Ilustrasi surat utang/bonds. Foto: bigalpha.id
Panda Bonds Disebut Lebih Menarik dari Dim Sum Bonds, Ini Penjelasan Menkeu Purbaya
Husen Miftahudin • 11 May 2026 14:34
Jakarta: Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyatakan surat utang global berdenominasi yuan atau Panda Bonds memiliki daya tarik yang lebih besar dari Dim Sum Bonds lantaran menawarkan imbal hasil (yield) yang lebih kompetitif.
Adapun Panda Bonds rencananya diterbitkan bulan depan, sedangkan Dim Sum Bonds dirilis pada Oktober 2025. Purbaya menjelaskan, Panda Bonds nantinya akan menawarkan imbal hasil yang lebih rendah dibandingkan Dim Sum Bonds.
Imbal hasil Dim Sum Bonds sebelumnya berkisar pada rentang 2,5 persen hingga 2,9 persen. Sementara saat ini, penawaran imbal hasil di pasar keuangan Tiongkok berada pada rentang 2,3 persen hingga 2,5 persen.
Namun sejauh ini, pihaknya belum menentukan target jumlah penerbitan Panda Bonds. Purbaya hanya memberikan arahan kepada Direktur Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko Kemenkeu Suminto untuk membuka penawaran Panda Bonds dalam jumlah besar bila menerima penawaran masuk yang tinggi.
Penerbitan obligasi ini, kata Purbaya, bakal menambah diversifikasi portofolio sehingga mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap dolar AS.
"Saya bilang ke Pak Minto (Dirjen Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko) kalau banyak peminatnya, perbanyakkan di situ. Kalau bunganya lebih rendah, kan hemat kita," tutur Purbaya saat ditemui di kantor Kementerian Keuangan (Kemenkeu), Jakarta, dikutip dari Antara, Senin, 11 Mei 2026.
| Baca juga: Indonesia Incar Dana dari Tiongkok, Panda Bonds Ditargetkan Terbit Juni 2026 |

(Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Foto: dok Istimewa)
Strategi diversifikasi pembiayaan
Sebelumnya, Purbaya menjelaskan penerbitan Panda Bonds merupakan strategi diversifikasi pembiayaan agar Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) lebih kokoh karena tidak bergantung pada satu sumber tertentu.
Dia melanjutkan, Tiongkok memiliki likuiditas yang memadai serta pasar keuangan berkapasitas besar sehingga diyakini mampu menyerap instrumen utang pemerintah Indonesia. Selain itu, pasar keuangan Tiongkok juga menawarkan imbal hasil (yield) kompetitif dengan rentang 2,3 persen hingga 2,5 persen.
Faktor potensial lainnya, menurut Purbaya, yaitu pasar Tiongkok menaruh kepercayaan yang cukup kuat terhadap fundamental ekonomi Indonesia, sehingga penilaiannya tak rentan terpengaruh oleh peringkat kredit.
Dia pun mengaku telah bertemu dengan Industrial and Commercial Bank of China (ICBC), yakni Tiongkok menyatakan siap untuk berpartisipasi dalam penerbitan Panda Bonds.
Sebagai timbal balik dari intensi penerbitan Panda Bonds, Pemerintah Indonesia juga membuka peluang bagi Tiongkok untuk menerbitkan surat utang atau obligasi di pasar domestik.