Bendera Uni Eropa berkibar di markas besarnya di Brussels, Belgia. (Anadolu Agency)
Negara-Negara Eropa Terpecah Sikapi Serangan AS-Israel ke Iran
Willy Haryono • 8 March 2026 10:24
Brussels: Negara-negara Eropa masih terpecah dalam menyikapi serangan militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran di tengah tekanan dari Washington agar sekutunya memberikan dukungan.
Dikutip dari Antara, Minggu, 8 Februari 2026, sejumlah anggota Uni Eropa (UE) dan Inggris menyerukan penghormatan terhadap hukum internasional serta upaya deeskalasi.
Namun hingga kini belum ada strategi terpadu di antara negara-negara Eropa ketika krisis di Timur Tengah semakin dalam dan berpotensi menimbulkan dampak global.
Rabu lalu, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan Presiden AS Donald Trump mengharapkan “semua sekutu Eropa” mendukung operasi militer yang dilakukan AS dan Israel.
Trump juga secara terbuka mengkritik sikap sejumlah pemerintah Eropa yang dianggap ragu-ragu serta menyindir Perdana Menteri Inggris Keir Starmer.
“Ini bukan Winston Churchill yang kita hadapi,” kata Trump, merujuk pada nama eks PM Inggris yang berkuasa di era Perang Dunia II.
UE Dorong Diplomasi
Uni Eropa menyerukan pengendalian diri dan peningkatan upaya diplomatik guna mencegah eskalasi lebih lanjut di Timur Tengah. Para menteri luar negeri UE menggelar konferensi darurat melalui video setelah konflik pecah untuk menilai situasi di Iran dan kawasan sekitarnya.Dalam pernyataan bersama, blok tersebut menyatakan “keprihatinan mendalam” dan mendesak semua pihak menahan diri.
Juru bicara Komisi Eropa menegaskan UE akan terus mendukung solusi diplomatik untuk mencegah Iran memperoleh senjata nuklir.
Kepala Kebijakan Luar Negeri UE Kaja Kallas juga memperingatkan bahwa krisis yang meningkat menunjukkan melemahnya penghormatan terhadap hukum internasional.
“Tanpa memulihkan hukum internasional dan akuntabilitas, kita akan terus menyaksikan pelanggaran hukum, gangguan, dan kekacauan,” kata Kallas.
Inggris Ambil Sikap Hati-Hati
Inggris mengambil pendekatan yang lebih berhati-hati dengan tetap mengkritik Iran sekaligus menyerukan jalur diplomasi. Perdana Menteri Keir Starmer membela keputusan London untuk tidak ikut dalam serangan tersebut.Ia menegaskan solusi terbaik adalah kesepakatan yang dinegosiasikan dengan Iran agar negara itu menghentikan ambisi nuklirnya.
Inggris sempat membatasi penggunaan pangkalan militer Diego Garcia oleh Amerika Serikat, namun kemudian mengizinkan fasilitas itu digunakan untuk mendukung operasi pertahanan kawasan dan keamanan Israel.
London juga meningkatkan kehadiran militernya di kawasan dengan mengerahkan tambahan jet tempur Typhoon ke Qatar.
Prancis Tekankan Hukum Internasional
Presiden Prancis Emmanuel Macron memperingatkan bahwa tindakan militer di luar kerangka hukum internasional dapat merusak stabilitas global. Paris mendorong pembahasan darurat di Dewan Keamanan PBB terkait konflik tersebut.Meski menghindari konfrontasi langsung dengan Washington, Prancis juga mengecam serangan balasan Iran.
Prancis mengizinkan pesawat Amerika Serikat menggunakan sejumlah pangkalan secara terbatas dengan syarat tidak digunakan untuk menyerang Iran.
Paris juga mengerahkan kapal induk Charles de Gaulle serta aset militer lainnya untuk melindungi kepentingannya di kawasan.
Jerman Lebih Sejalan dengan AS
Kanselir Jerman Friedrich Merz menyebut Iran sebagai ancaman keamanan utama bagi kawasan.Ia mengatakan puluhan tahun sanksi dan diplomasi belum mampu menghentikan aktivitas yang dianggap destabilising oleh Teheran.
Dalam kunjungannya ke Gedung Putih, Trump memuji Merz sebagai “pemimpin yang sangat baik” setelah Berlin mengizinkan pasukan AS menggunakan Pangkalan Udara Ramstein.
Namun Merz juga memperingatkan bahwa konflik berkepanjangan dapat menimbulkan risiko besar bagi Eropa, termasuk terkait pasokan energi, keamanan, dan arus migrasi.
“Perang tanpa akhir bukan kepentingan kita,” ujarnya.
Spanyol dan Italia Kritik Serangan
Perdana Menteri Spanyol Pedro Sánchez menyebut serangan terhadap Iran sebagai “kesalahan luar biasa” dan memperingatkan konflik tersebut dapat mengancam stabilitas global.Madrid juga menolak mengizinkan pasukan AS menggunakan pangkalan udara dan laut di Spanyol untuk melancarkan serangan terhadap Iran.
Keputusan itu memicu kritik dari Trump yang bahkan mengancam akan memutus hubungan dagang dengan Spanyol.
Sementara itu Menteri Pertahanan Italia Guido Crosetto mengatakan operasi militer AS dan Israel berada di luar kerangka hukum internasional.
Menlu Italia Antonio Tajani menegaskan negaranya tidak sedang berperang dan mendesak diplomasi sebagai jalan keluar untuk mencegah konflik regional yang lebih luas.
Eropa Timur Lebih Mendukung AS
Di sisi lain, beberapa negara Eropa Timur menunjukkan dukungan politik yang lebih jelas terhadap operasi yang dipimpin Amerika Serikat.Presiden Polandia Karol Nawrocki menilai tindakan Iran menjadi ancaman terhadap stabilitas internasional, meskipun Warsawa menegaskan tidak terlibat langsung dalam operasi militer tersebut.
Perdana Menteri Republik Ceko Petr Fiala juga menyebut program nuklir Iran sebagai ancaman serius bagi keamanan global.
Ia menilai serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran dapat dipahami sebagai upaya mencegah pengembangan senjata nuklir serta membuka peluang bagi Iran untuk kembali ke meja perundingan.
Baca juga: Uni Eropa Sebut Kematian Khamenei Momen Penentu dalam Sejarah Iran