7 Tradisi Unik Perayaan 1 Muharam di Indonesia, Apa Saja?

Pawai takbiran keliling di Kota Banda Aceh. Medcom.id/ Fajri Fatmawati

7 Tradisi Unik Perayaan 1 Muharam di Indonesia, Apa Saja?

Riza Aslam Khaeron • 16 June 2026 19:10

Jakarta: Tahun Baru Islam 1 Muharam 1448 Hijriah jatuh pada hari ini, Selasa, 16 Juni 2026. Momentum sakral ini juga telah ditetapkan oleh pemerintah sebagai hari libur nasional berdasarkan SKB 3 Menteri tentang Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama 2026.
 
Di Indonesia, peringatan 1 Muharam tidak hanya diperingati melalui ritual keagamaan di masjid, seperti zikir, pengajian, dan doa bersama. Berbagai daerah di Nusantara juga menyambutnya dengan beragam tradisi unik yang diwariskan secara turun-temurun.

Mulai dari kirab pusaka yang sakral, arak-arakan budaya yang meriah, hingga ritual makan bersama sebagai simbol rasa syukur dan harapan akan keselamatan.

Berikut adalah tujuh tradisi unik perayaan 1 Muharam di Indonesia yang sarat akan makna:
 

1. Kirab Kebo Bule di Solo


Sejumlah kerbau bule keturunan Kyai Slamet diarak dalam gladi bersih Kirab Malam 1 Suro di kawasan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Sabtu, 13 Juni 2026. (ANTARA FOTO/Maulana Surya/foc)

Salah satu tradisi malam 1 Suro atau 1 Muharam yang paling ikonik dan dinanti-nantikan adalah Kirab Kebo Bule di Surakarta, Jawa Tengah. Tradisi yang diselenggarakan oleh Keraton Kasunanan Surakarta ini berfokus pada prosesi mengarak pusaka keraton yang dikawal oleh barisan kebo bule (kerbau albino) yang dipercaya sebagai peninggalan Kyai Slamet.

Eksis selama berabad-abad sejak masa pemerintahan Sultan Agung hingga Pakubuwono X, prosesi agung ini dimulai dengan doa bersama di dalam keraton.

Setelah itu, iring-iringan pusaka mulai diarak memutari rute tradisional dalam suasana yang sunyi, dipimpin langsung oleh kerbau-kerbau albino keramat.
 

2. Mubeng Beteng di Yogyakarta


Masyarakat Yogyakarta ikuti Mubeng Beteng sambut tahun baru Jawa tahun 2025. (Dok. Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat)

Masih dari tanah Mataram, Yogyakarta memiliki tradisi tandingan yang tak kalah khidmat bernama Mubeng Beteng atau Lampah Mubeng Beteng pada malam hari menjelang 1 Suro.

Dalam prosesi ini, para abdi dalem Keraton Yogyakarta bersama ribuan masyarakat berjalan kaki mengelilingi benteng keraton dengan ritual tapa bisu (menjaga lisan untuk tidak berbicara sepanjang rute perjalanan).
 

3. Grebeg Suro di Ponorogo


Pembukaan Grebeg Suro 2026. (Dok. Pemerintah Kabupaten Ponorogo)

Di Jawa Timur, perayaan tahun baru Islam disambut dengan kemeriahan festival budaya tahunan bertajuk Grebeg Suro di Ponorogo. Berbeda dengan nuansa hening di Solo dan Jogja, perayaan di sini memadukan unsur religi, seni pertunjukan, dan pelestarian sejarah lokal secara megah.

Salah satu puncak acaranya adalah kirab pusaka leluhur serta arak-arakan gunungan hasil bumi raksasa yang dalam bahasa Jawa dikenal dengan sebutan Bucengan. Gunungan ini kemudian diperebutkan oleh masyarakat sebagai simbol berkah dan ungkapan rasa syukur atas melimpahnya hasil panen selama setahun terakhir.
 

4. Tabuik/Tabot


Warga ikut mengarak menara tabut di alun-alun Kota Bengkulu, Bengkulu, Selasa, 16 Juli 2024. (ANTARA FOTO/Muhammad Izfaldi/Spt)

Menyeberang ke Pulau Sumatra, masyarakat Pariaman di Sumatera Barat menggelar festival budayayang dikenal sebagai tradisi Tabuik (atau tradisi Tabot di Bengkulu). Festival kolosal ini diadakan khusus untuk memperingati hari wafatnya cucu Nabi Muhammad saw., Hussein bin Ali, dalam peristiwa Karbala.

