Direktur Transmisi dan Perencanaan Sistem PT PLN Edwin Nugraha Putra saat konferensi pers. Foto: Metrotvnews/Muhammad Iqbal Sidiq.
Alasan PLN Padamkan lagi Listrik Sumatra pada Minggu Malam: Beban Magrib Naik
Muhammad Iqbal Sidiq • 25 May 2026 13:16
Jakarta: Masyarakat di sejumlah wilayah Sumatra mengeluhkan pemadaman listrik susulan pada Minggu malam, 24 Mei 2026. PT PLN (Persero) menjelaskan, pemadaman darurat itu terpaksa dilakukan akibat terjadinya lonjakan beban menjelang waktu Maghrib.
"Hari Minggu sudah menyala semua, tetapi masih ada pembangkit-pembangkit PLTU kami yang belum menyala. Ketika beban maghrib naik lagi bebannya, terpaksa kami padamkan kembali," ujar Direktur Transmisi dan Perencanaan Sistem PT PLN Edwin Nugraha Putra, dalam konferensi pers di Jakarta, Senin, 25 Mei 2026.
Baca Juga :
Edwin menguraikan, pemadaman susulan yang berlangsung dari pukul 18.36 hingga 20.15 WIB tersebut berkaitan dengan lambatnya proses pemulihan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara.
Pasca blackout total pada Jumat malam, setiap jenis pembangkit memiliki durasi menyala yang berbeda. Pembangkit gas dan diesel memang bisa pulih cepat dalam 3 hingga 5 jam, disusul PLTGU dalam 10 hingga 15 jam.
Namun, PLTU batu bara yang menyuplai daya utama membutuhkan waktu paling lama, yakni antara 20 hingga 30 jam. Hal ini karena mesin PLTU harus melewati proses yang panjang, mulai dari memanaskan air menjadi uap hingga menyalakan sistem sebelum bisa disinkronkan kembali ke jaringan tol listrik.
(1).jpeg)
Bareskrim Polri bersama PLN gelar konferensi pers terkait blackout Sumatra. Foto: Metrotvnews/Muhammad Iqbal Sidiq.
Kondisi belum siapnya PLTU batu bara pada Minggu sore inilah yang memicu defisit daya saat masyarakat serentak menyalakan alat elektronik di waktu Maghrib. PLN memastikan krisis tersebut sudah mulai teratasi per hari Senin ini.
"Insyaallah pada hari ini, pembangkit-pembangkit besar sudah masuk seperti di Pangkalan Susu dan beberapa tempat lainnya sudah masuk. Insyaallah pada hari ini dan sore ini tidak ada terjadi lagi pemadaman di sistem Sumatera," pungkas Edwin.