Selat Hormuz jadi perairan penting dalam rute perdagangan minyak. Foto: Anadolu
Dubes Iran: Selat Hormuz Tidak Ditutup, Dibuka dengan Protokol Keamanan Perang
Muhammad Reyhansyah • 6 March 2026 05:33
Jakarta: Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka.
Dubes Boroujerdi mengatakan Iran tidak menutup jalur pelayaran strategis tersebut, melainkan hanya menerapkan protokol keamanan khusus yang berlaku dalam situasi perang.
“Selat Hormuz tidak ditutup, Selat Hormuz tetap terbuka, dan kami hanya sebagai pihak yang menyelenggarakan keamanan,” kata Dubes Boroujerdi saat ditemui awak media di kediamannya, Jakarta, Kamis, 5 Maret 2026.
“Di selat ini hanya diberlakukan protokol lalu lintas yang khusus untuk saat-saat perang. Pihak-pihak yang mematuhi protokol tersebut bisa dengan mudah melewati Selat Hormuz,” jelas Dubes Boroujerdi.
Dubes Boroujerdi menegaskan Iran selama ini berperan menjaga stabilitas keamanan di jalur pelayaran tersebut yang menjadi salah satu titik paling strategis bagi distribusi energi global.
“Selat Hormuz adalah tempat di mana Iran menyebarluaskan keamanan sejak ratusan tahun yang lalu,” ujarnya.
Ia menambahkan keamanan di jalur tersebut harus berlaku bagi semua negara tanpa pengecualian.
“Keamanan di Selat Hormuz untuk semua negara, termasuk Iran. Tidak boleh ada negara yang memanfaatkan keamanan di sana untuk kepentingannya sendiri,” tegas Dubes Boroujerdi.
Dalam kesempatan itu, Dubes Boroujerdi juga menuding kehadiran Amerika Serikat di kawasan Timur Tengah sebagai sumber ketegangan yang memicu kekhawatiran atas keamanan jalur pelayaran tersebut.
“Yang khawatir berkaitan dengan penutupan Selat Hormuz harus menanyakan kepada Amerika Serikat yang datang dari jauh ke kawasan Timur Tengah dan kemudian mengganggu keamanan di Selat Hormuz,” lanjut Dubes Boroujerdi.
Sebelumnya, Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan penutupan Selat Hormuz bagi lalu lintas kapal sebagai respons atas operasi militer gabungan Amerika Serikat dan Israel yang menyerang Iran pada Sabtu, 28 Februari 2026.
Serangan udara besar-besaran yang menghantam Teheran dilaporkan menewaskan sejumlah tokoh penting Iran, termasuk pemimpin tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Sebagai respons, Iran disebut melancarkan serangan balasan ke wilayah Israel serta beberapa negara Teluk, yang kemudian memicu kekhawatiran atas keamanan kawasan.
Kapal Pertamina Tertahan
Situasi ini juga berdampak langsung pada Indonesia. Dua kapal tanker milik Pertamina International Shipping (PIS) dilaporkan tertahan di kawasan Teluk Persia akibat ketegangan yang terjadi.Dua kapal tersebut adalah Pertamina Pride yang baru menyelesaikan proses pemuatan kargo di Ras Tanura, Arab Saudi, serta Gamsunoro yang berada di Khor Al Zubair, Irak, dalam proses pemuatan bahan bakar.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah saat ini tengah melakukan negosiasi untuk memastikan kedua kapal tersebut dapat melanjutkan perjalanan dengan aman.
“Ada dua kapal kargo Pertamina yang tertahan di Selat Hormuz. Kapal-kapal tersebut saat ini berlabuh di lokasi yang lebih aman sambil menunggu proses negosiasi,” kata Bahlil usai menghadiri acara buka puasa di Kementerian ESDM di Jakarta, Rabu malam, 4 Maret 2026, seperti dikutip Antara.
Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow akun Google News Metrotvnews.com