Podium MI: Dunia tanpa Tatanan

Dewan Redaksi Media Group Ahmad Punto. Foto: MI/Ebet.

Podium MI: Dunia tanpa Tatanan

Anggi Tondi Martaon • 4 March 2026 05:55

HOMO homini lupus. Manusia adalah serigala bagi manusia lainnya. Ungkapan dalam bahasa latin yang dipopulerkan filsuf Thomas Hobbes di pertengahan abad ke-17 itu kini semakin jelas menampakkan gejalanya. Adagium itu menggambarkan sifat manusia yang egoistis, agresif, dan berpotensi kejam, termasuk 'memangsa' sesamanya.

Menurut Hobbes, 'keserigalaan' manusia itu akan hadir ketika tidak ada lagi tatanan yang mengatur roda kehidupan sosial, negara, ataupun tatanan dunia. Situasi itu menyebabkan manusia bakal hidup dalam keadaan perang 'semua melawan semua' (bellum omnium contra omnes). Individu saling memangsa layaknya serigala.

Serangan udara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir pekan lalu ialah gejala yang amat kuat. Serangan itu tidak bisa dipandang sekadar operasi militer biasa. Itu sebuah pernyataan bahwa tatanan dunia yang kita kenal selama delapan dekade terakhir telah masuk liang kubur.

Hari itu para serigala menerabas tatanan dengan bahasa kebrutalan. Bukan serigala yang berbulu kasar, melainkan mereka yang memakai jas dan seragam perlente serta duduk di ruang-ruang komando yang dingin. Mereka mengacak-acak aturan sembari mengabaikan kesepakatan, konvensi, dan hukum internasional.

Ketika Israel dan AS bebas menentukan siapa yang boleh diserang dan kapan serangan dilakukan tanpa memedulikan kedaulatan negara lain, yakinkah kita bahwa tatanan dunia berbasis aturan itu masih ada? Bila kekuatan militer menjadi satu-satunya legitimasi, seyakin itukah kita aturan internasional bisa menjadi pembatas moral?

Dunia hari ini berjalan nyaris tanpa tatanan, pun tanpa kompas yang setara. Aturan hanya berlaku bagi mereka yang lemah, yang tidak punya sekutu di jajaran elite alias negara-negara kuat. Bagi yang kuat, hukum hanyalah saran yang boleh diabaikan jika dianggap mengganggu syahwat kekuasaan.

Berharap pada Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menjadi kekuatan terakhir untuk bisa menata dunia, seperti berharap babi bisa terbang. Hampir mustahil. Roh mereka telah lama mati. Dalam Piagam PBB atau UN Charter, jelas disebutkan, setiap negara diwajibkan menahan diri dari penggunaan kekuatan militer yang dapat mengancam integritas teritorial dan kemerdekaan negara lain.

Namun, bagaimana kenyataannya? Piagam itu bahkan sama sekali tak dianggap. AS, Israel sudah berkali-kali melanggar aturan tersebut, termasuk genosida yang mereka lakukan di Gaza, Palestina. Akan tetapi, faktanya tidak pernah ada sanksi buat mereka. Kalau diibaratkan macan, PBB tidak cuma ompong, tetapi juga tidak punya auman menggelegar. Mungkin malah sudah bisu.

Ilustrasi serangan Amerika Serikat dan Israel ke wilayah pemukiman penduduk Iran. Foto: Antara/HO-Anadolu.

Begitu pula dengan Dewan Keamanan yang hak vetonya bukan lagi menjadi instrumen penjaga perdamaian, melainkan perisai bagi para pelanggar untuk menindas tanpa sanksi. Hak veto sering disebut hanya 'akal-akalan' karena digunakan untuk melindungi kepentingan negara pemegang veto, seperti yang sering dilakukan AS untuk Israel atau Rusia dalam konflik Suriah.


Dunia betul-betul sedang berjalan dalam kegelapan. Bahkan bukan tidak mungkin bayang-bayang pecahnya Perang Dunia III bakal jadi kenyataan. Itu ialah kalkulasi logis dari hilangnya rasa saling percaya antarbangsa selama beberapa dekade terakhir, yang kemudian disulut dengan sangat efektif oleh kebrutalan serangan AS dan Israel ke Iran.

Ketika dialog dianggap sebagai tanda kelemahan dan kekerasan malah dipuja-puja sebagai solusi, sesungguhnya kita tahu bahwa salah satu konsekuensinya ialah kehancuran dunia secara total. Mungkin itu hanya soal waktu. Terlebih pascapecahnya perang Iran versus AS-Israel, kutub-kutub dunia kian mengeras, aliansi-aliansi militer juga mulai mengasah senjata demi menuntaskan syahwat dan egoisme geopolitik.

Patut diingat, kehancuran yang dibawa perang bukan sekadar kehancuran fisik atau teritori, melainkan juga kehancuran ekonomi dan peradaban. Yang sudah di depan mata ialah kemungkinan terjadinya krisis energi global yang cukup dahsyat. Apalagi Selat Hormuz yang menjadi jantung distribusi minyak dan gas dari Timur Tengah menuju Eropa dan Asia sudah pula ditutup Iran. Penutupan selat yang menjadi simpul perdagangan energi paling penting di kawasan Teluk Persia tersebut sudah pasti akan menyebabkan shock energi global. Pasalnya, sekitar 20% minyak dunia diangkut melalui jalur itu. Risiko lanjutannya, krisis energi bisa menjadi bibit terjadinya krisis ekonomi yang lebih luas.

Lalu, banyak yang penasaran, sebetulnya sebelum memutuskan menggandeng Israel menyerang Iran, Presiden Donald Trump sudah menghitung risiko-risiko itu belum, sih? Entahlah. Yang pasti, di era ekonomi modern yang saling terhubung, AS pun sejatinya tidak terbebas dari risiko itu.

"Ah, masa bodoh, yang penting saat ini kami mau gulingkan dulu rezim pemerintahan Iran," begitu mungkin jawaban Trump kalau ditanya soal risiko buat AS. Ia tak peduli meski harus bertaruh dengan situasi perekonomian di negaranya sendiri.

Seperti itulah kiranya bila pihak yang kuat dibiarkan tetap semena-mena tanpa satu pun pihak yang bisa menghalangi dan memberi sanksi. Dunia tidak saja semakin tua, tapi juga semakin tidak punya tatanan dan aturan. Yang ada hanyalah kawanan serigala yang siap menyantap mangsa lemah mereka.

(Dewan Redaksi Media Group Ahmad Punto)

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Anggi Tondi)