Sedikitnya 57 orang ditahan setelah bentrokan demonstran dan aparat keamanan di Bolivia. (Anadolu Agency)
Krisis Ekonomi Bolivia Picu Aksi Protes Besar di La Paz, 57 Demonstran Ditangkap
Dimas Chairullah • 17 May 2026 14:55
La Paz: Otoritas berwenang Bolivia melaporkan bahwa sedikitnya 57 orang telah ditahan menyusul bentrokan sengit antara demonstran anti-pemerintah dan pasukan keamanan pada hari Sabtu waktu setempat.
Gelombang unjuk rasa ini meledak sebagai bentuk kemarahan dan keresahan publik atas krisis ekonomi akut yang tengah melilit negara Amerika Selatan tersebut.
Berdasarkan sejumlah laporan media, massa yang terdiri dari para penambang, kelompok masyarakat adat, guru, mahasiswa, hingga serikat pekerja tumpah ruah mengepung ibu kota administratif La Paz.
Mereka melumpuhkan aktivitas kota dengan mendirikan barikade jalan dan terlibat konfrontasi fisik dengan aparat kepolisian, sebagaimana dikutip dari laporan kantor berita Anadolu, Minggu, 17 Mei 2026.
Situasi di lapangan kian memanas ketika pasukan keamanan menembakkan gas air mata untuk membubarkan kerumunan massa. Para pengunjuk rasa memberikan perlawanan sengit dengan melemparkan batu dan bom molotov ke arah aparat. Tragisnya, pemerintah setempat mengonfirmasi bahwa tiga orang dilaporkan tewas akibat aksi pemblokiran jalan yang menghambat akses darurat menuju rumah sakit.
Merespons eskalasi kerusuhan, Juru bicara pemerintah Bolivia, Jose Luis Galvez, menegaskan bahwa negara tidak tinggal diam. Pasukan gabungan berkekuatan 3.500 personel yang terdiri dari aparat kepolisian dan militer telah dikerahkan dalam sebuah operasi skala besar untuk membongkar paksa barikade-barikade tersebut.
Gejolak Politik dan Ekonomi Bolivia
Galvez menjelaskan bahwa operasi keamanan yang masih terus berlangsung ini bertujuan vital untuk memulihkan kelancaran distribusi logistik makanan, perlengkapan medis, serta pasokan oksigen menuju rumah sakit.Aksi demonstrasi besar-besaran ini sejatinya merupakan puncak dari rasa frustrasi warga yang telah berdemonstrasi selama berminggu-minggu. Rakyat Bolivia menuntut pertanggungjawaban pemerintah atas terjadinya kelangkaan bahan bakar, lonjakan inflasi yang tak terkendali, krisis mata uang dolar AS, serta kondisi perekonomian nasional yang terus memburuk.
Menyikapi gejolak politik dan ekonomi di Bolivia, sejumlah negara sahabat di kawasan Amerika Latin langsung mengambil sikap. Paraguay, Argentina, Cile, Peru, Ekuador, Kosta Rika, Panama, dan Honduras merilis pernyataan bersama yang menyuarakan keprihatinan mendalam atas situasi tersebut.
Blok negara-negara tersebut dengan tegas menyampaikan dukungan serta solidaritasnya kepada pemerintahan Presiden Rodrigo Paz Pereira, dan menolak keras segala bentuk tindakan kekerasan yang bertujuan menggoyahkan tatanan demokrasi di Bolivia.
Baca juga: Pengadilan Bolivia Kembali Terbitkan Surat Penangkapan Eks Presiden Evo Morales