#OnThisDay 6 Januari, Perayaan Hari Pelukan Nasional

Menurut penelitian, berpelukan yang dilakukan bersama seorang teman, anggota keluarga atau bahkan pasangan Anda memiliki efek yang baik untuk tubuh Anda. Memeluk juga bisa mengurangi rasa sakit karena pelepasan hormon. (Foto: Pexels.com)

#OnThisDay 6 Januari, Perayaan Hari Pelukan Nasional

Whisnu Mardiansyah • 6 January 2026 09:25

Jakarta: Di sejumlah negara, terutama di Amerika Serikat, tanggal 6 Januari secara populer dikenal sebagai Hari Pelukan Nasional, sebuah momen yang mendorong kepedulian dan kedekatan melalui sentuhan.

Makna di baliknya sederhana namun sangat relevan, mengingatkan setiap orang tentang pentingnya sentuhan emosional di tengah arus rutinitas hidup yang kerap terasa individualistis.

Berbeda dengan banyak hari peringatan internasional yang lahir dari keputusan lembaga resmi seperti PBB atau pemerintah suatu negara, status Hari Pelukan Nasional pada 6 Januari berkembang secara organik sebagai tradisi populer.

Berbagai media di Amerika Serikat sering kali menyebut tanggal ini sebagai waktu yang tepat untuk saling berpelukan, terutama di tengah musim dingin. Pada periode ini, suhu yang rendah dan suasana pascaeuforia liburan Natal dan Tahun Baru acap kali memunculkan perasaan sepi atau post-holiday blues.

Dalam konteks budaya masyarakat Barat, awal Januari kerap dianggap sebagai masa transisi yang sunyi. Gemerlap perayaan telah berlalu, sementara rutinitas normal belum sepenuhnya kembali. Hari Pelukan Nasional hadir sebagai pengingat halus agar manusia tidak larut dalam kesendirian atau menutup diri secara emosional. Pelukan dipandang sebagai gestur fisik sederhana yang mampu menghadirkan rasa aman dan kedekatan secara instan.

National Hugging Day pertama kali diperkenalkan pada tahun 1986 oleh Kevin Zaborney, seorang pastor asal Caro, Michigan, Amerika Serikat. Ia menggagas hari peringatan ini setelah mengamati bahwa banyak orang di sekitarnya merasa canggung atau enggan untuk mengekspresikan kasih sayang secara terbuka, padahal pelukan memiliki dampak positif yang nyata bagi kesehatan emosional.
 


Zaborney sengaja memilih tanggal 21 Januari karena posisinya yang berada di antara rangkaian hari raya besar. Tanggal itu terletak di setelah masa Natal dan Tahun Baru, tetapi sebelum Hari Valentine. Menurut pengamatannya, periode tersebut kerap menjadi masa ketika banyak orang merasa kehilangan kehangatan suasana liburan dan membutuhkan dorongan emosional tambahan sebelum tiba musim kasih sayang di pertengahan Februari.

“Saya pikir masyarakat Amerika sangat membutuhkan ini. Mereka malu memperlihatkan perasaan mereka di muka umum. Mereka khawatir dianggap sentimental. Padahal, kebutuhan untuk disentuh adalah bagian mendasar dari keberadaan manusia,” ujar Zaborney dalam salah satu wawancara, seperti dikutip berbagai media.

Gagasannya diterima dengan baik. Sejak saat itu, National Hugging Day mulai dikenal luas, tidak hanya di Amerika Serikat tetapi juga di banyak negara lain. Peringatan ini dirayakan sebagai ajakan untuk mengekspresikan kasih sayang secara sehat, saling menghormati, dan mengakui manfaat dari kontak fisik yang positif.

Dalam praktiknya, kedua tanggal tersebut 6 Januari dan 21 Januari memiliki konteks dan latar belakang yang berbeda. Tanggal 21 Januari secara jelas merujuk pada peringatan resmi National Hugging Day yang dicetuskan Kevin Zaborney pada 1986. Peringatan ini memiliki ‘silsilah’ yang dapat dilacak dan diakui secara luas.


Ilustrasi Pexels

Sementara itu, 6 Januari lebih tepat dipahami sebagai Hari Pelukan dalam versi populer atau folk tradition. Hari ini berkembang bukan karena dekret tertentu, melainkan karena kebutuhan sosial dan budaya masyarakat yang melihat awal Januari sebagai waktu yang tepat untuk berbagi kehangatan. Ia muncul dari bawah, didorong oleh narasi media dan pemahaman kolektif.

Pesan yang dibawa keduanya sebenarnya sejalan, mengangkat pelukan sebagai bentuk komunikasi nonverbal yang kuat dan penuh arti. Perbedaan utamanya terletak pada legitimasi sejarah dan cara penetapannya, bukan pada nilai kemanusiaan yang ingin disampaikan.

Di Indonesia, pelukan sebenarnya telah lama menjadi bagian dari ekspresi budaya dalam lingkup keluarga dan pertemanan yang akrab. Meskipun norma kesopanan dan batas fisik mungkin berbeda-beda antar daerah dan kelompok sosial, pelukan antara orangtua dan anak, antara sahabat dekat, atau antar pasangan, telah menjadi simbol keakraban dan dukungan emosional.

Dalam beberapa tahun terakhir, istilah ‘Hari Pelukan Nasional’ mulai dikenal lebih luas di Indonesia, terutama melalui media sosial dan artikel-artikel daring. Meski tidak diperingati secara formal atau masif, gagasan di baliknya menemukan relevansinya sendiri.

Masyarakat Indonesia, seperti di banyak negara lain, juga menghadapi tantangan kesehatan mental yang semakin disadari. Periode pandemi Covid-19, dengan segala pembatasan sosial dan physical distancing, meninggalkan pengalaman kolektif akan terputusnya hubungan fisik. Pascapandemi, banyak orang merasakan kembali betapa berharganya interaksi dan sentuhan langsung yang aman dan sehat.

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Whisnu M)