Dewan Redaksi Media Group, Abdul Kohar. Foto- Media Indonesia (MI)/Ebet
Podium MI: Memuliakan Pendidikan
Abdul Kohar • 4 May 2026 06:39
SETIAP kali Hari Pendidikan Nasional datang, kita seperti diingatkan bahwa pendidikan bukan sekadar urusan ruang kelas, melainkan juga cermin arah peradaban. Ia tidak hanya soal apa yang diajarkan, tetapi juga bagaimana manusia dibentuk.
Dalam beberapa tahun terakhir, arah itu mulai tampak bergeser. Pendidikan kita pelan-pelan meninggalkan watak lamanya yang kaku dan seragam, menuju pendekatan yang lebih lentur, adaptif, dan (ini yang penting) lebih manusiawi. Dari sekadar mengajar, menjadi upaya membentuk.
Transformasi itu terasa, misalnya dalam penerapan dan penguatan Kurikulum Merdeka. Penguatan itu sebagai sebuah upaya untuk merombak cara pandang, dari kurikulum yang padat materi menjadi kurikulum yang memberikan ruang. Ruang bagi guru untuk berkreasi, ruang bagi siswa untuk menemukan dirinya sendiri. Fokusnya bukan lagi menjejalkan sebanyak mungkin materi ke isi kepala, melainkan menyaring yang esensial agar benar-benar dipahami.
Di titik itu, kita menyaksikan pergeseran penting, dari hafalan menuju pemaknaan. Istilah deep learning yang belakangan kerap digaungkan bukan sekadar jargon akademik. Ia kritik halus terhadap praktik lama yang terlalu menekankan angka, tetapi lupa pada makna. Belajar seharusnya bukan tentang seberapa banyak yang diingat, melainkan seberapa dalam yang dimengerti.
Namun, pendidikan tidak pernah berdiri di atas akal semata. Ia juga bertumpu pada watak. Karena itu, penekanan pada pendidikan karakter menjadi relevan, bahkan mendesak. Kita tidak sedang kekurangan orang pintar, tetapi sering kali kekurangan orang yang berintegritas. Di sinilah pendidikan diuji, mampukah ia melahirkan manusia yang tidak hanya cerdas, tetapi juga benar?
Di sisi lain, zaman memaksa pendidikan untuk beradaptasi. Digitalisasi bukan lagi pilihan, melainkan keniscayaan. Teknologi telah merambah ruang-ruang belajar, mengubah cara guru mengajar dan siswa menyerap pengetahuan. Namun, teknologi, seperti pisau bermata dua, hanya akan bermanfaat jika disertai kebijaksanaan. Tanpa itu, ia justru dapat menjauhkan pendidikan dari esensinya.
.jpg)
Ilustrasi. Medcom
Baca Juga:
Wamendikdasmen: Hardiknas Momen Perkuat Arah Transformasi Pendidikan |
Pemerataan akses juga menunjukkan kemajuan. Wajib belajar 12 tahun menjadi sinyal bahwa negara ingin membuka pintu pendidikan seluas-luasnya. Desentralisasi memberikan ruang bagi daerah untuk menyesuaikan kebijakan dengan kebutuhan lokal. Namun, di sinilah pekerjaan rumah terbesar masih tersisa, soal kesenjangan kualitas.
Tidak semua anak Indonesia memulai dari garis yang sama. Ada yang belajar dengan fasilitas lengkap, ada pula yang harus berjuang dengan keterbatasan. Ada yang akrab dengan teknologi, ada yang masih berkutat dengan akses dasar. Ketimpangan itu bukan sekadar angka statistik, melainkan juga kenyataan yang menentukan masa depan.
Karena itu, berbicara tentang pendidikan tidak cukup hanya dengan merayakan kemajuan. Ia juga menuntut kejujuran untuk mengakui kekurangan. Pendidikan yang baik bukan yang merasa sudah selesai, melainkan yang terus memperbaiki diri.
Arah besar pendidikan kita sebenarnya sudah cukup jelas, menuju sistem yang berpusat pada siswa. Siswa bukan lagi objek, melainkan subjek. Bukan wadah kosong, melainkan individu dengan potensi unik. Dari situlah harapan itu tumbuh, bahwa pendidikan tidak lagi menyeragamkan, tetapi memerdekakan.
Pada akhirnya, momentum Hari Pendidikan Nasional bukan sekadar seremoni tahunan. Ia jeda sejenak untuk bertanya, sudah sejauh mana pendidikan kita memanusiakan manusia?
Jika jawabannya masih setengah jalan, itu bukan alasan untuk pesimistis. Justru di situlah letak kerja kita sebagai bangsa untuk melanjutkan langkah, memperbaiki arah, dan memastikan pendidikan tidak hanya mencerdaskan kehidupan, tetapi juga memuliakannya.