Dirjen Bina Adwil Kemendagri, Safrizal ZA. Foto: Istimewa.
Pembangunan Aceh Harus Selaras Bersama Alam
Anggi Tondi Martaon • 11 May 2026 17:34
Banda Aceh: Direktur Jenderal Bina Administrasi Kewilayahan Kemendagri, Safrizal ZA, menegaskan bahwa pembangunan Aceh harus tumbuh bersama alam, bukan menaklukan alam. Pesan itu disampaikan dalam lokakarya Growth with Nature yang berlangsung di The Pade Hotel, Banda Aceh, Senin, 11 Mei 2026.
Safrizal menegaskan bahwa paradigma Growth with Nature harus menjadi arah pembangunan baru Aceh. Kawasan Ekosistem Leuser disebut sebagai modal ekologis dunia dengan valuasi jasa lingkungan lebih dari USD600 juta per tahun.
Menurut dia, menjaga hutan bukanlah beban pembangunan. "Melainkan investasi jangka panjang bagi ketahanan ekonomi dan keselamatan masyarakat," kata Safrizal melalui keterangan tertulis, Senin, 11 Mei 2026.
Baca Juga :
71 Lokasi Huntap di Aceh Siap Dibangun
Safrizal menekankan bahwa pranata adat seperti Mukim, Panglima Laot, Panglima Uteun, dan Keujruen Blang adalah bukti bahwa masyarakat Aceh telah mengenal prinsip keberlanjutan jauh sebelum istilah sustainability populer secara global.
Sebagai tindak lanjut, ia menekankan perlunya langkah konkret yang mencakup penguatan tata ruang berbasis mitigasi bencana dan regulasi kawasan lindung, pengembangan proyek percontohan solusi berbasis alam serta penguatan masyarakat adat, serta pengembangan skema pembiayaan hijau dan kolaborasi lintas wilayah.
.jpeg)
Dirjen Bina Adwil Kemendagri, Safrizal ZA. Foto: Istimewa.
“Tidak cukup sama-sama bekerja, tetapi harus bekerja sama,” ujar Safrizal.
Safrizal menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor dan lintas wilayah untuk mewujudkan pembangunan yang tangguh, hijau, dan inklusif.
Lokakarya ini diharapkan menjadi fondasi bagi arah pembangunan Aceh yang lebih berkelanjutan, dengan kombinasi ilmu pengetahuan modern, tata kelola pemerintahan yang baik, dan kearifan lokal masyarakat.