KA Sangkuriang. (Naufal Farras/Wikimedia Commons)
7 Kereta dengan Nama Unik dari Tokoh Wayang dan Legenda di Indonesia
Riza Aslam Khaeron • 22 September 2026 15:04
Jakarta: Hari Kereta Api Nasional akan kembali diperingati pada Senin, 28 September 2026 mendatang, sekaligus menandai HUT ke-81 PT Kereta Api Indonesia (Persero).
Jejak budaya dalam dunia perkeretaapian Indonesia tidak hanya tercermin dari arsitektur stasiun atau jalur bersejarahnya. Nama-nama kereta api yang beroperasi pun banyak mengadaptasi warisan cerita yang telah melekat di masyarakat sejak lama, mulai dari tokoh pewayangan hingga legenda daerah.
Berikut adalah sejumlah nama unik kereta api yang diangkat dari tokoh wayang dan legenda Nusantara:
1. KA Sangkuriang
Sangkuriang merupakan tokoh utama dalam legenda Sunda yang sangat tersohor dan erat kaitannya dengan asal-usul terbentuknya Gunung Tangkuban Parahu.Kisah ini menceritakan dinamika antara Sangkuriang, Dayang Sumbi, serta bentang alam di kawasan Bandung. Sangkuriang lahir dari perkawinan Dayang Sumbi, seorang putri kerajaan Sunda, dengan seekor anjing bernama Si Tumang.
Suatu ketika, Sangkuriang tanpa disadari membunuh ayahnya sendiri dan menyerahkan hatinya kepada sang ibu untuk dijadikan santapan. Dayang Sumbi yang hancur hatinya setelah mengetahui kebenaran tersebut kemudian mengusir Sangkuriang dari rumah.
Bertahun-tahun berlalu, Sangkuriang tumbuh menjadi pemuda yang tampan dan gagah. Ia kembali bertemu dengan Dayang Sumbi. Karena tidak saling mengenali identitas masing-masing, keduanya sempat menjalin hubungan asmara.
Namun, setelah Dayang Sumbi menyadari bahwa pemuda tersebut adalah putra kandungnya, ia berusaha menolak pinangan Sangkuriang. Karena Sangkuriang tetap bersikeras, Dayang Sumbi memberikan syarat yang sangat berat: membuatkan danau dan perahu besar dalam waktu semalam dengan membendung aliran Sungai Citarum.
Sangkuriang akhirnya gagal menyelesaikan tugas tersebut akibat siasat cerdik Dayang Sumbi. Merasa murka atas kegagalannya, Sangkuriang menendang perahu buatannya hingga terbalik dan berubah menjadi Gunung Tangkuban Parahu.
Kisah yang ditulis diatas merupakan versi yang sangat disederhanakan oleh penulis, namun singkat kata, kisah rakyat tersebut terbilang cukup kreatif. Nama legenda populer ini diabadikan pada KA Sangkuriang yang diluncurkan KAI pada tahun 2026 sebagai salah satu layanan jarak jauh untuk memperkuat konektivitas dari Jawa Barat hingga ke ujung timur Pulau Jawa.
2. KA Batara Kresna
Kresna merupakan tokoh sakti berkulit gelap/biru yang memegang peranan kunci dalam wiracarita Mahabharata serta tradisi pewayangan Jawa. Dalam pewayangan purwa, ia dikenal sebagai Raja Dwarawati, saudara dari Baladewa dan Subadra, sekaligus penjelmaan dari Batara Wisnu.KA Batara Kresna resmi diluncurkan oleh Menteri Perhubungan Ignasius Jonan pada 11 Maret 2015 untuk melayani rute Purwosari–Solo Kota–Sukoharjo–Wonogiri.
Mengutip Antara, Wali Kota Surakarta saat itu, FX Hadi Rudyatmo, menjelaskan bahwa nama Kresna dipilih karena sang tokoh memiliki senjata cakra (Kalacakra) yang melambangkan kedamaian.
Harapannya, kehadiran kereta ini mampu membawa kebaikan, ketenteraman, dan kesejahteraan bagi masyarakat. Hingga tahun 2026, KA Batara Kresna masih setia melayani perlintasan Purwosari–Wonogiri.
3. KA Kamandaka
Nama Kamandaka diangkat dari sosok Raden Kamandaka, tokoh legendaris yang sangat lekat dengan identitas budaya masyarakat Banyumas.Dalam kitab Babad Pasirluhur, Kamandaka juga dikenal dengan nama Raden Banyak Catra. Cerita rakyat Banyumas mengisahkan kepindahannya dari lingkungan Kerajaan Pajajaran menuju wilayah Pasirluhur, termasuk pengembaraannya dalam mencari Dewi Ciptarasa. Jejak tradisi Kamandaka bahkan masih diabadikan pada sejumlah nama tempat di Banyumas hingga saat ini.
KAI mengabadikan nama cerita rakyat ini pada KA Kamandaka yang resmi meluncur pada 17 Februari 2014. Pada awal pengoperasiannya, kereta ini melayani koridor Purwokerto–Tegal–Semarang PP.
Layanan KA Kamandaka sempat dihentikan ketika rutenya dilebur ke dalam jaringan KA Joglosemarkerto pada akhir 2018. Namun, tingginya permintaan masyarakat Banyumas yang menganggap nama tersebut sebagai identitas lokal mendorong KAI untuk mengoperasikan kembali KA Kamandaka sejak 1 Februari 2019.

