Kekhawatiran AI Picu Koreksi Wall Street, Nasdaq Anjlok 1,47%

Ilustrasi. Foto: Xinhua/Liu Yanan.

Kekhawatiran AI Picu Koreksi Wall Street, Nasdaq Anjlok 1,47%

Husen Miftahudin • 17 July 2026 08:07

New York: Bursa saham Amerika Serikat (AS) di Wall Street ditutup melemah pada perdagangan Kamis waktu setempat setelah tekanan di sektor teknologi, khususnya saham perusahaan chip, memicu aksi jual.
 
Investor juga mulai meninjau kembali valuasi saham berbasis kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) di tengah munculnya kekhawatiran terhadap prospek belanja AI dan perlambatan aktivitas ritel.
 
Mengutip Xinhua, Jumat, 17 Juli 2026, indeks Dow Jones Industrial Average turun 105,67 poin atau 0,20 persen ke level 52.552,97. Sementara itu, S&P 500 terkoreksi 38,63 poin atau 0,51 persen menjadi 7.533,77, sedangkan Nasdaq Composite merosot 387,281 poin atau 1,47 persen ke posisi 25.881,946.
 
Dari 11 sektor utama dalam indeks S&P 500, delapan sektor berhasil ditutup di zona hijau. Sektor barang konsumsi pokok memimpin penguatan dengan kenaikan 2,90 persen, disusul sektor kesehatan yang naik 2,21 persen. Sebaliknya, sektor jasa komunikasi dan teknologi menjadi penekan utama dengan masing-masing turun 2,85 persen dan 1,77 persen.
 

 

Saham chip dan Alphabet tertekan

 
Tekanan jual terjadi hampir di seluruh sektor semikonduktor. Pelemahan harga saham perusahaan chip turut menyeret emiten penyimpanan memori, termasuk SanDisk dan Western Digital Corporation, yang sama-sama ditutup lebih rendah.
 
Sementara itu, saham Alphabet anjlok hampir 4,5 persen setelah laporan industri menyebut peluncuran publik model AI terbaru, Gemini 3.5 Pro, mengalami penundaan. Sentimen tersebut turut menekan saham-saham teknologi berkapitalisasi besar lainnya, seperti Meta Platforms, Nvidia, dan Amazon, yang juga berakhir di zona negatif.
 
Dari sisi makroekonomi, Departemen Perdagangan AS melaporkan penjualan ritel pada Juni hanya meningkat 0,2 persen. Capaian tersebut melambat dibandingkan kenaikan 1 persen yang telah direvisi pada Mei serta berada di bawah proyeksi ekonom sebesar 0,3 persen.
 
Analis menilai perlambatan ini mencerminkan melemahnya belanja konsumen, meski Amerika Utara tengah menjadi tuan rumah sejumlah agenda besar, termasuk Piala Dunia FIFA dan berbagai program diskon belanja daring selama musim panas.


(Ilustrasi Wall Street. Foto: iStock)
 

Klaim pengangguran turun, Fed tetap waspada

 
Di sisi lain, Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan klaim awal tunjangan pengangguran turun 8.000 menjadi 208 ribu secara musiman untuk pekan yang berakhir pada 11 Juli. Data tersebut sejalan dengan laporan Beige Book Federal Reserve yang menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja masih relatif kuat.
 
Laporan tersebut mencatat lima distrik regional mengalami pertumbuhan lapangan kerja pada tingkat moderat hingga solid, sedangkan tujuh distrik lainnya melaporkan kondisi yang relatif stabil.
 
Presiden Federal Reserve Dallas Lorie Logan menilai perkembangan inflasi terbaru belum cukup untuk mengubah arah kebijakan moneter. "Saat ini saya percaya bahwa suku bunga yang sedikit lebih tinggi akan lebih menyeimbangkan prospek dan risiko bagi tujuan mandat ganda FOMC. Setiap bulan inflasi di atas target telah memperburuk tekanan pada anggaran masyarakat Amerika," jelas Logan.
 
Di tengah tekanan pasar, musim laporan keuangan kuartal II masih menunjukkan kinerja positif. Dari 40 perusahaan anggota indeks S&P 500 yang telah merilis laporan keuangan, lebih dari 87 persen membukukan hasil di atas ekspektasi.

(Husen Miftahudin)