Sejumlah pesawat militer AS yang terlibat Operation Epic Fury terbang di Laut Arab. (US CENTCOM/Handout)
Tiga Tentara AS Tewas dan Lima Terluka dalam Serangan Balasan Iran
Willy Haryono • 2 March 2026 07:09
Washington: Tiga tentara Amerika Serikat tewas dan lima lainnya mengalami luka serius dalam serangan balasan Iran atas operasi militer gabungan AS dan Israel, lapor Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM).
Kematian tersebut menjadi korban jiwa pertama dari pihak militer AS sejak Presiden Donald Trump mengumumkan dimulainya “operasi tempur besar” bertajuk Epic Fury terhadap Iran pada Sabtu lalu.
Dikutip dari Politico, Senin, 2 Maret 2026, CENTCOM mengatakan sejumlah tentara lainnya mengalami luka ringan akibat serpihan ledakan dan gegar otak, meski lokasi pasti insiden tidak diungkapkan.
Serangan balasan Iran sebelumnya menargetkan sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan, termasuk di Bahrain, Irak, dan Kuwait.
Kematian tentara AS diperkirakan akan meningkatkan tekanan terhadap Gedung Putih dan Pentagon untuk memberikan respons militer yang lebih kuat. Perkembangan ini juga menandai perubahan signifikan dari konflik terbatas menjadi konfrontasi yang berpotensi lebih luas.
Trump mengatakan korban jiwa merupakan risiko yang telah diperkirakan. “Ada tiga korban, dan kami memang memperkirakan akan ada korban,” kata Trump dalam wawancara dengan NBC News.
“Namun pada akhirnya ini akan menjadi sesuatu yang baik bagi dunia,” ujarnya.
Serangan Balasan Iran
Seorang pejabat AS mengatakan Iran telah meluncurkan ratusan rudal balistik dan drone ke pasukan Amerika Serikat di kawasan, meski sebagian besar berhasil dicegat.Iran mengatakan serangan tersebut menargetkan sejumlah fasilitas militer AS, meliputi Pangkalan Udara Al Udeid di Qatar, Pangkalan Udara Ali Al Salem di Kuwait, Pangkalan Udara Al Dhafra di Uni Emirat Arab, Pangkalan Angkatan Laut AS di Bahrain, dan Pangkalan di Yordania dan Irak.
Iran juga telah meluncurkan serangan rudal ke wilayah Israel.
Kritik Politik di Dalam Negeri AS
Kematian tentara AS telah memicu kritik dari kalangan politik domestik. Senator Andy Kim dari Partai Demokrat mengatakan pemerintah bertanggung jawab atas risiko tersebut.Ia menilai keputusan militer yang diambil Trump telah menempatkan pasukan Amerika dalam bahaya.
“Dia mencoba mengelak seolah-olah ‘oh, kita kan sedang berperang, dan sungguh mengerikan jika ada anggota militer terbunuh,’” tutur Kim.
“Tapi dia telah memilih semua ini. Dia menempatkan (pasukan AS) dalam bahaya. Mereka tidak seharusnya tewas," pungkasnya.
Baca juga: Korban Tewas Serangan AS-Israel di Sekolah Khusus Perempuan Iran Jadi 85 Orang