Wakil Ketua Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI), Agus Purwanto. Dokumentasi/ istimewa.
Menghidupkan Kembali Kecintaan pada Batik Asli Lewat Puspa Nuswantara 2026
Deny Irwanto • 1 July 2026 18:47
Jakarta: Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI) akan menggelar Pagelaran Seni Batik Puspa Nuswantara 2026 di Jakarta International Convention Center (JICC), Senayan, pada 8-12 Juli 2026. Mengusung tema 'Rupa Makna Tambal Nusantara', kegiatan ini menjadi ruang promosi, edukasi, apresiasi, sekaligus kolaborasi untuk memperkuat keberlanjutan batik asli Indonesia.
Pagelaran yang mengusung tagline 'Asli Batiknya, Asli Harganya dan Asli Perajinnya' ini hadir sebagai upaya memperkuat posisi batik tradisional di tengah semakin maraknya produk tekstil bermotif batik yang diproduksi secara massal.
"Kondisi tersebut membuat masyarakat semakin sulit membedakan batik tulis, batik cap, batik kombinasi, dengan tekstil bermotif batik," kata Ketua Umum APPBI Komarudin Kudiya dalam keterangan pers di Jakarta, Rabu, 1 Juli 2026.

Asosiasi Perajin dan Pengusaha Batik Indonesia (APPBI). Dokumentasi/ istimewa.
APPBI menilai kondisi tersebut tidak hanya memengaruhi keberlangsungan usaha para perajin, tetapi juga berpotensi mengancam kelestarian pengetahuan tradisional yang menjadi identitas batik Nusantara.
"Melalui Pagelaran Seni Batik Puspa Nuswantara 2026, APPBI ingin membangkitkan kesadaran masyarakat untuk lebih mengenal dan mencintai batik asli Indonesia sekaligus memberikan ruang bagi para perajin untuk memperluas pasar dan memperkuat ekonomi kreatif berbasis budaya," jelas Komarudin.
Tema 'Rupa Makna Tambal Nusantara' dipilih sebagai simbol keberagaman, kekuatan, dan harapan. "Rupa" merepresentasikan kekayaan visual batik dari berbagai daerah, 'Makna' menggambarkan filosofi yang terkandung di balik setiap motif, sedangkan 'Tambal' menjadi metafora semangat kebersamaan dalam memperkuat kembali ekosistem batik Nusantara. Beragam kegiatan akan digelar selama lima hari pelaksanaan, mulai dari pameran koleksi batik Pakualaman Yogyakarta, peluncuran Batik Puspawicitra karya GKBRAA Paku Alam X, bedah buku Batik Tiga Negeri karya Komarudin Kudiya dan Afif Syakur, lelang batik, fashion show, talkshow Komunitas Cinta Berkain Indonesia, Pasar Batik Rakyat, hingga pertunjukan karya fesyen dari sejumlah perguruan tinggi di Jakarta dan Bandung.
APPBI menegaskan upaya menjaga keberlangsungan batik merupakan tanggung jawab bersama. Dukungan pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, media, komunitas budaya, pelaku industri kreatif, hingga masyarakat luas dinilai menjadi faktor penting dalam memastikan batik Indonesia tetap lestari dan mampu berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan nilai budayanya.
Melalui pagelaran ini APPBI mengajak masyarakat untuk semakin mengenal, menggunakan, dan mendukung batik asli Indonesia sebagai bagian dari identitas budaya bangsa sekaligus memperkuat kesejahteraan para perajin di berbagai daerah.