Sepekan Pelayaran ke Bawean Lumpuh, Penumpang Tertahan hingga Sembako Menipis

Aktivitas pelayaran dari dan menuju Pulau Bawean, Kabupaten Gresik. (Metrotvnews.com/Solikhul Huda)

Sepekan Pelayaran ke Bawean Lumpuh, Penumpang Tertahan hingga Sembako Menipis

Solikhul Huda • 15 January 2026 12:36

Gresik: Aktivitas pelayaran dari dan menuju Pulau Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, lumpuh total hampir sepekan akibat cuaca buruk dan gelombang tinggi. Sejak Jumat, 9 Januari 2026 hingga Kamis, 15 Januari 2026, seluruh layanan kapal, baik Kapal Cepat maupun kapal ferry Gili Iyang, tidak beroperasi.

Penundaan ini membuat ratusan calon penumpang tertahan di daratan Gresik maupun di Pulau Bawean. Gelombang tinggi diperkirakan masih berpotensi terjadi hingga Selasa, 20 Januari 2026.

“Ini habis antar saudara operasi di RSUD Ibnu Sina Gresik, mau kembali ke Bawean tidak ada kapal,” ujar Salah satu calon penumpang, Zainiyah, Kamis, 15 Januari 2026.


Aktivitas pelayaran dari dan menuju Pulau Bawean, Kabupaten Gresik. (Metrotvnews.com/Solikhul Huda)

Perempuan asal Kecamatan Tambak itu kini tinggal sementara di rumah singgah Perumahan Alam Bukit Raya (ABR), tempat penampungan warga Bawean yang berobat ke daratan. Dia mengaku harus mengeluarkan ongkos ekstra selama tinggal di Gresik.

"Semoga nanti ada kapal bantuan atau kapal yang beroperasi agar bisa meringankan beban warga yang tertahan di daratan Gresik. Kalau harus ke Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, saya siap yang penting bisa pulang,” jelas dia.

Kepala BMKG Bawean, Usman Kholid, menjelaskan kondisi gelombang di perairan Bawean, khususnya bagian selatan, masih berbahaya bagi pelayaran. Dia mengungkap, perairan Bawean bagian selatan yang merupakan jalur kapal Express Bahari, Gili Iyang, hingga LCT, berpotensi terjadi gelombang tinggi 2,5 meter hingga 16  Januari 2026.

“Prediksi cuaca kami update setiap hari. Harapannya ke depan bisa lebih kondusif, tapi sementara ini hasil BMKG masih menunjukkan gelombang tinggi,” jelas dia.

Menurut Usman, tingginya gelombang dipengaruhi menguatnya Monsun Asia serta keberadaan awan Cumulonimbus (CB) yang meningkatkan kecepatan angin. 

“Perairan Bawean berbeda dengan Gresik. Gresik relatif terlindung, sementara Bawean langsung berhadapan dengan laut bebas. Walaupun dari darat tampak tenang, di tengah laut gelombangnya bisa sangat tinggi,” ungkap dia.

BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Tanjung Perak memperkirakan tinggi gelombang di Perairan Bawean berkisar 1,25–2,5 meter dengan kecepatan angin 16–22 knot dan hembusan maksimum hingga 35 knot. BMKG mengimbau nelayan tidak memaksakan diri melaut serta meminta operator kapal mematuhi arahan otoritas pelabuhan.

Pasokan Sembako Mulai Terganggu

Terhentinya pelayaran berdampak langsung pada ketersediaan bahan pokok di Bawean. Hasil inspeksi mendadak Tim Kecamatan Sangkapura di Pasar Desa Kotakusuma menunjukkan stok sayur-mayur menipis.

Harga telur ayam naik dari Rp32 ribu menjadi Rp35 ribu per kilogram, sementara harga daging ayam melonjak dari Rp50 ribu menjadi Rp60 ribu per kilogram.

Penundaan pelayaran diberlakukan sejak 10 Januari 2026 berdasarkan Pengumuman Nomor AL.820/1/10/UPP.Bwn/2026 yang dikeluarkan Kantor Unit Penyelenggara Pelabuhan (KUPP) Kelas III Bawean menyusul peringatan cuaca buruk dari BMKG.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Lukman Diah Sari)