Danantara Perkuat Industri Pengolahan Mineral demi Kuasai Rantai Pasok Global

CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani. Foto: BPMI Setpres.

Danantara Perkuat Industri Pengolahan Mineral demi Kuasai Rantai Pasok Global

Husen Miftahudin • 15 July 2026 14:45

Jakarta: Danantara Indonesia mendorong percepatan penguatan industri pengolahan mineral agar Indonesia tidak hanya menjadi pemasok bahan mentah, tetapi mampu menguasai rantai pasok global melalui pengembangan industri material maju.

CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani menilai Indonesia perlu meningkatkan posisi dalam rantai nilai industri dengan mengoptimalkan potensi sumber daya mineral yang dimiliki. Selama ini, menurut dia, nilai tambah kekayaan mineral nasional masih lebih banyak dinikmati negara lain karena pengolahan di dalam negeri masih terbatas pada tahap ekstraksi.

"Sudah saatnya Indonesia naik kelas dalam rantai nilai material maju," kata Rosan saat membuka Danantara's Advanced Materials Industry Dialogue: From Minerals to Manufacturing yang berlangsung di Wisma Danantara Indonesia seperti dikutip dari keterangan tertulis, Rabu, 15 Juli 2026.

Dalam sambutannya, Rosan mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk membangun kemandirian industri nasional melalui pengembangan rantai pasok material maju.

Menurut dia, Indonesia memiliki kekayaan sumber daya mineral yang berlimpah, mulai dari nikel, bauksit, tembaga, timah, hingga rare earth yang menjadi bahan baku berbagai teknologi masa depan.

"Indonesia diberkahi dengan kekayaan mineral yang luar biasa, mulai dari nikel, bauksit, tembaga, timah, hingga rare earth. Bahan-bahan ini menjadi fondasi teknologi masa depan, seperti baterai kendaraan listrik, semikonduktor, pertahanan, dan energi bersih," tutur dia.

"Namun, selama puluhan tahun kita terlalu sering berhenti di titik ekstraksi: mengekspor bahan mentah, lalu membeli kembali produk jadinya dengan harga yang berkali-kali lipat," sambung Rosan.
 

 

4 BUMN teken Nota Kesepahaman hilirisasi mineral kritis


Pada kesempatan yang sama, dilakukan penandatanganan nota kesepahaman pengembangan material maju (critical minerals downstreaming) antara PT Mineral Industri Indonesia (Persero), PT LEN Industri (Persero), PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, dan PT Perminas (Persero).

Kerja sama tersebut bertujuan mengoptimalkan rantai pasok (supply-offtake) mineral kritis dan material maju untuk memenuhi kebutuhan industri strategis nasional.

Selain itu, kolaborasi ini diarahkan untuk mempercepat pembangunan industri material maju berskala besar melalui pengembangan teknologi bersama serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang memiliki nilai tambah tinggi.

Pengembangan industri tersebut mencakup berbagai sektor strategis, antara lain kendaraan listrik, dirgantara, maritim, komponen dasar, pertahanan, hingga ketenagalistrikan.


(Empat BUMN teken Nota Kesepahaman hilirisasi mineral kritis. Foto: dok Danantara)
 

Transformasi industri menuju ekonomi berbasis teknologi


Chief Technology Officer Danantara Indonesia Sigit P. Santosa mengatakan pengembangan industri material maju pada segmen middle stream perlu menjadi bagian dari transformasi industri nasional menuju ekonomi berbasis teknologi dan manufaktur bernilai tambah tinggi.

Menurut dia, Indonesia memiliki peluang untuk memenuhi permintaan regional sekaligus membangun kapabilitas teknologi agar mampu bersaing di pasar global secara berkelanjutan.

"Kekuatan Indonesia tidak hanya terletak pada ketersediaan mineral, tetapi pada kemampuan kita mengubahnya menjadi ekosistem industri material maju yang menopang baterai, energi bersih, pertahanan, transportasi, dan berbagai teknologi strategis masa depan. Nikel tetap menjadi salah satu keunggulan penting, namun agenda besarnya adalah membangun kapasitas industri yang lebih luas, bernilai tambah tinggi, dan kompetitif secara global," tutur Sigit.

Ia menambahkan, pengembangan industri material maju perlu dilakukan secara terintegrasi agar mampu memperkuat daya saing industri nasional di masa mendatang.
 

(Husen Miftahudin)