Kereta api Argo Dwipangga melaju mengarah ke Surakarta. (TyewongX/Wikimedia Commons)
8 Kereta dengan Nama Hewan dan Satwa Mitologi di Indonesia
Riza Aslam Khaeron • 21 September 2026 17:49
Jakarta: Masyarakat Indonesia akan segera memperingati Hari Kereta Api Nasional pada 28 September 2026 mendatang. Momen bersejarah ini memperingati pengambilalihan pengelolaan perusahaan kereta api dari tangan pemerintah kolonial Jepang oleh para pekerja kereta api Indonesia pada 28 September 1945.
Sepanjang sejarah perkeretaapian di Tanah Air, PT Kereta Api Indonesia (KAI) (Persero) telah menamai berbagai layanan kereta apinya dengan inspirasi yang sangat kaya.
Selain mengambil nama kerajaan, tokoh sejarah, gunung, dan sungai, KAI juga menghadirkan keunikan tersendiri dengan mengadopsi nama hewan, cerita rakyat, hingga makhluk dalam mitologi lokal maupun dunia.
Berikut adalah asal-usul penamaan unik kereta api di Indonesia yang terinspirasi dari hewan dan satwa mitologi:
1. KA Argo Dwipangga
Terdapat beberapa sumber yang menjelaskan asal-usul penamaan KA Argo Dwipangga. Kata “Argo” merupakan brand merek untuk kelas layanan eksekutif tertinggi di PT Kereta Api Indonesia. Sementara itu, kata “Dwipangga” dalam satu penafsiran terdiri dari kata Dwi yang berarti dua dan Pangga yang berarti gunung.Dua gunung yang dimaksud adalah Gunung Merapi dan Gunung Merbabu yang menjadi ikon Kota Boyolali.
Sumber lain menyebutkan bahwa nama Dwipangga diambil dari sosok gajah mitologis tunggangan Dewa Indra dalam ajaran Hindu, yang secara universal dikenal dengan nama Airavata atau Erawan.
Adapun versi berbeda berakar pada legenda lokal tentang seekor gajah bernama Kyai Dwipangga, yang erat kaitannya dengan asal-usul nama Kali Gajah Wong di Yogyakarta.
Mengutip laman resmi Pemerintah Kalurahan Pleret, Kyai Dwipangga merupakan gajah asal Siam milik Sultan Agung dari Kerajaan Mataram. Gajah tersebut sehari-hari dimandikan oleh seorang abdi dalem bernama Ki Sapa Wira.
Suatu ketika, Ki Sapa Wira tidak dapat menjalankan tugasnya karena tangan beliau sakit, sehingga tugas memandikan gajah digantikan oleh Ki Kerti Peyok.
Naas, saat sedang memandikan gajah di sungai, hujan deras turun dan memicu banjir bandang yang menyeret Ki Kerti Peyok bersama Kyai Dwipangga hingga keduanya tewas. Dari peristiwa tersebut, Sultan Agung menamai sungai itu Kali Gajah Wong, merujuk pada gajah dan wong (orang) yang hanyut.
Nama bersejarah ini akhirnya diabadikan pada KA Argo Dwipangga, yang mulai beroperasi secara resmi pada 5 Oktober 1998 melayani relasi Solo Balapan–Gambir PP.
2. KA Sembrani
.jpg)
Ilustrasi: Instagram/@kai121
Nama Sembrani berasal dari sosok kuda bersayap dalam mitologi Jawa, yang mirip dengan legenda Pegasus dalam mitologi Yunani. Menurut legenda tersebut, hewan mitologis ini disebut memiliki kemampuan terbang tinggi dan memiliki sifat pemberani.
Dalam tradisi lisan dan kesusastraan Jawa, Kuda Sembrani kerap dikaitkan sebagai kendaraan tunggangan para raja dan bangsawan. Sementara dalam dunia pewayangan, Sembrani dikenal luas sebagai kuda tunggangan Batara Wisnu.
KA Sembrani resmi beroperasi mulai 1 Oktober 1995 melayani koridor Surabaya Pasar Turi–Gambir PP. Hingga kini, layanan KA Sembrani tetap menjadi salah satu andalan KAI di jalur utara yang turut menghadirkan kelas layanan Luxury.
3. KA Turangga
Berbeda dari Sembrani yang merujuk pada makhluk mitologi spesifik, Turangga berasal dari bahasa Kawi (Jawa Kuno) yang berarti kuda, khususnya kuda tunggangan raja dan para bangsawan.Dalam berbagai naskah dan kisah klasik Jawa, Turangga digambarkan sebagai kuda yang memiliki ketahanan luar biasa serta mampu berlari sangat cepat. Penamaan Turangga pun membawa citra kecepatan, kekuatan, sekaligus kemegahan khas lingkungan istana.
Nama ini disematkan pada KA Turangga sejak resmi meluncur pada 1 September 1995 dengan relasi Bandung–Surabaya Gubeng PP. Rute legendaris lintas selatan ini tetap dipertahankan dan terus melayani masyarakat hingga saat ini.
