Perang Timteng Ganggu Pelayaran Global, 400 Kapal Masih Terjebak di Kawasan Teluk

IMO menyebut sekitar 400 kapal dan 6.000 pelaut masih terjebak di kawasan Teluk akibat gangguan pelayaran. (Anadolu Agency)

Perang Timteng Ganggu Pelayaran Global, 400 Kapal Masih Terjebak di Kawasan Teluk

Willy Haryono • 29 August 2026 14:40

Teheran: Sekitar 400 kapal dan 6.000 pelaut masih terjebak di kawasan Teluk hingga enam bulan setelah perang di Timur Tengah dimulai, ujar Organisasi Maritim Internasional (IMO) pada Jumat, 28 Agustus 2026.

Kepala IMO Arsenio Dominguez mengatakan sejumlah kapal dan awak telah berhasil meninggalkan kawasan tersebut. Namun, ratusan kapal lainnya masih belum dapat keluar dengan aman.

"Meski sejumlah kapal dan awaknya telah berhasil meninggalkan Teluk, hingga 400 kapal yang membawa sekitar 6.000 pelaut masih belum dapat meninggalkan kawasan tersebut dengan aman sejak konflik dimulai," kata Dominguez, dikutip dari Anadolu.

Menurutnya, situasi di Selat Hormuz hingga kini belum terselesaikan. Jalur perairan strategis tersebut menjadi salah satu jalur utama perdagangan energi global, dengan sekitar seperlima perdagangan minyak dunia melintasinya.

70 Serangan terhadap Pelayaran

IMO telah memverifikasi sedikitnya 70 serangan terhadap pelayaran internasional sejak perang dimulai pada 28 Februari.

Serangkaian serangan tersebut menyebabkan 19 pelaut tewas, sementara gangguan terhadap jalur pelayaran turut memengaruhi distribusi berbagai komoditas penting.

Dominguez memperingatkan terganggunya rantai pasokan bahan bakar dan pupuk dapat menimbulkan dampak serius terhadap masyarakat dan perekonomian di berbagai negara.

Ia juga menyoroti kondisi ribuan pelaut yang masih berada di kawasan konflik. Menurut Dominguez, para pekerja tersebut harus bertahan dalam situasi dengan risiko dan ketidakpastian yang terus meningkat.

Kebebasan Navigasi

Sebelumnya, Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman pada Juni dan memulai perundingan untuk mencapai kesepakatan akhir guna mengakhiri konflik.

Namun, pembicaraan tersebut kemudian terhenti akibat perbedaan pendapat mengenai jaminan keamanan dan kebebasan navigasi di Selat Hormuz.

Dominguez menyerukan komitmen politik yang lebih kuat dari negara-negara anggota IMO dan industri pelayaran untuk memulihkan kebebasan navigasi di jalur strategis tersebut.

Menurutnya, penyelesaian gangguan terhadap pelayaran diperlukan untuk melindungi keselamatan awak kapal sekaligus menjaga kelancaran rantai pasokan global. (Razaqa Hariz)

Baca juga: Qatar Dorong Diplomasi untuk Pastikan Selat Hormuz Tetap Terbuka

(Willy Haryono)