Rekonstruksi Dusun Adat Sade Ditargetkan Rampung Akhir 2026

Rehabilitasi dan rekonstruksi Dusun Adat Sade, Desa Rembitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, pasca-kebakaran ditargetkan tuntas sebelum akhir tahun 2026. ANTARA/Pemprov NTB.

Rekonstruksi Dusun Adat Sade Ditargetkan Rampung Akhir 2026

Silvana Febiari • 18 October 2026 16:17

Mataram: Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menargetkan rehabilitasi dan rekonstruksi Dusun Adat Sade, Lombok Tengah, rampung sebelum akhir 2026. Penataan ini dilakukan setelah kebakaran melanda dusun adat tersebut pada 22 Agustus 2026.

Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Setda Provinsi NTB Lalu Mohamad Faozal mengatakan pemerintah berharap seluruh pekerjaan yang direncanakan dapat dituntaskan pada akhir Desember 2026 melalui kerja bersama pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat.

"Pemulihan Sade bukan semata-mata membangun kembali bangunan yang terbakar. Kita ingin kehidupan masyarakat kembali pulih, aktivitas ekonomi bergerak, dan warisan budaya tetap terjaga. Karena itu seluruh dukungan harus dikelola secara terpadu agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat," ujar Faozal di Mataram, dilansir Antara, Minggu, 18 Oktober 2026.


Sejak kebakaran, Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal bersama Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri bergerak mengoordinasikan penanganan dan pemulihan masyarakat terdampak. Upaya tersebut berlanjut pada tahap rekonstruksi dengan melibatkan pemerintah daerah, pemerintah pusat, tokoh adat, dan masyarakat setempat.

Pembangunan kembali secara resmi dimulai pada 3 September 2026 melalui Tradisi Nyemulak. Hal ini ditandai dengan pemasangan tiang pertama rumah adat dan Masjid Sade.

Prosesi tersebut dilaksanakan berdasarkan musyawarah warga Dusun Sade dan dihadiri Gubernur NTB serta Bupati Lombok Tengah. Tradisi ini menjadi penanda dimulainya upaya membangun kembali kawasan adat dengan tetap menghormati nilai, tata cara, dan identitas budaya masyarakat setempat.

Untuk memperkuat koordinasi Pemprov NTB membentuk Satuan Tugas Rehabilitasi dan Rekonstruksi Dusun Adat Sade melalui Keputusan Gubernur NTB Nomor 100.3.3.1-400 Tahun 2026 tanggal 26 Agustus 2026. Satgas mengoordinasikan kebutuhan pembangunan, penataan kawasan, pemulihan sosial dan ekonomi, pelestarian budaya, serta pengelolaan bantuan agar pelaksanaannya terarah dan saling melengkapi.

"Berdasarkan pembaruan lapangan per 15 Oktober 2026, sekitar 45 rumah adat telah mulai dibangun secara bertahap melalui gotong royong masyarakat dengan memanfaatkan sumber daya yang tersedia. Pembangunan fasilitas bersama juga menjadi bagian dari perkembangan rekonstruksi, termasuk masjid dan museum. Namun, pekerjaan masih berlangsung dan kebutuhan lanjutan tetap perlu dipetakan sesuai kondisi setiap bangunan dan keluarga terdampak," jelas Faozal.

Dukungan pemerintah pusat turut memperkuat proses tersebut. Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) memberikan perhatian terhadap rekonstruksi rumah adat dan penataan kawasan, sedangkan Kementerian Pariwisata (Kemenpar) mendukung pemulihan penghidupan masyarakat melalui bantuan peralatan usaha bagi pelaku UMKM, perajin tenun, dan perajin non-tenun.

Di tingkat daerah, Pemprov NTB bersinergi dengan Pemkab Lombok Tengah, pemerintah kecamatan, pemerintah desa, tokoh adat, dan warga. ITDC juga mengoordinasikan dukungan BUMN dan ekosistem Mandalika.


Sebagian bangunan rumah adat Sade Desa Rambitan, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah, Provinsi NTB, yang telah dilakukan pembangunan ulang di Lombok Tengah, Rabu, 14 Oktober 2026. ANTARA/Akhyar Rosidi.

Sejumlah perusahaan, lembaga, komunitas, perguruan tinggi, dan donatur turut membantu rekonstruksi melalui bantuan pembangunan, peralatan, bantuan sosial, dan pemulihan ekonomi warga. Faozal menegaskan, percepatan pembangunan harus disertai penyediaan air bersih, sanitasi, pengelolaan lingkungan, serta sistem pencegahan kebakaran.

Seluruh proses juga perlu menjaga karakter arsitektur rumah adat serta memperhatikan keselamatan penghuni. Verifikasi kebutuhan dan perkembangan pekerjaan menjadi penting agar bantuan tepat sasaran dan tidak tumpang tindih.

"Semangat gotong royong yang tumbuh di Sade adalah modal besar untuk bangkit. Pemerintah bersama seluruh mitra akan terus memperkuat koordinasi dan mengawal kebutuhan rekonstruksi. Harapan kita pada akhir Desember 2026 seluruh pekerjaan yang direncanakan dapat dituntaskan sehingga masyarakat kembali menjalani kehidupan dengan aman, kegiatan ekonomi pulih, dan identitas budaya Sade tetap lestari," ungkapnya.

(Silvana Febiari)