Kerusakan akibat serangan drone Ukraina di wilayah Rusia. (Anadolu Agency)
Drone Ukraina Serang Pelabuhan Rusia Jelang Perundingan Damai di Jenewa
Willy Haryono • 16 February 2026 13:30
Taman: Serangan drone Ukraina memicu kebakaran besar di Pelabuhan Taman, salah satu pelabuhan strategis Rusia di Laut Hitam, pada Minggu kemarin, hanya beberapa hari sebelum perundingan damai baru dijadwalkan berlangsung di Jenewa.
Dikutip dari PBS News, Senin, 16 Februari 2026, Gubernur Wilayah Krasnodar, Veniamin Kondratyev, mengatakan serangan tersebut melukai dua orang serta merusak tangki penyimpanan minyak, gudang, dan fasilitas terminal pelabuhan.
Di saat yang sama, puing-puing drone Rusia dilaporkan merusak infrastruktur sipil di Odesa, Ukraina, sehingga mengganggu pasokan listrik dan air bersih.
Serangan terhadap fasilitas energi Rusia merupakan bagian dari strategi Ukraina untuk melemahkan pendapatan ekspor minyak Moskow. Sebaliknya, Rusia dituduh menargetkan jaringan listrik Ukraina guna mengganggu layanan dasar bagi warga sipil selama musim dingin.
Eskalasi militer ini membayangi perundingan damai yang dimediasi Amerika Serikat dan dijadwalkan berlangsung di Jenewa pekan ini, menjelang peringatan empat tahun invasi penuh Rusia pada 22 Februari.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky mengatakan masih banyak persoalan mendasar yang belum terselesaikan, terutama terkait jaminan keamanan jangka panjang bagi negaranya. Ia juga menyoroti usulan zona perdagangan bebas di wilayah Donbas, yang menjadi salah satu tuntutan Rusia.
Zelenskyy menyatakan terdapat perbedaan pendekatan antara Ukraina dan mediator AS. Menurutnya, Washington ingin seluruh kesepakatan ditandatangani sekaligus, sementara Kyiv menuntut jaminan keamanan disepakati terlebih dahulu.
Senator AS Jeanne Shaheen mendukung posisi tersebut, dengan menekankan pentingnya jaminan keamanan untuk mencegah konflik serupa di masa depan.
Sementara itu, Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa Kaja Kallas memperingatkan Rusia berupaya meraih keuntungan diplomatik. “Jika kita menginginkan perdamaian berkelanjutan, maka Rusia juga harus memberikan konsesi,” ujarnya.
Upaya perdamaian sebelumnya dilaporkan mengalami kebuntuan, terutama terkait status wilayah industri Donbas yang sebagian masih berada di bawah kendali pasukan Rusia. (Kelvin Yurcel)
Baca juga: Rusia Klaim Rebut 12 Desa di Ukraina pada Dua Pekan Pertama Februari