Rayakan Maulid, Ini 3 Amalan yang Dianjurkan dalam Islam

Ilustrasi: Freepik

Rayakan Maulid, Ini 3 Amalan yang Dianjurkan dalam Islam

Riza Aslam Khaeron • 25 August 2026 21:08

Jakarta: Umat Islam di Indonesia pada hari ini, Selasa, 25 Agustus 2026, memperingati Maulid Nabi Muhammad saw. 1448 Hijriah. Pemerintah juga menetapkan tanggal ini sebagai hari libur nasional.

Namun, peringatan Maulid pada dasarnya tidak terbatas pada satu hari saja. Seluruh bulan Rabiul Awal, yang dikenal sebagai bulan kelahiran Rasulullah saw., merupakan momentum istimewa yang dianjurkan untuk diisi dengan berbagai amalan kebajikan.

Mengutip laman resmi Muhammadiyah, Syekh Abdul Hamid bin Muhammad Ali Quddus al-Makki (wafat 1335 H) dalam kitab Kanzun Najah wa as-Surur menjelaskan sejumlah amalan yang dianjurkan selama bulan Rabiul Awal, di antaranya memperbanyak puasa dan membaca selawat kepada Nabi Muhammad saw..

Merujuk pada penjelasan tersebut, berikut tiga amalan utama yang dapat diperbanyak oleh umat Islam selama bulan Maulid beserta dalil pendukungnya:
 

1. Memperbanyak Bacaan Selawat

Amalan pertama yang sangat dianjurkan adalah memperbanyak bacaan selawat kepada Nabi Muhammad saw.. Selawat merupakan bentuk doa, penghormatan, sekaligus ungkapan kecintaan seorang Muslim kepada Rasulullah saw..

Perintah untuk berselawat ini tercantum secara langsung dalam Alquran:



Artinya: "Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya." (QS. Al-Ahzab: 56)

Keutamaan membaca selawat juga dijelaskan dalam riwayat hadis. Rasulullah saw. bersabda:



Artinya: "Barang siapa berselawat kepadaku sekali, maka Allah akan berselawat kepadanya sepuluh kali kebaikan, dihapuskan darinya sepuluh kesalahan, dan diangkat baginya sepuluh derajat." (HR. Ahmad)
 

2. Melaksanakan Puasa Sunah

Selain membaca selawat, melaksanakan puasa sunah menjadi amalan berikutnya yang dianjurkan sepanjang bulan Rabiul Awal. Landasan amalan ini merujuk pada kebiasaan Rasulullah saw. yang rutin berpuasa pada hari Senin, yaitu hari kelahiran beliau.

Ketika ditanya mengenai alasannya berpuasa pada hari Senin, Rasulullah saw. menjawab:



Artinya: "Nabi SAW ditanya mengenai puasa hari Senin. Beliau menjawab: Itu adalah hari aku dilahirkan, pada hari itu aku diutus, dan pada hari itu aku mendapatkan wahyu." (HR. Muslim)
   

3. Memperingati Maulid Nabi SAW

Amalan selanjutnya adalah menyelenggarakan perayaan atau peringatan kelahiran Nabi Muhammad saw. itu sendiri. Peringatan Maulid menjadi salah satu bentuk ekspresi kegembiraan, kecintaan, dan pengagungan umat Islam terhadap sosok Rasulullah saw..

Syekh Jalaluddin as-Suyuthi (wafat 911 H) menuturkan bahwa rangkaian kegiatan dalam peringatan Maulid tersebut termasuk bid'ah hasanah (inovasi yang baik). Pelakunya dinilai mendapatkan pahala karena di dalamnya terdapat unsur penghormatan terhadap kedudukan Rasulullah saw. serta syiar kegembiraan atas kelahiran beliau:



Artinya: "Sesungguhnya bentuk dasar peringatan Maulid Nabi adalah berkumpulnya orang-orang, membaca ayat-ayat Alquran yang mudah dibaca, meriwayatkan berbagai kisah tentang awal perjalanan Nabi SAW serta tanda-tanda yang terjadi pada saat kelahiran beliau. Setelahnya, dihidangkan makanan untuk disantap bersama. Kemudian mereka pulang tanpa menambahkan kegiatan lain di luar hal tersebut. Bentuk peringatan semacam ini termasuk bid'ah hasanah yang pelakunya memperoleh pahala karena di dalamnya terdapat pengagungan terhadap kedudukan Nabi SAW serta ungkapan kegembiraan dan rasa bahagia atas kelahiran beliau yang mulia." (Husnul Maqshud fil 'Amalil Maulid, hlm. 41)

Dengan demikian, peringatan Maulid Nabi tidak sekadar menjadi seremonial sejarah semata. Ketika diisi dengan pembacaan Alquran, penderasan selawat, sedekah, serta pengkajian sirah nabawiyah, momentum ini menjadi sarana efektif untuk menumbuhkan rasa cinta kepada Rasulullah saw. sekaligus mensyukuri nikmat Allah Swt. atas diutusnya Nabi Muhammad saw..

(Riza Aslam Khaeron)