Ilustrasi. Foto: dok ICDX.
Emas Dunia Tertekan usai Risalah The Fed
Ade Hapsari Lestarini • 8 October 2026 08:42
New York: Harga emas dunia turun pada perdagangan Rabu waktu setempat. Pelemahan terjadi setelah risalah rapat terbaru Federal Reserve atau The Fed mengisyaratkan kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut. Sementara itu, harga minyak ditutup lebih tinggi dalam perdagangan yang fluktuatif.
Melansir Investing, Kamis, 8 Oktober 2026, harga emas spot turun 1,3 persen menjadi USD4.110,91 per ons. Sementara harga emas berjangka turun tipis 0,1 persen menjadi USD4.136,85 per ons.
Risalah The Fed tunjukkan sikap hawkish
Pelaku pasar logam mulia mencermati risalah rapat kebijakan moneter The Fed pada September yang menunjukkan sebagian besar peserta Federal Open Market Committee (FOMC) menilai kenaikan suku bunga lebih lanjut kemungkinan diperlukan sebelum akhir tahun.
Bulan lalu, FOMC secara bulat memutuskan menaikkan suku bunga federal funds sebesar 25 basis poin. Keputusan tersebut menjadi kenaikan suku bunga pertama dalam lebih dari tiga tahun.
Sementara itu, dot plot terbaru FOMC mengisyaratkan kenaikan lebih lanjut pada tahun ini. Ketua The Fed Kevin Warsh dalam konferensi pers pascakeputusan menyatakan upaya menurunkan kembali inflasi ke target dua persen masih menjadi tantangan besar.
"Terkait prospek kebijakan moneter setelah rapat saat ini, sebagian besar peserta menilai kenaikan lebih lanjut pada kisaran target suku bunga federal funds kemungkinan akan tepat dilakukan menjelang akhir tahun," demikian bunyi risalah tersebut.

Ilustrasi. Foto: Magnific.
Baca Juga :
Hadapi Banyak Tekanan, Ini Prediksi Harga Emas
Risalah juga menunjukkan seluruh peserta FOMC mendukung kenaikan suku bunga pada September. Lingkungan suku bunga tinggi umumnya cenderung membebani aset yang tidak memberikan imbal hasil (non-yielding assets) seperti emas. Kondisi tersebut juga cenderung memperkuat dolar AS sehingga dapat membuat emas lebih mahal bagi pembeli asing. Indeks dolar AS naik 0,4 persen pada Rabu.
Risalah tersebut dirilis ketika peluang kenaikan suku bunga lanjutan oleh FOMC pada bulan ini menurun dibandingkan saat kenaikan September. Penurunan peluang tersebut didorong komentar bernada dovish dari sejumlah pembuat kebijakan serta data mengenai pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan pasar tenaga kerja AS.
Berdasarkan perangkat CME FedWatch, probabilitas FOMC mempertahankan suku bunga acuan pada akhir bulan ini berada di hampir 83 persen, naik dari sekitar 54 persen sebulan sebelumnya.
Di tengah volatilitas terkait suku bunga, aksi pembelian berkelanjutan oleh bank sentral masih memberikan dukungan terhadap harga emas, menurut catatan analis ING.
Data World Gold Council yang dikutip ING menunjukkan bank sentral tetap menjadi pembeli bersih pada Agustus dengan penambahan cadangan sebesar 39 ton. Angka tersebut membuat total pembelian sejak awal tahun (year-to-date) mencapai 170 ton.
Harga minyak ditutup lebih tinggi
Harga minyak pada Rabu juga bergerak di tengah perdagangan yang fluktuatif. Kontrak berjangka minyak mentah Brent sebagai acuan pasar ditutup naik 0,6 persen menjadi USD101,17 per barel.
Harga minyak sempat menguat karena kekhawatiran terhadap gangguan pasokan meningkat, dipicu serangan terhadap kapal-kapal di Selat Hormuz serta eskalasi pertempuran antara kelompok Houthi yang didukung Iran dan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi.
Data dari United Kingdom Maritime Trade Operations menunjukkan adanya peningkatan serangan Iran terhadap kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz belakangan ini.
Sementara itu, pertempuran sengit terjadi di tengah upaya serangan balik pasukan pemerintah Yaman, yang didukung serangan udara Arab Saudi, untuk merebut kembali wilayah strategis di sekitar Selat Bab el-Mandeb dari kelompok Houthi yang didukung Iran.
Namun, kenaikan harga minyak tertahan setelah Badan Energi Internasional (IEA) sepakat mempercepat pelepasan cadangan minyak dan memprioritaskan pasokan solar untuk meredam lonjakan harga. Prancis juga menyatakan akan melepas 10 juta barel solar dari cadangan daruratnya.
IEA menyatakan penyelesaian pelepasan cadangan minyak sebesar 400 juta barel yang telah diumumkan sebelumnya sesegera mungkin akan memasok sekitar 100 juta barel minyak ke pasar. Belum dapat dipastikan secara langsung apakah angka tersebut mencerminkan intervensi baru dengan besaran volume yang sama.