Trump Sebut Ultimatum Terkait Selat Hormuz Akan Berhasil Sangat Baik

Presiden Amerika Serikat Donald Trump. Foto: The White House/Viory

Trump Sebut Ultimatum Terkait Selat Hormuz Akan Berhasil Sangat Baik

Fajar Nugraha • 23 March 2026 10:03

Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan bahwa hasil ultimatum yang dia keluarkan kepada Iran untuk sepenuhnya membuka kembali Selat Hormuz akan "sangat baik,”.

Ultimatum itu bagi Trump diprediksi akan menyebabkan "kehancuran total" Iran jika Teheran tidak mematuhinya.

"Anda akan segera mengetahuinya. Ini akan sangat baik," kata Trump kepada Channel 13 Israel, seperti dikutip dari Anadolu.
Dia memperingatkan pada hari Sabtu bahwa jika Iran tidak membuka kembali jalur air dalam waktu 48 jam, AS akan "menyerang dan menghancurkan" pembangkit listrik Iran, dimulai dengan fasilitas terbesar terlebih dahulu.

Dia juga mengkritik sekutu NATO karena penolakan mereka untuk membantu membuka kembali selat tersebut, mengatakan mereka "tidak melakukan apa pun," menyebut mereka "pengecut" dan "macan kertas."

Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte meminta "pemahaman" dari Trump mengenai keengganan negara-negara sekutu untuk mendukung pembukaan kembali jalur tersebut.

Iran menanggapi ultimatum Trump pada Minggu dengan memperingatkan bahwa mereka akan menyerang semua infrastruktur energi, teknologi informasi, dan desalinasi AS dan Israel di seluruh wilayah tersebut jika fasilitas mereka sendiri diserang.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi membantah klaim bahwa Iran telah menutup selat tersebut, mengatakan bahwa kapal-kapal ragu-ragu karena perusahaan asuransi khawatir akan "perang pilihan" yang diprakarsai AS dan Israel — bukan karena Teheran telah menutup jalur air tersebut.

Selat Hormuz telah terganggu secara efektif sejak awal Maret. Sekitar 20 juta barel minyak biasanya melewati selat ini setiap hari, dan gangguan ini telah meningkatkan biaya pengiriman dan mendorong harga minyak global lebih tinggi.

Serangan AS-Israel terhadap Iran dimulai pada 28 Februari dan dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi saat itu, Ayatollah Ali Khamenei

Jangan lupa ikuti update berita lainnya dan follow  akun
Google News Metrotvnews.com
(Fajar Nugraha)