Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono berbicara dalam acara Supermentor di Jakarta, Selasa, 14 April 2026. (Metrotvnews.com / Muhammad Reyhansyah)
SBY Peringatkan Konflik Timur Tengah Bisa Picu Krisis Ekonomi Global
Muhammad Reyhansyah • 15 April 2026 09:50
Jakarta: Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) memperingatkan konflik berkepanjangan di Timur Tengah berpotensi memicu krisis ekonomi global, jika tidak segera diselesaikan melalui jalur diplomasi.
SBY menyampaikan harapannya agar perundingan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang berlangsung di Islamabad, Pakistan dapat menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri perang.
“Mudah-mudahan yang sekarang sedang berlangsung di Islamabad antara delegasi Amerika dan Iran bisa menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri perang,” ujar SBY dalam acara Supermentor di Jakarta, Selasa, 14 April 2026.
Menurut dia, konflik yang terus berlanjut tidak hanya berdampak pada kawasan, tetapi juga akan mengguncang perekonomian global secara luas.
“Kalau perang masih begini di Timur Tengah, semua negara kena. Ekonomi akan berantakan di seluruh dunia,” katanya.
SBY menegaskan bahwa tidak ada solusi instan dalam penyelesaian konflik, sehingga dibutuhkan kompromi dari semua pihak yang terlibat.
“Tidak ada resep ajaib untuk sebuah kesepakatan. Perlu ada take and give, kompromi, dan kesediaan masing-masing pihak untuk mundur satu langkah,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa bahkan jika kesepakatan damai berhasil dicapai, kondisi global tidak akan langsung kembali normal.
“Kalau perang berakhir hari ini, tidak berarti kita langsung kembali normal. Perlu waktu berbulan-bulan untuk menstabilkan ekonomi global,” ucapnya.
SBY kemudian memperingatkan risiko yang lebih besar apabila konflik tidak segera dihentikan, yakni potensi terulangnya krisis ekonomi global seperti yang terjadi pada 2008.
Pernyataan tersebut disampaikan di tengah perundingan damai antara AS dan Iran di Islamabad yang berakhir tanpa kesepakatan formal, meski gencatan senjata sementara masih berlangsung secara rapuh.
Konflik antara Iran dan aliansi AS–Israel yang pecah sejak akhir Februari lali telah berdampak luas, termasuk terganggunya jalur energi global di Selat Hormuz yang memicu kenaikan harga bahan bakar di berbagai negara.
Baca juga: Israel-Iran Memanas, SBY Sebut 5 Figur Penentu Masa Depan Dunia