu saat ini berkisar Rp15 ribu- Rp18 ribu per kilogram. Meski terlihat menjanjikan, pendapatan nelayan tetap tidak menentu. "Kalau lagi boncos, ya, cuma buat ongkos jalan saja. Sehari bisa habis Rp100 ribu sampai Rp150 ribu," kata dia.
Pekerjaan itu bukan tanpa risiko. Arus deras, kayu hanyut, hingga kondisi tubuh yang harus selalu prima menjadi tantangan sehari-hari. Namun, di balik risiko itu, ada kebutuhan hidup yang harus dipenuhi.
Ikan hasil tangkapan kemudian dijual ke pengepul untuk diolah menjadi berbagai produk makanan seperti cilok, nugget, otak-otak, dan kerupuk. Pada titik inilah dilema muncul.
Satu sisi, ikan sapu-sapu dinilai merusak ekosistem. Ikan ini disebut bisa merusak tanggul dan memakan ikan lain beserta telurnya, sehingga keberadaannya dianggap mengganggu keseimbangan ekosistem. Namun di sisi lain, keberadaan ikan tersebut justru menjadi penopang ekonomi bagi sebagian warga.
Ajum pun menyadari posisi yang serba salah itu. Ia tidak menolak upaya pembersihan, tetapi juga melihat bahwa pemberantasan total bukan hal yang mudah.
"Memang bagus dibersihkan karena hama. Tapi enggak bakal bisa habis. Yang sudah biasa cari saja enggak bisa bersihin semuanya," kata dia.
Menurut dia, ikan sapu-sapu memiliki kemampuan berkembang biak yang sangat cepat. Dalam sekali bertelur, satu induk bisa menghasilkan hingga ratusan bahkan ribuan anak.
Hal itu membuat populasi ikan sapu-sapu tetap bertahan meski terus ditangkap dalam jumlah besar. Ajum bahkan mengibaratkan upaya pemberantasannya seperti mengendalikan nyamuk.
Meski demikian, ia tetap melihat pentingnya menjaga kebersihan sungai. Menurut dia, ikan sapu-sapu yang mati dan tidak diambil justru dapat mencemari air.
"Yang penting jaga lingkungan tetap bersih, tapi ikan ini juga ada manfaat ekonominya," kata dia.

Penanganan ikan sapu-sapu di Jakarta. Antara.
Penanganan ikan sapu-sapu
Pandangan serupa datang dari pegiat lingkungan Arief Kamarudin. Ia menilai langkah pemerintah membersihkan ikan sapu-sapu merupakan tindakan yang positif untuk menjaga keseimbangan ekosistem."Gerakan yang dilakukan pemerintah itu sangat bagus dan positif. Itu membuktikan kepedulian terhadap ekosistem, dan saya sangat mendukung,” kata Arief.
Ia menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu termasuk spesies invasif yang dapat mengganggu keseimbangan lingkungan perairan jika tidak dikendalikan. "Bukan hanya sapu-sapu, semua yang bersifat invasif di suatu ekosistem pasti akan mengganggu keseimbangan," ujarnya.
Namun Arief juga mengingatkan bahwa persoalan lingkungan tidak bisa disederhanakan hanya pada satu faktor. Selain ikan invasif, sungai di Jakarta juga menghadapi masalah sampah dan limbah.
"Masalahnya bukan cuma satu. Ada sampah, limbah, dan ikan invasif. Semua itu harus dibereskan satu per satu," ujar Arief.
Menurut dia, langkah pembersihan ikan sapu-sapu tetap penting meski persoalan sampah belum sepenuhnya terselesaikan. Ia juga menekankan pentingnya edukasi masyarakat sebagai solusi jangka panjang, terutama dalam mengatasi persoalan sampah yang terus berulang.
"Kalau sampah, itu harus dari dasarnya. Kita butuh edukasi karena yang buang sampah adalah manusia. Kalau tidak diubah, akan terus berulang,” kata Arief.
Di tengah berbagai upaya tersebut, Sungai Ciliwung tetap menjadi ruang hidup bagi banyak orang. Bagi Ajum, setiap arus yang mengalir membawa harapan sekaligus ketidakpastian.
Di satu sisi, ada dorongan untuk membersihkan sungai demi lingkungan yang lebih baik. Di sisi lain, ada kehidupan yang bergantung pada ikan yang ingin dihilangkan itu.
Dilema ini menggambarkan satu kenyataan sederhana yakni persoalan lingkungan dan ekonomi kerap berjalan beriringan, saling bersinggungan, dan tidak selalu memiliki jawaban yang mudah. Di antara arus Ciliwung, ikan sapu-sapu bukan sekadar hama, melainkan jadi bagian dari cerita tentang bertahan hidup.
Evaluasi pemerintah
Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta akan mengevaluasi penanganan ikan sapu-sapu di wilayah ibu kota agar tak menyalahi prinsip kesejahteraan hewan. Adapun tindak lanjut hasil penangkapan yakni ikan dimatikan dan dikubur secara higienis di lokasi yang telah ditentukan. Langkah ini dilakukan agar ikan tidak kembali ke perairan, tidak diperjualbelikan, serta dapat dimanfaatkan sebagai kompos alami.Wakil Gubernur DKI Rano Karno mengusulkan pada jajarannya untuk menangani ikan sapu-sapu seperti di Brasil, yakni mengolahnya menjadi arang. Pemprov DKI mengingatkan masyarakat agar jangan menggunakan ikan sapu-sapu menjadi bahan makanan karena risiko gangguan kesehatan yang ditimbulkannya karena residu logam berat seperti timbal (Pb) berada di atas ambang batas yang ditetapkan pemerintah yaitu di atas 0,3 mg/kg.
Sementara itu, Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) mengingatkan bahwa penguburan massal ikan sapu-sapu dalam keadaan masih hidup menyalahi prinsip kesejahteraan hewan. MUI berpendapat, kebijakan Pemprov DKI Jakarta dalam mengendalikan ikan sapu-sapu adalah hal baik karena hewan tersebut dapat merusak ekosistem sungai dan mengancam ikan lokal.
Menanggapi itu, Pemerintah Kota Administrasi Jakarta Selatan menyatakan komitmen proses penanganan ikan sapu-sapu dilakukan sesuai rekomendasi dari MUI terkait tata cara penguburan.
Pemda memastikan, sebelum ikan dikubur, seluruh ikan dipastikan dalam kondisi mati. Suatu kebijakan memang semestinya begitu, mendengar masukan dari berbagai pihak, terutama pihak terkait, agar pada pelaksanaannya tidak menimbulkan masalah baru.