Kesemrawutan Pedagang Kaki Lima (PKL) dan parkir liar yang kerap memicu kemacetan di depan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, Minggu (11/1/2026). ANTARA/Risky Syukur
Jadi Biang Kerok Macet, Satpol PP Bersihkan PKL dan Parkir Liar di Depan RSCM
Achmad Zulfikar Fazli • 11 January 2026 23:25
Jakarta: Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) DKI Jakarta menertibkan pedagang kaki lima (PKL) dan parkir liar di depan Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM), Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat. PKL dan parkir liar tersebut menjadi biang kerok kemacetan di depan RSCM.
"Sudah kami tindaklanjuti laporannya pada Sabtu (10 Januari 2026). Hasilnya 15 PKL dihalau, tujuh kopling dihalau, dan sembilan bajaj juga dihalau," ujar Kepala Satpol PP DKI Jakarta, Satriadi Gunawan saat dikonfirmasi di Jakarta, dilansir dari Antara, Minggu, 11 Januari 2026.
Menurut Satriadi, penertiban kawasan tersebut kerap menghadapi tantangan berupa benturan antara masalah ekonomi pedagang dan penegakan hukum. Dia juga tak bisa menjamin kawasan tersebut bisa bersih dari PKL dan parkir liar selama 24 jam nonstop.
"Kalau pun kita pantau 24 jam, personel kita enggak akan sanggup lah, kurang (jumlah) kita. Jelas kalau dipantau 24 jam pasti enggak akan ada itu (PKL), tapi anggota kita juga kan secara personel kurang," ujar Satriadi.
Baca Juga:
2 Jukir Liar yang Pukul Pemotor di Tanah Abang Diringkus Polisi |
Dengan kurang efektifnya metode penertiban berulang setiap hari, dia berencana mengubah pola pengawasan dengan melibatkan masyarakat, khususnya petugas keamanan gedung RSCM.
"Jadi sekarang yang mau dicoba ke depannya, polanya akan diubah dengan keterlibatan masyarakat dan terutama satpam di situ. Karena pada prinsipnya ketertiban bukan hanya milik Satpol PP, tetapi harus ada kolaborasi," jelas Satriadi.
Pengelola gedung juga memiliki tanggung jawab terhadap ketertiban di area depannya. Jika satpam melihat tanda-tanda keramaian pedagang, mereka bisa melakukan tindakan pencegahan awal dan melapor ke Satpol PP.
"Kalau sudah kelihatan satu dua (pedagang), langsung gerak. Jangan sampai banyak. Kalau sistem penertibannya enggak diubah, kami juga pasti akan keteteran di mana-mana," ujar dia.