Layanan Kesehatan Mental Dinilai Belum Merata

Yayasan ADHD Indonesia. Foto: Metrotvnews.com/Afifah Alfina

Layanan Kesehatan Mental Dinilai Belum Merata

Metro TV • 11 October 2026 23:03

Jakarta: Layanan kesehatan mental, seperti Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD), belum merata, terutama di daerah terpencil. Kondisi ini akibat ada sejumlah tantangan dalam pelayanan kesehatan.

“Di daerah-daerah, di desa-desa itu banyak banget anak-anak ADHD yang under-diagnose, tidak ter-diagnosis, dan enggak dapat obatnya” kata Pembina Yayasan ADHD Indonesia sekaligus dokter spesialis kejiwaan James Darmapuspita kepada Metrotvnews.com di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Minggu, 11 Oktober 2026.

Perjuangan pasien di daerah untuk mendapatkan pengobatan rutin juga dihadapkan pada hambatan birokrasi yang berliku. Banyak keluarga harus mengorbankan waktu dan pendidikan anak demi mengurus administrasi kesehatan di fasilitas rujukan yang jaraknya jauh.

“Sementara ada anak-anak di desa yang mungkin harus bolak-balik ke rumah sakit setiap bulan. Kalau ngurusin BPJS untuk dapat obat, dia harus seharian di rumah sakit sampai enggak bisa masuk sekolah. Tapi kalau enggak dapat obat, dia juga kesulitan mengikuti pelajaran di sekolah,” tutur James.

Yayasan ADHD Indonesia. Metrotvnews.com/Afifah Alfina

Minimnya ketersediaan obat berimbas pada kesehatan mental anak-anak penderita ADHD. Tanpa dukungan obat yang memadai, sebagian anak mengalami kesulitan mengendalikan diri di ruang kelas biasa. Kesulitan ini dapat menghambat akses mereka terhadap pendidikan dan memengaruhi masa depan mereka.

“Bayangkan berapa banyak anak-anak Indonesia yang akhirnya enggak bisa sekolah, yang akhirnya enggak bisa produktif karena keterbatasan ketersediaan obat. Sampai mereka yang enggak bisa sekolah, gara-gara kesulitan untuk diam,” ujar James.
 

Kondisi ini sering memaksa anak dengan ADHD mengenyam pendidikan di Sekolah Luar Biasa (SLB) atau tidak belajar formal sama sekali. Padahal, mereka dapat mengenyam pendidikan di sekolah biasa jika teratur mengonsumsi obat.

“Mereka yang harusnya dapat obat bisa sekolah dengan normal, akhirnya kadang harus masuk SLB, atau akhirnya enggak bisa sekolah sama sekali,” kata James.

James berharap ada perbaikan sistemik dari pemerintah agar jangkauan fasilitas kesehatan dapat merata hingga pelosok tanpa terkecuali.

“Nomor satu kalau aku sih berharapnya aksesnya sampai ke desa terkecil ya,” ujar James.

(Afifah Alfina)

(Achmad Zulfikar Fazli)