Imad Aqel. (Istimewa)
4 Calon Pengganti Mohammed Odeh, Pemimpin Hamas yang Dibunuh Israel
Riza Aslam Khaeron • 27 May 2026 18:05
Jakarta: Belum genap dua pekan sejak Izz al-Din al-Haddad tewas dalam serangan udara Israel pada 15 Mei 2026, Hamas kembali kehilangan sosok yang disebut-sebut sebagai penerusnya.
Israel mengklaim telah menewaskan Mohammed Odeh—figur yang dianggap sebagai pemimpin baru sayap militer Hamas di Jalur Gaza setelah kematian Haddad.
Odeh sendiri sebelumnya dikenal sebagai kepala intelijen militer Hamas dan salah satu dari sedikit figur yang tersisa di lingkaran atas Brigade Izz al-Din al-Qassam.
Hamas tidak secara terbuka mengonfirmasi penunjukan Odeh maupun struktur komando militernya. Sumber Hamas yang dikutip media Arab Saudi, Asharq Al-Awsat, menyebut Odeh sebagai pengganti Haddad karena posisi seniornya.
Kini, dengan tiadanya Odeh, pertanyaan yang sama kembali mengemuka: siapa yang akan mengisi ruang kepemimpinan militer Hamas di Gaza? Berikut empat nama yang disebut-sebut sebagai figur penting yang masih tersisa dalam struktur militer Hamas.
1. Imad Aqel

Daftar pejabat senior militer Hamas yang tewas sejak perang Gaza dimulai. Ilustrasi dibuat IDF. (Istimewa)
Imad Aqel menjadi nama paling menonjol dalam spekulasi pengganti Odeh karena posisinya berada di level struktur senior Brigade Al-Qassam. European Council on Foreign Relations (ECFR) mencatat Aqel sebagai anggota Dewan Militer Brigade Al-Qassam dan dilaporkan pernah menjabat sebagai kepala intelijen militer kelompok tersebut.
Aqel juga sebelumnya memimpin unsur staf belakang atau rear echelon dalam struktur Al-Qassam.
Militer Israel (IDF) menyebut Aqel sebagai satu-satunya anggota dari dewan lama yang masih tersisa ketika serangan 7 Oktober berlangsung, dengan posisi sebagai komandan front dalam negeri.
Namun, berdasarkan sumber Hamas yang dikutip Asharq Al-Awsat, Aqel tidak memainkan peran langsung dalam merencanakan atau mengawasi serangan 7 Oktober, sama seperti para pemimpin lain yang tidak diberi tahu detail lengkap atau bahkan waktu mulainya serangan.
Aqel juga disebut bertanggung jawab atas sistem dukungan dan logistik, termasuk pemindahan peralatan dan keberlanjutan dukungan bagi unit-unit tempur di lapangan.
Dengan latar belakang tersebut, Aqel dapat disebut sebagai kandidat paling kuat secara struktural jika Hamas memilih figur senior dari dalam jantung Al-Qassam.
2. Hussein Fayyad

Sumber: via the Middle East Eye
Hussein Fayyad adalah komandan Batalion Beit Hanoun di utara Jalur Gaza—salah satu area paling kritis dalam perang Gaza karena kerap menjadi lokasi operasi militer Israel.
Namanya sempat menjadi sorotan setelah militer Israel mengklaim ia telah tewas pada Mei 2024.
Namun, klaim tersebut terbantahkan ketika Fayyad muncul kembali dalam sebuah rekaman video pada Januari 2025. Pihak IDF akhirnya mengakui pada 22 Januari 2025 bahwa Fayyad masih hidup, terutama setelah ia terlihat berbicara mengenai "kemenangan dan pertempuran" pascagencatan senjata.
| Baca Juga: Israel Klaim Tewaskan Mohammed Odeh, Kepala Militer Hamas yang Baru |
3. Haitham al-Hawajri

Sumber: Istimewa
Haitham al-Hawajri dikenal sebagai komandan Batalion Al-Shati yang berbasis di kawasan kamp pengungsi Al-Shati, Kota Gaza.
Seperti Fayyad, al-Hawajri juga pernah menjadi korban klaim keliru intelijen Israel. Israel sebelumnya mengakui pada awal tahun 2025 bahwa upaya pembunuhan terhadap al-Hawajri tidak berhasil, meski sebelumnya mengklaim telah menewaskannya dalam serangan pada Desember 2023.
Keberadaannya kemudian semakin terkonfirmasi ketika Safa News melaporkan al-Hawajri muncul secara langsung dalam proses pertukaran tahanan pada Februari 2025, saat sandera asal Israel-Amerika, Keith Siegel, diserahkan kepada Palang Merah.
4. Nafez Sabih
Nafez Sabih—disebut juga Nafez Sbeih—adalah nama yang paling tertutup dari keempat figur ini. Ia dilaporkan sebagai komandan wilayah Al-Daraj dan Al-Tuffah, dua kawasan di Kota Gaza yang kerap dikaitkan dengan aktivitas militer Hamas, sekaligus menggambarkannya sebagai salah satu figur veteran dalam struktur militer gerakan tersebut.Israel mengaitkan Sabih dengan sejumlah berkas keamanan lama sejak dekade 1990-an, termasuk tuduhan keterlibatan dalam perencanaan serangan di wilayah Israel. Namun, informasi terbuka mengenai perannya tidak sebanyak tiga nama sebelumnya.