Ilustrasi Gunung Anak Krakatau. Foto: dok. Antara.
Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi, Ini Sejarah Letusannya
Putri Purnama Sari • 5 September 2026 17:28
Jakarta: Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi pada Jumat, 4 September 2026 malam hingga Sabtu, 5 September dini hari. Gunung api yang berada di perairan Selat Sunda, Kabupaten Lampung Selatan, tersebut mengalami erupsi menerus sejak pukul 23.07 WIB.
Aktivitas vulkanik tersebut disertai fenomena lava fountain atau lava air mancur. Suara dentuman dan gemuruh juga terdengar dari Pos Pengamatan Gunung Api Anak Krakatau di Pasauran, Kabupaten Serang, Banten.
Saat ini, Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) merekomendasikan masyarakat, wisatawan, maupun pendaki tidak mendekati gunung api tersebut dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.
Sejarah Terbentuknya Gunung Anak Krakatau
Gunung Anak Krakatau memiliki sejarah yang tidak dapat dipisahkan dari Gunung Krakatau. Sebelum Anak Krakatau muncul, kawasan tersebut dikenal sebagai lokasi Gunung Krakatau yang mengalami letusan dahsyat pada 1883.
Letusan Krakatau 1883 menjadi salah satu letusan gunung api terbesar yang pernah tercatat. Peristiwa tersebut juga memicu tsunami besar di kawasan Selat Sunda.
Setelah letusan tersebut, aktivitas vulkanik tetap berlangsung di kawasan bekas Krakatau. Gunung Anak Krakatau kemudian tumbuh dari aktivitas vulkanik tersebut dan terus mengalami pertumbuhan hingga menjadi salah satu gunung api yang cukup aktif di Indonesia.
Erupsi Gunung Anak Krakatau dari Waktu ke Waktu

Ilustrasi Gunung Anak Krakatau. Foto: Antara.
Sebagai gunung api aktif, Anak Krakatau mengalami erupsi secara berulang. Aktivitasnya dapat ditandai dengan gempa vulkanik, keluarnya abu dan material vulkanik, hingga munculnya lava.
Salah satu peristiwa terbesar dalam sejarah modern Gunung Anak Krakatau terjadi pada 22 Desember 2018. Aktivitas erupsi saat itu menyebabkan sebagian tubuh gunung longsor ke laut dan memicu tsunami di wilayah pesisir Banten dan Lampung.
Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa aktivitas Gunung Anak Krakatau tidak hanya berpotensi menimbulkan bahaya erupsi, tetapi juga dapat berkaitan dengan bahaya sekunder seperti longsoran tubuh gunung dan tsunami.
Erupsi Gunung Anak Krakatau 2018
Pada Desember 2018, aktivitas Gunung Anak Krakatau meningkat hingga akhirnya terjadi longsoran sebagian tubuh gunung ke laut. Longsoran tersebut kemudian memicu tsunami yang menerjang sejumlah wilayah pesisir Banten dan Lampung.
Berbeda dengan tsunami yang umumnya dipicu gempa bumi tektonik, tsunami Selat Sunda 2018 berkaitan dengan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Setelah peristiwa tersebut, bentuk tubuh Gunung Anak Krakatau mengalami perubahan signifikan. Pemerintah kemudian terus melakukan pemantauan terhadap aktivitas vulkanik dan perubahan morfologi gunung tersebut.
Gunung Anak Krakatau Kembali Erupsi September 2026
Aktivitas Gunung Anak Krakatau kembali meningkat pada 4 September 2026. Berdasarkan laporan pemantauan, beberapa erupsi telah tercatat sejak Jumat pagi sebelum aktivitas erupsi menerus terjadi pada malam harinya.
Erupsi menerus dimulai pada Jumat malam pukul 23.07 WIB dan berlanjut hingga Sabtu dini hari. Aktivitas tersebut diinterpretasikan sebagai lava fountain atau lava air mancur.
Erupsi juga disertai suara dentuman dan gemuruh. Fenomena tersebut diduga berkaitan dengan suara dentuman yang dilaporkan terdengar masyarakat di sejumlah wilayah Banten, Lampung, hingga Jawa Barat.
Meski kembali erupsi, Badan Geologi meminta masyarakat tidak panik. Pemerintah juga menyatakan bahwa berdasarkan evaluasi terbaru, tubuh Gunung Anak Krakatau yang terbentuk kembali setelah erupsi 2018 masih relatif kecil dan tidak menunjukkan potensi keruntuhan dalam skala yang dapat memicu tsunami.
Status Gunung Anak Krakatau Saat Ini
Gunung Anak Krakatau saat ini berada pada Level III atau Siaga. Masyarakat, wisatawan, dan pendaki diminta tidak mendekati kawasan gunung api dalam radius 3 kilometer dari kawah aktif.
Masyarakat juga diimbau mengikuti informasi resmi dari PVMBG dan tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi, terutama terkait potensi tsunami.