Pemprov DKI Buka Taman 24 Jam serta Perpustakaan-Museum hingga Malam

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung. Foto: Metro TV/Andika.

Pemprov DKI Buka Taman 24 Jam serta Perpustakaan-Museum hingga Malam

Andika Fauzan Azhari • 5 August 2026 22:44

Jakarta: Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terus memperluas akses dan ruang ekspresi publik bagi warga serta pelaku seni di Ibu Kota. Langkah ini diambil guna memberikan wadah kreativitas yang lebih fleksibel dan nyaman bagi para seniman, budayawan, serta masyarakat yang memiliki talenta.

“Tentunya bagi saya kalau Jakarta menjadi peringkat pertama bukan sesuatu yang luar biasa, karena pertama infrastrukturnya juga jauh lebih siap, orangnya atau manusianya mendapatkan ruang kesempatan untuk berkarya juga lebih luas. Tetapi bagi saya yang tidak kalah penting adalah kalau kemudian ruang-ruang kesenian, ruang-ruang budaya, ruang-ruang kita berekspresi di Jakarta ini tidak tersalurkan dengan baik,” ujar Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung di Balai Kota, Rabu, 5 Agustus 2026.

Kebijakan strategis ini diwujudkan dengan membuka operasional taman-taman kota selama 24 jam penuh, memperpanjang operasional perpustakaan hingga pukul 23.00 WIB, serta museum hingga pukul 22.00 WIB.

“Maka sebagai Gubernur Jakarta, kenapa kemudian saya membuka taman-taman 24 jam, perpustakaan sampai dengan jam 11 malam, museum sampai dengan jam 10 malam," ungkap Pramono.

Pramono menegaskan bahwa ketersediaan ruang ekspresi yang luas merupakan modal awal yang sangat krusial dalam membangun ekosistem kebudayaan yang sehat di Jakarta.

"Kalau ruang untuk berekspresi itu semakin banyak, maka akan lahirlah suasana yang juga makin nyaman bagi seniman, budayawan, siapa pun itu yang mempunyai talenta di bidang tersebut,” sebut Pramono.

Selain memperpanjang jam operasional fasilitas publik, Pemprov DKI Jakarta meminta jajaran birokrasi di Balai Kota untuk mempererat jalinan kolaborasi bersama seniman dan budayawan, khususnya dalam merawat kawasan kesenian bersejarah seperti Taman Ismail Marzuki (TIM) agar roh kebudayaannya tetap hidup dan inklusif.

(Anggi Tondi)