4. KA Sancaka
KA Sancaka disebut terinspirasi dari sosok mitologis Ratu Ular Sancaka, sebagaimana dijelaskan oleh KAI melalui akun resmi Instagram @kai121_.Menurut penjelasan KAI, Ratu Ular Sancaka digambarkan sebagai sosok pengayom yang tangguh dan sanggup bertahan hidup dalam berbagai kondisi. Karakter inilah yang diadaptasi menjadi identitas kereta api penghubung dua kota penting di Jawa Bagian Tengah dan Timur.
Di dunia nyata, istilah sancaka merupakan singkatan dari nama ular sanca kembang (Malayopython reticulatus), jenis ular piton khas Asia Tenggara yang panjangnya dapat melebihi 8,5 meter.
KA Sancaka mulai mengabdi sejak 20 Mei 1997 melayani relasi Yogyakarta–Surabaya Gubeng PP dan terus menjadi salah satu rute terfavorit masyarakat.
5. KA Taksaka
Jika dicari nama kereta dengan akar mitologi Hindu paling kuat dan jelas, Taksaka adalah salah satunya.Dalam mitologi Hindu, Takshaka (Taksaka) merupakan sosok naga agung putra dari Kadru dan Kashyapa yang bersemayam di Nagaloka. Sosok ini memegang peranan penting dalam wiracarita Mahabharata sebagai naga yang menewaskan Raja Parikesit. Tradisi masyarakat Bali pun mengenal Taksaka sebagai sosok naga suci penghuni kahyangan.
KAI mengabadikan nama naga ini untuk KA Taksaka yang meluncur pertama kali pada 19 September 1999 dengan relasi Yogyakarta–Gambir PP.
Kereta ini terkenal sering menjadi pelopor inovasi layanan KAI, mulai dari menghadirkan fasilitas live cooking, Entertainment on Board, Kereta Panoramic, hingga kereta kelas Eksekutif dan Luxury New Generation.
6. KA Lodaya
Nama Lodaya memiliki kaitan erat dengan tradisi lisan dan cerita rakyat masyarakat Sunda.KAI menjelaskan bahwa Lodaya terinspirasi dari sosok macan kumbang yang gagah, perkasa, dan gesit. Sosok macan ini lekat dengan legenda Prabu Siliwangi dari Kerajaan Pajajaran. Konon, ketika Sang Prabu bertarung dengan macan tersebut pada masa mudanya, beliau berhasil menundukkannya dan menjadikannya sebagai khodam atau pendamping spiritual.
Sosok macan memang banyak muncul dalam tradisi lisan Sunda yang berkaitan dengan Siliwangi dan Kerajaan Pajajaran, termasuk kisah sang raja yang menjelma menjadi macan di Gunung Salak untuk menghindari pertumpahan darah dengan putranya.
Nama ini disematkan pada KA Lodaya sejak 12 Mei 2000 untuk melayani koridor Bandung–Solo Balapan PP. Hingga kini, KA Lodaya terus melayani rute tersebut dengan pembaruan sarana seperti armada Stainless Steel New Generation.
7. KA Harina
Nama Harina berbeda dari Taksaka atau Sembrani karena tidak merujuk pada entitas mitologis tertentu, melainkan terinspirasi dari bahasa klasik.Kata Harina berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti kijang atau antelop betina. Satwa ini dikenal anggun serta memiliki kecepatan lari yang sangat tinggi, hewan yang sangat relevan untuk menggambarkan layanan armada transportasi cepat.
KA Harina mulai resmi melayani penumpang sejak 20 Mei 2003 dengan relasi Bandung–Surabaya Pasar Turi PP melalui jalur poros tengah Jawa.
8. KA Gumarang
Asal-usul nama Gumarang sangat kaya karena hadir dalam lebih dari satu tradisi kebudayaan di Nusantara.Menurut rilis resmi KAI, Gumarang terinspirasi dari sosok sapi hutan yang gagah, kuat, dan lincah. Karakter tangguh ini dipilih sebagai representasi layanan kereta yang membelah jalur pantura (pantai utara) Pulau Jawa.
Namun di sisi lain, nama Gumarang juga sangat tersohor dalam sastra lisan Minangkabau melalui cerita rakyat Cindua Mato. Dalam kisah tersebut, Kuda Gumarang merupakan seekor kuda putih sakti nan cerdas milik Cindua Mato yang mampu berlari secepat angin.
KAI mulai mengoperasikan KA Gumarang sejak 20 Mei 2001 untuk relasi Surabaya Pasar Turi–Pasar Senen PP. Kereta ini terus mengalami pembaruan kapasitas dan armada, termasuk penyediaan kelas Eksekutif dan Ekonomi Stainless Steel New Generation.
Penggunaan nama-nama di atas membuktikan bahwa identitas perkeretaapian di Indonesia tidak sekadar urusan geografis atau penunjuk asal dan tujuan. Lebih dari itu, cerita rakyat, bahasa kuno, mitologi, hingga simbolisme satwa lokal turut teranyam menjadi identitas budaya yang terus hidup di atas roda besi Nusantara.