Rupiah Turun Tipis ke Rp17.696/USD Sore Ini

Ilustrasi. Foto: Dok MI

Rupiah Turun Tipis ke Rp17.696/USD Sore Ini

Eko Nordiansyah • 16 September 2026 16:38

Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini mengalami pelemahan. Pelemahan rupiah dipengaruhi konflik geopolitik yang masih meningkat hingga kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed.

Mengutip data Bloomberg, Rabu, 16 September, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp17.696 per USD. Mata uang Garuda tersebut turun dua poin atau setara 0,01 persen dari posisi Rp17.694 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.

Sementara itu, data Yahoo Finance menunjukkan rupiah berada di posisi Rp17.690 per USD. Rupiah juga melemah sebanyak delapan poin atau setara 0,05 persen dari Rp17.682 per USD di pembukaan perdagangan sebelumnya.

Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp17.712 per USD. Rupiah bergerak menguat dibandingkan dengan perdagangan pada pekan sebelumnya yang di level Rp17.687 per USD.


(Ilustrasi. Foto: Dok MI)

Konflik geopolitik kian memanas

Analis mata uang Ibrahim Assuabi mengungkapkan pergerakan rupiah pada hari ini dipengaruhi oleh sentimen Kelompok Houthi di Yaman yang beraliansi dengan Iran melancarkan serangan lanjutan terhadap Arab Saudi pada Senin, sembari memperkuat posisi mereka di titik-titik strategis di sepanjang Laut Merah.

Posisi-posisi tersebut juga memungkinkan kelompok itu melancarkan lebih banyak serangan terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Bab al-Mandab, sehingga mengancam pasokan minyak di kawasan tersebut.

Houthi menyerang sejumlah target di Arab Saudi pada hari Senin, yang semakin mengancam ekspor minyak negara itu setelah serangan pekan sebelumnya melumpuhkan operasional pipa minyak lintas-negara (timur-barat) milik Riyadh.

Serangan ofensif Houthi ini membuka front baru dalam konflik Timur Tengah; para analis memperkirakan perkembangan ini dapat mengganggu tambahan empat sampai lima persen dari pasokan global.

Kemudian, pembicaraan mengenai Selat Hormuz ditunda; Iran menyatakan tidak akan ada dialog dengan AS sampai syarat-syarat mereka dipenuhi. Oman pada Minggu menunda pertemuan yang sedianya digelar hari Senin antara Iran dan negara-negara Teluk untuk membahas pembukaan kembali Selat Hormuz. Pihak Muscat tidak merinci kapan pertemuan tersebut akan dilaksanakan.

Presiden AS Donald Trump pada Senin kembali melontarkan klaim yang sering ia sampaikan bahwa Iran sedang mengupayakan kesepakatan damai. Namun, Teheran membantah klaim Trump tersebut dan menyatakan tidak akan ada pembicaraan sampai syarat-syarat mereka dipenuhi, terutama tuntutan agar AS mematuhi ketentuan gencatan senjata bulan Juni yang kini sudah tidak berlaku lagi.

Di sisi lain, laporan Indeks Harga Konsumen (CPI) AS pada Jumat hampir memastikan langkah kenaikan suku bunga The Fed sebesar 25 basis poin pada pertemuannya minggu ini. 

Data yang dirilis oleh Biro Statistik Tenaga Kerja AS menunjukkan bahwa CPI umum (headline CPI) naik 0,4 persen secara bulanan (MoM) pada Agustus, meningkat dari 0,1 persen pada Juli, sementara CPI inti naik 0,3 persen pada periode yang sama naik dari 0,2 persen dan mencatatkan laju tercepat dalam empat bulan terakhir.

Menurut CME FedWatch Tool, pasar kini memperhitungkan probabilitas sebesar 89 persen untuk kenaikan suku bunga, naik dari sekitar 59,4 persen pada pekan sebelumnya.

(Eko Nordiansyah)