Rangkaian upacara Tabuik berlangsung semarak mulai dari tanggal 1 Muharam hingga mencapai puncaknya pada 10 Muharam.

Prosesi adat yang kolosal ini terdiri dari berbagai tahapan ritual sakral yang runut, mulai dari pamit rajo agung (doa memohon keselamatan), mengambik tanah, duduk penja, menjara, meradai, arak penja, arak sorban, gam, tabut naik pangkek, arak gedang, soja, cuci penja, hingga diakhiri dengan prosesi melarung struktur Tabuik ke laut (tabut tebuang). 

Setiap tahapan prosesi ini secara simbolis mengisahkan kembali perjuangan serta pencarian jasad maupun potongan helai rambut Al-Hussein yang gugur sebagai syuhada di Padang Karbala.

Merujuk pada laman Kementerian Keuangan (Kemenkeu), tradisi  ini diperkirakan telah eksis di Nusantara sejak tahun 1685 M dan pertama kali dirayakan oleh Syekh Burhanuddin, atau Imam Senggolo.
 
Baca Juga:
Pawai 1 Muharam Jaktim Dongkrak Jasa Sewa Odong-Odong
 

5. Sedekah Gunung Merapi di Boyolali


Warga membawa kepala kerbau saat Tradisi Sedekah Kepala Kerbau Gunung Merapi di Lencoh, Selo, Boyolali, Jawa Tengah, Jumat, 29 Juli 2022. (ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho/rwa.)

Bagi warga yang bermukim di lereng Gunung Merapi, khususnya di Kecamatan Selo, Boyolali, Jawa Tengah, malam 1 Suro dirayakan dengan menggelar upacara Sedekah Gunung Merapi.

Prosesi dimulai dengan kirab kepala kerbau dan ribuan tumpeng sesaji menuju Joglo Merapi. Setelah doa bersama dipanjatkan untuk memohon keselamatan dari bencana alam serta kesuburan tanah, warga membawa kepala kerbau tersebut mendaki ke puncak gunung di tengah malam untuk dilarung.

 

6. Bubur Suro


Warga mengemas bubur suro sebelum dibagikan di padepokan kawasan Makam Ki Ageng Gribig, Kota Malang, Jawa Timur, Selasa, 16 Juni 2026. (ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/nz)

Kuliner khas juga memegang peranan penting dalam penyambutan tahun baru Hijriah di tanah Jawa melalui tradisi pembuatan Bubur Suro. Hidangan khas ini biasanya diolah secara khusus untuk dinikmati bersama keluarga besar, dibagikan kepada tetangga terdekat, atau disajikan dalam acara kenduri warga.
 

7. Pawai Obor Nusantara


Sejumlah warga mengikuti pawai obor dan dondang di Cikiwul, Bantargebang, Bekasi, Jawa Barat, Senin, 15 Juni 2026. (ANTARA FOTO/Darryl Ramadhan/bar)

Melengkapi semarak perayaan, tradisi Pawai Obor menjadi pemandangan yang sangat akrab di berbagai kota dan desa di Indonesia pada malam 1 Muharam. Kegiatan ini biasanya digerakkan oleh anak-anak, remaja masjid, dan tokoh masyarakat setempat.

Sambil memegang obor bambu tradisional yang menyala terang, para peserta berjalan berkeliling lingkungan sekitar sembari melantunkan selawat, puji-pujian kepada Allah Swt., dan lagu-lagu Islami secara serempak.

Keberagaman tradisi di atas menegaskan bahwa peringatan 1 Muharam di Indonesia tidak hanya mewujud dalam bentuk ibadah spiritual semata, tetapi juga terefleksi indah lewat ekspresi kebudayaan lokal yang sangat kaya.

Meskipun dikemas dalam ritual dan tata cara yang berbeda di setiap daerah, esensi yang diusung tetaplah satu: menyambut tahun baru dengan untaian doa, rasa syukur, mawas diri, serta harapan besar akan kehidupan masa depan yang jauh lebih baik.

(Muhamad Marup)