Ilustrasi. Foto: Freepik.
Harga Minyak Dunia Turun, Brent Sempat di Bawah USD100 per Barel
Eko Nordiansyah • 22 September 2026 08:23
Houston: Harga minyak dunia turun pada Senin, 21 September 2026, karena para pedagang tidak terlalu memperdulikan konflik yang meluas antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman. Mereka lebih berfokus pada kemungkinan kemajuan diplomatik antara AS dan Iran dalam pertemuan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) minggu ini.
Sementara itu, desakan dari anggota parlemen Partai Republik untuk mempertimbangkan larangan ekspor solar mulai mendapat perhatian seiring harga bahan bakar tersebut yang tetap berada di dekat rekor tertinggi di AS.
Dikutip dari Investing, Selasa, 22 September 2026, kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman November terakhir tercatat turun 3,7 persen menjadi USD100,07 per barel, setelah sebelumnya sempat jatuh di bawah level USD100.
Kontrak berjangka minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman November turun 4,3 persen menjadi USD91,98 per barel.
Harapan diplomasi dan meredanya kekhawatiran pasokan
Harga acuan minyak mentah pada hari Senin tertekan di tengah meredanya kekhawatiran akan gangguan pasokan minyak, menyusul kabar positif dari Komando Pusat AS (CENTCOM). Laksamana Brad Cooper pada Sabtu menyatakan bahwa pasukan CENTCOM telah mendukung pengangkutan lebih dari satu miliar barel minyak mentah melalui Selat Hormuz dalam beberapa bulan terakhir.Komentar tersebut menekan harga minyak, meskipun para pedagang tetap waspada terhadap konflik yang meluas antara Arab Saudi dan kelompok Houthi yang didukung Iran di Yaman.
Pertempuran antara kedua belah pihak dilaporkan meningkat selama akhir pekan, seiring upaya kelompok Houthi untuk mendapatkan posisi tawar strategis atas Selat Bab el-Mandeb, koridor pelayaran vital lainnya yang menghubungkan Teluk Aden dengan Laut Merah dan digunakan oleh Arab Saudi sebagai rute transit alternatif untuk ekspor minyaknya.
The New York Times melaporkan adanya pertempuran di wilayah pegunungan Yaman barat daya pada Minggu, mengutip seorang perwira militer Saudi. Kelompok Houthi menyatakan telah meluncurkan rudal dan pesawat nirawak (drone) ke ibu kota Saudi, Riyadh, pada hari Sabtu serta menargetkan fasilitas minyak sebagai tanggapan atas serangan udara Saudi di dalam wilayah Yaman, demikian dilaporkan The New York Times.
.jpg)
(Ilustrasi. Foto: Freepik)
Secara terpisah, The New York Times melaporkan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman telah menghubungi Trump pada hari Kamis untuk meminta bantuan guna menghentikan pergerakan maju Houthi, menurut keterangan pejabat pemerintah AS.
Trump sempat memerintahkan Pentagon untuk bersiap melakukan serangan udara terhadap Houthi, namun kemudian mengubah keputusannya pada Minggu, tambah The New York Times.
Penutupan berkelanjutan pada Pipa Timur-Barat (East-West Pipeline) yang vital di Arab Saudi menjadi topik pembahasan utama pekan lalu, namun kekhawatiran akibat penutupan tersebut mereda setelah kerajaan mengambil langkah untuk menutupi kekurangan pasokan dengan meningkatkan ekspor dari pantai timur dan mengizinkan transfer minyak antar-kapal di lepas pantai Oman.
Data dari perusahaan analitik pelayaran Kpler menunjukkan bahwa ekspor minyak Saudi telah kembali ke angka sedikit di atas empat juta barel per hari sepanjang September ini, naik dari 2,4 juta barel per hari pada Agustus.
Harga minyak pada Senin juga turun di tengah harapan akan adanya kemajuan diplomatik antara Washington dan Teheran dalam pertemuan Majelis Umum PBB pekan ini, yang diperkirakan akan dihadiri oleh delegasi Iran, termasuk menteri luar negeri dan presiden negara tersebut. Laporan media menyebutkan bahwa Trump "terbuka" untuk berbicara dengan Masoud Pezeshkian, presiden Iran.
Meski demikian, AS dan Iran terus saling melontarkan ancaman baru. Trump menyatakan akan melenyapkan kepemimpinan Iran jika Teheran tidak berupaya mencapai kesepakatan, sementara militer Iran memperingatkan akan adanya balasan terhadap serangan baru apa pun.
Para pelaku pasar juga berharap akan adanya pembicaraan mengenai Iran antara Presiden Tiongkok Xi Jinping dan Trump, mengingat negara Asia tersebut merupakan pembeli terbesar minyak mentah Iran. Kementerian Luar Negeri Tiongkok mengonfirmasi kunjungan Xi ke AS pada hari Senin.
Juru bicara Guo Jiakun mengatakan kepada wartawan, Xi dan Trump akan melakukan pertukaran pandangan secara mendalam mengenai isu-isu utama terkait hubungan bilateral serta perdamaian dan pembangunan dunia.
Larangan ekspor solar
Di AS, warga terus merasakan tekanan harga minyak di SPBU. Menurut data GasBuddy pada hari Senin, harga rata-rata bensin di AS naik 18,5 sen selama sepekan terakhir menjadi USD4,44 per galon.Sementara harga rata-rata nasional untuk solar melonjak 30,7 sen dalam periode yang sama menjadi USD6,49 per galon. Harga solar sempat melampaui angka USD6 per galon untuk pertama kalinya pada awal bulan ini.
Di tengah situasi ini, anggota parlemen dari Partai Republik yang mewakili Iowa menyerukan pelarangan ekspor solar. Solar merupakan bahan bakar utama yang digunakan para petani Amerika untuk mengoperasikan mesin-mesin pertanian mereka.
"Jika pemerintah kita bisa memberlakukan embargo cip terhadap Tiongkok, maka pemerintah juga bisa memberlakukan embargo solar demi membantu petani dan pengemudi truk Amerika," ujar Senator Chuck Grassley (R-Iowa) melalui media sosial.
"Warga Iowa sedang terhimpit dan seharusnya tidak perlu menanggung beban biaya tinggi di SPBU atau kasir akibat perang di Iran. Kita perlu memanfaatkan segala opsi yang tersedia untuk meringankan dampak harga yang tinggi ini," kata Anggota DPR Ashley Hinson (R-Iowa-2).
"Langkah-langkah tersebut mencakup penangguhan pajak bensin, penghentian sementara ekspor solar, perluasan penggunaan bahan bakar E-15 semaksimal mungkin, pemberlakuan kembali kredit pajak biodiesel sebesar USD1 per galon, serta pembentukan program bantuan solar untuk membantu petani dan pengemudi truk kita yang terbebani oleh tingginya biaya," tambahnya.