Ilustrasi. Foto: Freepik.
Dolar AS Menguat, Ekspektasi Suku Bunga The Fed Jadi Perhatian
Eko Nordiansyah • 27 August 2026 09:00
New York: Dolar Amerika Serikat (AS) menguat pada Rabu, 26 Agustus 2026, setelah data inflasi menunjukkan tekanan harga masih bertahan. Kondisi tersebut mendorong pasar memperhitungkan kembali prospek kebijakan suku bunga Federal Reserve (The Fed).
Dikutip dari Investing, Kamis, 27 Agustus 2026, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan mata uang Negeri Paman Sam terhadap enam mata uang utama naik 0,3 persen menjadi 99,16.
Penguatan dolar terjadi ketika pelaku pasar mulai mengurangi ekspektasi terhadap pelonggaran kebijakan moneter AS dalam waktu dekat.
Inflasi AS jadi perhatian pasar
Data Biro Analisis Ekonomi (BEA) menunjukkan indeks harga core personal consumption expenditures (PCE) meningkat 0,2 persen secara bulanan pada Juli 2026 dan tumbuh 3,3 persen secara tahunan.Secara bulanan, kenaikan tersebut lebih cepat dibandingkan Juni. Sementara secara tahunan, inflasi inti bertahan di level 3,3 persen, masih jauh di atas target jangka panjang The Fed sebesar dua persen.
PCE secara keseluruhan juga naik 0,2 persen secara bulanan dan 3,7 persen secara tahunan pada Juli, sedikit lebih tinggi dari perkiraan pasar.
Kondisi tersebut menunjukkan tekanan inflasi AS belum sepenuhnya mereda, meskipun perekonomian masih menunjukkan ketahanan.
Indikator ekonomi lainnya turut memperlihatkan kondisi tersebut. Estimasi kedua BEA mempertahankan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) riil AS pada kuartal II-2026 sebesar 1,5 persen.
Sementara itu, pesanan baru barang manufaktur tahan lama pada Juli meningkat 1,1 persen, lebih tinggi dari perkiraan sebesar 0,4 persen.
Kombinasi inflasi yang masih tinggi dan aktivitas ekonomi yang relatif solid memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertahankan suku bunga sembari menunggu perkembangan data ekonomi berikutnya.
Perubahan ekspektasi tersebut tercermin dalam CME FedWatch. Probabilitas The Fed mempertahankan suku bunga pada September meningkat menjadi hampir 64 persen, dari sekitar 60 persen sehari sebelumnya.
.jpg)
(Ilustrasi. Foto: Dok MI)
Dolar kembali mendapat dukungan
Penguatan dolar juga berlangsung di tengah volatilitas pasar obligasi AS.Kekhawatiran terhadap inflasi, harga minyak, serta besarnya pembiayaan perusahaan untuk membangun infrastruktur kecerdasan buatan (AI) sebelumnya memicu aksi jual obligasi pemerintah AS tenor panjang.
Kondisi tersebut mendorong kenaikan imbal hasil (yield) Treasury. Secara umum, kenaikan yield dapat meningkatkan daya tarik aset berdenominasi dolar karena memberikan imbal hasil yang lebih tinggi bagi investor.
Namun, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal AS sempat membatasi penguatan dolar. Utang pemerintah AS telah melampaui USD40 triliun, sehingga investor juga memperhitungkan risiko fiskal dalam menentukan alokasi aset.
Dalam situasi tersebut, sebagian investor mengalihkan dana ke aset seperti emas dan aset kripto sebagai bagian dari strategi debasement trade. Akibatnya, indeks dolar AS sempat turun hampir satu persen pada pekan sebelumnya.
Kini, perhatian pasar beralih pada pidato Ketua The Fed Kevin Warsh dalam konferensi tahunan Jackson Hole pada Jumat. Pernyataan tersebut akan menjadi salah satu petunjuk penting mengenai arah kebijakan moneter AS selanjutnya.
Mata uang utama bergerak beragam
Di pasar valuta asing lainnya, dolar Kanada kembali melemah terhadap dolar AS. Pasangan USD/CAD naik 0,3 persen menjadi 1,3877.Pergerakan dolar Kanada masih dipengaruhi ketegangan perdagangan antara Washington dan Ottawa setelah perundingan perdagangan kedua negara mengalami kebuntuan dan tarif balasan mulai diberlakukan.
Yen Jepang juga melemah. Pasangan USD/JPY naik 0,1 persen menjadi 159,34. Yen masih berada di bawah level 160 yang dipandang sebagai salah satu batas penting bagi otoritas Jepang.
Sementara itu, euro turun 0,2 persen menjadi USD1,1651. Pelaku pasar mencermati pernyataan anggota Dewan Eksekutif Bank Sentral Eropa (ECB) Isabel Schnabel yang menilai kenaikan suku bunga masih diperlukan meskipun harga energi turun.
Dolar Australia naik tipis 0,1 persen menjadi USD0,7172. Data inflasi Australia menunjukkan indeks harga konsumen naik 0,6 persen secara bulanan pada Juli, sedangkan secara tahunan meningkat 3,5 persen, melambat dari 3,8 persen pada Juni.
Dengan demikian, arah dolar AS dalam jangka pendek masih akan sangat ditentukan oleh perkembangan inflasi dan kebijakan The Fed. Jika tekanan harga bertahan tinggi dan bank sentral menunda pelonggaran, ruang penguatan dolar masih terbuka.