Perbedaan Gempa Tektonik dan Vulkanik serta Karakteristiknya

Ilustrasi gempa. Medcom.id

Perbedaan Gempa Tektonik dan Vulkanik serta Karakteristiknya

Putri Purnama Sari • 8 September 2026 18:09

Jakarta: Gempa bumi merupakan salah satu bencana alam yang sering terjadi di Indonesia. Berdasarkan penyebabnya, gempa bumi antara lain dapat dibedakan menjadi gempa tektonik dan gempa vulkanik.

Secara umum, gempa tektonik berkaitan dengan pergerakan lempeng bumi atau sesar, sedangkan gempa vulkanik terjadi akibat aktivitas gunung api, terutama pergerakan magma menuju permukaan.

Lantas, apa perbedaan gempa tektonik dan gempa vulkanik? Mengutip dari Instagram resmi @badan.geologi, berikut informasinya.

Apa Itu Gempa Tektonik?

Gempa tektonik adalah gempa yang terjadi akibat patahan atau pergeseran lempeng bumi secara tiba-tiba. Peristiwa ini terjadi ketika lempeng bumi bertabrakan, bergeser, atau saling menjauh hingga menyebabkan batuan patah dan melepaskan gelombang seismik.

Jangkauan dampak gempa tektonik dapat berbeda-beda. Pada sesar lokal yang dangkal, guncangan kuat biasanya lebih terbatas di sekitar pusat gempa.

Sementara itu, gempa yang berkaitan dengan patahan lempeng atau megathrust dapat memiliki magnitudo sangat besar dan dampaknya bisa dirasakan hingga radius yang sangat jauh.

Apa Itu Gempa Vulkanik?


Tampilan foto udara erupsi Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, Sabtu (5/9/2026). ANTARA/HO-Badan Geologi KESDM/aa.

Berbeda dengan gempa tektonik, gempa vulkanik terjadi akibat aktivitas vulkanisme atau pergerakan magma menuju permukaan.

Magma yang bergerak dapat memberikan tekanan terhadap batuan di sekitar kawah sehingga memicu getaran. Karena berkaitan dengan aktivitas gunung api, gempa vulkanik umumnya memiliki jangkauan yang lebih terbatas, yakni di sekitar kawasan gunung api.

Kemunculan gempa vulkanik juga dapat menjadi salah satu tanda adanya perubahan aktivitas gunung api yang perlu dipantau.

Perbedaan Gempa Tektonik dan Gempa Vulkanik

Perbedaan gempa tektonik dan gempa vulkanik dapat dilihat dari sumber, kekuatan, pola gelombang, jangkauan dampak, kedalaman, hingga karakteristik kejadiannya.

1. Sumber Gempa

Gempa tektonik bersumber dari patahan atau pergeseran lempeng tektonik, baik pada sesar lokal maupun zona megathrust. Sementara gempa vulkanik berkaitan dengan pergerakan magma, dinamika gas, serta retakan batuan di kawasan gunung api.

2. Kekuatan Gempa

Gempa tektonik memiliki kekuatan yang sangat bervariasi, mulai dari gempa kecil hingga gempa dengan magnitudo sangat besar, termasuk yang dapat melebihi M 8,0. Sementara itu, gempa vulkanik cenderung berkekuatan kecil hingga sedang dan jarang mencapai magnitudo lebih dari M 5,0.

3. Pola Gelombang

Pada gempa tektonik, gelombang P dan S umumnya terlihat jelas. Adapun pada gempa vulkanik, fase gelombang cenderung tidak jelas dan lebih dominan berupa getaran atau tremor kontinu.

4. Jangkauan Dampak

Jangkauan gempa tektonik dapat sempit hingga sangat luas, tergantung energi atau magnitudo, kedalaman, serta lokasi sesar. Gempa tektonik juga dapat memicu tsunami apabila patahan menyebabkan perubahan atau deformasi dasar laut maupun memicu longsoran bawah laut.

Sementara itu, dampak gempa vulkanik umumnya sangat lokal dan terbatas di sekitar kompleks gunung api. Namun, aktivitas gunung api juga dapat berkaitan dengan tsunami apabila material gunung api mengalami longsoran massal ke laut, seperti yang pernah terjadi di kawasan Gunung Anak Krakatau.

5. Kedalaman Gempa

Kedalaman gempa tektonik cukup bervariasi. Gempa dapat tergolong dangkal dengan kedalaman kurang dari 70 kilometer, menengah pada kedalaman 70–300 kilometer, hingga dalam dengan kedalaman lebih dari 300 kilometer.

Sebaliknya, gempa vulkanik umumnya sangat dangkal, terutama berada pada kedalaman kurang dari 10 kilometer di bawah kawah.

6. Karakteristik Kejadian

Gempa tektonik umumnya memiliki gempa utama (mainshock) yang kemudian dapat diikuti oleh gempa susulan (aftershocks). Sementara itu, gempa vulkanik dapat muncul dalam pola kawanan gempa atau swarms, maupun berupa getaran yang berlangsung terus-menerus atau tremor.

Tugas BMKG dan PVMBG dalam Memantau Gempa

Pemantauan gempa tektonik dan aktivitas gunung api dilakukan oleh lembaga yang memiliki tugas berbeda.

1. BMKG

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) bertugas memantau, menganalisis, dan memetakan kejadian gempa tektonik di seluruh wilayah Indonesia secara real-time.

BMKG juga memberikan peringatan dini tsunami untuk gempa tektonik yang berpotensi menimbulkan tsunami.

2. PVMBG

Sementara itu, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memantau aktivitas seismik gunung api melalui Pos Pengamatan Gunung Api (PGA).

PVMBG juga melakukan analisis terhadap potensi erupsi dan menentukan tingkat status aktivitas gunung api, yaitu Normal, Waspada, Siaga, dan Awas.

Pentingnya Memahami Perbedaan Gempa Tektonik dan Vulkanik

Gempa tektonik dan gempa vulkanik sama-sama menghasilkan getaran, tetapi memiliki sumber dan karakteristik yang berbeda. Gempa tektonik berkaitan dengan pergerakan lempeng atau sesar, sedangkan gempa vulkanik berkaitan dengan aktivitas gunung api.

Masyarakat diimbau untuk selalu mengikuti informasi dan peringatan resmi dari BMKG dan PVMBG, terutama ketika terjadi gempa atau peningkatan aktivitas gunung api. Informasi resmi penting untuk membantu masyarakat mengambil langkah mitigasi yang tepat.

(Putri Purnama Sari)