Ilustrasi emas. Foto: Pixabay
Harga Emas Tertahan, Investor Tunggu Arah Suku Bunga The Fed
Eko Nordiansyah • 27 August 2026 11:35
Jakarta: Harga emas dunia berpotensi bergerak volatil pada perdagangan Kamis, 27 Agustus 2026, dengan kecenderungan melemah. Investor masih mencermati arah kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed) setelah data inflasi Amerika Serikat (AS) menunjukkan tekanan harga belum sepenuhnya mereda.
Analis Dupoin Futures Geraldo Kofit mengatakan, pergerakan harga emas atau XAU/USD masih menghadapi tekanan setelah belum mampu menembus area resistance di kisaran USD4.649-USD4.672 per ons.
Zona tersebut menjadi area yang perlu diperhatikan pelaku pasar. Jika harga kembali gagal menembus dan bertahan di atas level tersebut, tekanan jual berpotensi berlanjut dan membawa harga menuju support sekitar USD4.583 per ons.
"Selama kondisi tersebut bertahan, tekanan jual berpotensi kembali muncul dan membawa harga emas menuju level support terdekat di sekitar USD4.583," kata Geraldo dalam keterangan tertulis, Kamis, 27 Agustus 2026.
Menurut dia, pergerakan emas saat ini mencerminkan tarik-menarik antara faktor teknikal dan fundamental. Dari sisi fundamental, investor masih memperhitungkan perkembangan inflasi AS, pergerakan dolar, serta imbal hasil obligasi pemerintah AS sebagai faktor yang menentukan daya tarik emas.
.jpg)
(Ilustrasi. Foto; Unplash)
Inflasi AS jadi perhatian
Harga emas sebelumnya mendapat dukungan dari pelemahan dolar AS dan penurunan yield Treasury. Kondisi tersebut dapat meningkatkan daya tarik emas karena opportunity cost memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil menjadi lebih rendah.Namun, ruang penguatan emas menghadapi tantangan setelah data Personal Consumption Expenditures (PCE) AS menunjukkan inflasi masih berada di atas target The Fed.
PCE secara keseluruhan naik 3,7 persen secara tahunan pada Juli 2026, sedangkan PCE inti meningkat 3,3 persen. Angka tersebut masih berada di atas target inflasi jangka panjang The Fed sebesar dua persen.
"Jika tekanan inflasi dinilai masih persisten, ruang bagi bank sentral AS untuk mempertahankan kebijakan suku bunga yang lebih ketat dapat semakin besar," ujar Geraldo.
Kondisi tersebut menjadi penting bagi pasar emas karena suku bunga yang lebih tinggi dapat meningkatkan imbal hasil aset berbasis dolar dan pada saat yang sama mengurangi daya tarik aset yang tidak memberikan bunga seperti emas.
Jackson Hole jadi penentu sentimen
Perhatian investor selanjutnya tertuju pada perkembangan kebijakan moneter AS, termasuk pernyataan pejabat The Fed dalam konferensi tahunan Jackson Hole.Pasar mencermati pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh untuk mencari petunjuk mengenai arah suku bunga dalam beberapa bulan mendatang.
Jika pernyataan The Fed cenderung hawkish, dolar AS dan yield Treasury berpotensi menguat. Kondisi tersebut dapat meningkatkan tekanan terhadap harga emas.
Sebaliknya, sinyal yang lebih dovish dan memperkuat ekspektasi penurunan suku bunga dapat menekan dolar serta yield obligasi. Kondisi tersebut berpotensi kembali meningkatkan minat investor terhadap emas.
"Jika komentar dari pejabat The Fed cenderung hawkish, dolar AS dan imbal hasil obligasi berpotensi kembali menguat. Skenario tersebut dapat memberikan tekanan terhadap harga emas," kata Geraldo.
Resistance USD4.649 jadi perhatian
Dari sisi teknikal, Geraldo menilai area USD4.649-USD4.672 menjadi level penting untuk melihat kekuatan pembeli. Jika harga mampu menembus dan ditutup secara valid di atas area tersebut, prospek emas dalam jangka pendek dapat kembali positif.Sebaliknya, kegagalan menembus resistance tersebut dapat mempertahankan tekanan jual dengan target awal menuju USD4.583.
"Jika tekanan jual meningkat, kemampuan harga untuk bertahan di sekitar level tersebut akan menjadi penentu apakah koreksi hanya bersifat sementara atau berkembang menjadi pelemahan yang lebih dalam," ujar dia.
Dengan demikian, pergerakan emas dalam jangka pendek akan sangat dipengaruhi kombinasi faktor makro dan teknikal. Selain level harga, investor perlu mencermati perkembangan inflasi AS, dolar, yield Treasury, serta komunikasi The Fed mengenai arah kebijakan suku bunga.