Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung (kiri). Metrotvnews.com/Cony
Kapal Tertahan Berhari-hari, Pramono Perintahkan Dishub DKI Benahi Muara Angke
Cony Brilliana • 28 January 2026 16:36
Jakarta: Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, memerintahkan Dinas Perhubungan DKI Jakarta dapat menyelesaikan persoalan kesemrawutan lalu lintas keluar masuk kapal di Pelabuhan Muara Angke, Jakarta Utara. Persoalan ini banyak dikeluhkan pemilik kapal dan nelayan karena terjadi penumpukan dan saling menunggu antarkapal selama berhari-hari di jalur pelayaran.
“Jadi sebenarnya itu kan menyangkut kapal keluar masuk, bukan menyangkut di daratannya, pengaturan kapalnya. Tetapi saya sudah meminta kepada Dinas Perhubungan dan KKP untuk selalu bekerja sama menangani persoalan itu,” ujar Pramono di Balai Kota DKI, Jakarta Pusat, Rabu, 28 Januari 2026.
Pramono menginstruksikan Dishub DKI berkoordinasi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) untuk mencari solusi pengaturan lalu lintas kapal agar lebih terkoordinasi dan tertib.
“Jadi memang persoalannya sebenarnya lebih pada ini orang bawa perahu yang di depan gak mau keluar, yang belakang gak mau. Saya kebetulan melihat videonya, tapi saya akan minta untuk ditangani,” ujar Pramono.
Kesemrawutan lalu lintas kapal dinilai berdampak langsung terhadap aktivitas ekonomi nelayan dan pemilik kapal. Kapal yang tertahan terlalu lama menyebabkan distribusi hasil laut terganggu, sedangkan biaya operasional terus berjalan.
Baca Juga:
Diduga Korsleting Listrik, Kapal Nelayan di Jakarta Utara Hangus Dilalap Api |
Nelayan Keluhkan Lalu Lintas Kapal
Sebelumnya, seorang nelayan di kawasan Muara Angke melalui akun media sosialnya @winmasofficial mengeluhkan tata kelola lalu lintas perkapalan di Pelabuhan Muara Angke. Lalu lintas kapal dinilai semrawut.
“Kapal-kapal kita yang mau berangkat itu sangat susah kalau kita sudah masuk di sini, mau keluar itu dan kalau dibilang jalan itu cukup 10 menit, ini bisa sampai 2-3 hari,” ungkap Win melalui akun media sosial Tiktok @winmasofficial, Selasa, 27 Januari 2026.
Dia mengaku kesulitan mengeluarkan kapal untuk berlayar akibat padat dan tidak teraturnya lalu lintas di pelabuhan. Kondisi tersebut membuat kapal bisa tertahan berhari-hari hingga lebih dari satu bulan di dalam kawasan pelabuhan.
Pelabuhan Muara Angke dikenal sebagai pelabuhan rakyat dengan aktivitas kapal nelayan dan kapal tradisional yang padat. Tingginya volume kapal yang tidak diimbangi dengan sistem pengaturan lalu lintas yang tertata, kerap memicu keluhan berulang dari para pengguna pelabuhan.