KA Batara Kresna. (Hamzz P/Wikimedia Commons)
4. KA Sri Tanjung
Penamaan KA Sri Tanjung berakar dari kisah legenda yang melatarbelakangi asal-usul nama Kabupaten Banyuwangi.Mengutip situs resmi Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Sri Tanjung adalah sosok istri dari Patih Sidopekso. Ia menjadi korban fitnah seorang raja yang membuat Sidopekso menuduhnya tidak setia. Sebelum dieksekusi oleh suaminya sendiri, Sri Tanjung berpesan bahwa jika ia tidak bersalah, darah dan air tempat jasadnya dibuang akan memancarkan aroma harum.
Setelah Sri Tanjung tewas dan jasadnya dibuang ke sungai, air di tempat tersebut mendadak menjadi jernih dan berbau wangi. Sidopekso yang menyesali perbuatannya kemudian berteriak "banyu wangi" (air harum). Peristiwa dalam legenda inilah yang diyakini menjadi cikal bakal nama Banyuwangi.
Nama Sri Tanjung kemudian diabadikan pada KA Sri Tanjung, menciptakan keterikatan historis yang kuat dengan wilayah operasionalnya. Kereta ini menghubungkan Stasiun Lempuyangan (Yogyakarta) hingga Stasiun Ketapang (Banyuwangi).
5. KA Aji Saka
Aji Saka merupakan tokoh legendaris Jawa yang sangat tersohor, terutama karena perannya dalam kisah terciptanya aksara Jawa (Hanacaraka).Legenda menceritakan kedatangan Aji Saka ke Tanah Jawa bersama dua pengikut setianya, Dora dan Sembada. Setelah berhasil mengalahkan raja zalim Dewata Cengkar, Aji Saka mengutus Dora untuk mengambil pusaka yang sebelumnya dititipkan kepada Sembada.
Karena kedua pengikut tersebut sama-sama teguh memegang amanat tuannya, pertikaian tak terhindarkan hingga keduanya tewas bersama. Peristiwa tragis ini kemudian diabadikan dalam bait susunan aksara Hanacaraka.
KAI menggunakan nama tokoh ini untuk KA Ajisaka yang mulai beroperasi pada 1 Februari 2014 melayani relasi Lempuyangan–Kutoarjo. Namun, masa operasional KA Ajisaka tergolong singkat; layanannya dihentikan pada 10 Juli 2014, sekitar lima bulan sejak diluncurkan, karena tingkat keterisian penumpang yang rendah.
6. KA Jatayu
Jatayu merupakan tokoh berbentuk burung garuda dalam wiracarita Ramayana yang juga sangat populer dalam tradisi pewayangan Jawa. Ia dikisahkan sebagai sosok pemberani yang berusaha menyelamatkan Dewi Sinta saat diculik oleh Rahwana.Dalam pertempuran di udara, Jatayu gugur setelah sayapnya ditebas oleh Rahwana. Namun, sebelum mengembuskan napas terakhir, ia masih sempat menyampaikan pesan kepada Rama mengenai nasib Dewi Sinta.
Nama Jatayu pernah diabadikan sebagai layanan kereta api kelas eksekutif yang menghubungkan Surabaya dan Malang pada akhir tahun 1990-an.
KA Jatayu memanfaatkan rangkaian kereta yang sedang tidak berdinas dari KA Turangga untuk mengakomodasi kebutuhan pimpinan bisnis lintas Surabaya–Malang. Namun, karena pertumbuhan jumlah penumpang tidak sesuai target, layanan KA Jatayu akhirnya dihentikan sekitar tahun 2001.
7. KA Wijayakusuma
Meskipun bukan merujuk pada nama tokoh, Wijayakusuma memiliki dimensi legenda yang kuat sehingga sangat relevan dimasukkan dalam deretan ini.Saat meluncurkan KA Wijayakusuma pada 26 September 2017, KAI menjelaskan bahwa penamaan kereta ini terinspirasi dari bunga Wijayakusuma yang tumbuh di kawasan Nusakambangan, Cilacap. Bunga langka ini dalam tradisi dan mitologi Jawa dianggap keramat serta menjadi simbol kejayaan dan kekuasaan raja-raja.
"Pemilihan nama tersebut diharapkan menambah keakraban bagi warga Cilacap dan sekitarnya yang menggunakan kereta api sebagai transportasi utama jika akan bepergian," kata Manajer Humas PT KAI Daerah Operasi 5 Purwokerto saat itu, Ixfan Hendriwintoko, mengutip Antara.
Pada awal operasinya, KA Wijayakusuma melayani rute Cilacap–Yogyakarta–Solo. Rutenya kemudian diperpanjang hingga Banyuwangi pada 1 September 2018, dan hingga kini masih aktif melayani relasi Cilacap–Ketapang PP.
Kehadiran nama-nama tersebut menunjukkan bahwa penamaan kereta api di Indonesia berfungsi lebih dari sekadar penanda rute, melainkan juga melestarikan warisan budaya.
Dari figur pewayangan seperti Batara Kresna dan Jatayu, legenda daerah seperti Kamandaka, Sri Tanjung, Aji Saka, dan Sangkuriang, hingga mitos bunga sakral Wijayakusuma, semuanya terus hidup menyatu dengan perjalanan masyarakat Nusantara.