Ilustrasi. Foto: Dok MI
Rupiah Semakin Tertekan, Nyaris Rp16.900 per USD
Eko Nordiansyah • 15 January 2026 16:10
Jakarta: Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada penutupan perdagangan hari ini mengalami pelemahan. Mata uang Garuda sudah melempem terhadap dolar AS sejak pembukaan pagi tadi.
Mengutip data Bloomberg, Kamis, 15 Januari 2026, nilai tukar rupiah terhadap USD ditutup di level Rp16.895,5 per USD. Mata uang Garuda tersebut melemah 30,5 poin atau setara 0,18 persen dari posisi Rp16.859,5 per USD pada penutupan perdagangan hari sebelumnya.
Sementara itu, data Yahoo Finance juga menunjukkan rupiah berada di zona merah pada posisi Rp16.865 per USD. Rupiah melemah 10 poin atau setara 0,06 persen dari Rp16.855 per USD di pembukaan perdagangan hari sebelumnya.
Sedangkan berdasar pada data kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), rupiah berada di level Rp16.880 per USD. Mata uang Garuda tersebut menguat dari perdagangan sebelumnya di level Rp16.871 per USD.
Baca Juga :
Krisis Mata Uang Iran 2026: Kurs ke Rupiah, Penyebab, dan Dampak Globalnya
.jpg)
(Ilustrasi. MI/Ramdani)
Data inflasi perkuat spekulasi penurunan suku bunga Fed
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi mengungkapkan, data indeks harga konsumen AS yang dirilis pada Selasa berada di bawah ekspektasi. CPI inti naik 0,2 persen pada Desember dan 2,6 persen secara tahunan, di bawah perkiraan, memperkuat spekulasi penurunan suku bunga di masa mendatang. Pasar sekarang memperkirakan sekitar dua kali penurunan suku bunga pada 2026.
Risiko geopolitik juga tetap menjadi fokus utama. Iran dilanda protes anti-pemerintah yang semakin intensif yang dilaporkan telah menewaskan sekitar 2.000 orang, meningkatkan kekhawatiran akan ketidakstabilan yang lebih luas di Timur Tengah.
Kerusuhan tersebut telah memicu peringatan dari Presiden AS Donald Trump, yang memperingatkan kemungkinan tindakan militer dan mengancam akan mengenakan tarif 25 persen pada negara-negara yang berbisnis dengan Iran.
Trump juga mendesak para pengunjuk rasa untuk meningkatkan tekanan pada kepemimpinan Iran, dengan mengunggah di media sosial bahwa mereka harus "mengambil alih institusi Anda dan bantuan sedang dalam perjalanan".
Di sisi lain, kekhawatiran atas independensi bank sentral AS setelah pemerintahan Trump membuka penyelidikan kriminal yang melibatkan Ketua Federal Reserve Jerome Powell.
"Meskipun perkembangan ini membuat investor gelisah, para kepala bank sentral dan eksekutif bank besar secara terbuka mendukung Powell, menekankan pentingnya menjaga otonomi Fed di tengah tekanan politik," tutur Ibrahim.