Suasana verifikasi berkas SPMB di SMPN 2 Pecaangaan beberapa waktu lalu. Metrotvnews.com/ Rhobi Shani
SPMB 2026, 5 SMP Negeri di Jepara Kekurangan Murid
Rhobi Shani • 28 June 2026 16:51
Jepara: Sebanyak lima Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah masih kekurangan siswa setelah pelaksanaan Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026. Hasil seleksi diumumkan Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga (Disdikpora) Kabupaten Jepara pada Jumat, 26 Juni 2026 melalui laman https://spmb.jepara.go.id.
Berdasarkan hasil pendaftaran yang berlangsung sejak Senin, 22 Juni 2026, masih terdapat lima SMP Negeri yang belum memenuhi kuota penerimaan peserta didik baru hingga masa pendaftaran ditutup.
Kepala Bidang SMP Disdikpora Kabupaten Jepara, Hening Indrati, mengatakan sekolah yang jumlah pendaftarnya belum memenuhi kuota yakni SMPN 2 Batealit, SMPN 2 Karimunjawa, SMPN 2 Kedung, SMPN 2 Keling, dan SMPN 4 Kembang.
Kemudian di SMPN 2 Kedung, jumlah pendaftar mencapai 77 siswa dari daya tampung 96 siswa atau masih kurang 19 siswa. Adapun SMPN 2 Keling baru memperoleh 53 pendaftar dari kuota 64 siswa sehingga masih membutuhkan 11 siswa lagi.
Sementara itu, SMPN 4 Kembang baru menerima 27 pendaftar dari daya tampung 32 siswa atau masih kekurangan lima siswa.
"Jumlah itu sudah merupakan pendaftar jalur domisili, afirmasi, prestasi, maupun mutasi," kata Hening, Minggu, 28 Juni 2026.
.jpg)
Ilustrasi. (medcom.id)
Hening menambahkan, sekolah yang belum memenuhi kuota dapat membuka perpanjangan pendaftaran secara offline sesuai petunjuk teknis (juknis) SPMB Tahun 2026. Perpanjangan pendaftaran dilaksanakan setelah tahapan daftar ulang pada 29–30 Juni, yakni selama dua hari pada 1–2 Juli mendatang.
"Sesuai juknis ada perpanjangan bagi sekolah yang belum memenuhi kuota pada 1-2 Juli mendatang," imbuh Hening.
Menurut Hening, sekolah-sekolah yang belum memenuhi kuota umumnya berada di wilayah pinggiran maupun kepulauan. Salah satunya adalah SMPN 2 Karimunjawa yang berlokasi di Pulau Parang, Kecamatan Karimunjawa. Sekolah tersebut diperkirakan sulit memenuhi kuota karena calon peserta didiknya hanya berasal dari Pulau Parang yang jumlahnya terbatas.