Ilustrasi rupiah. Metrototvnews.com/Husen Miftahudin
Depresiasi Rupiah Sejak Perang Iran Lebih Baik dari Negara Lain
Eko Nordiansyah • 11 March 2026 22:25
Jakarta: Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menyampaikan depresiasi atau pelemahan nilai tukar rupiah, yang terjadi sejak perang AS-Israel dan Iran meletus, masih lebih baik dibandingkan mata uang negara-negara lain.
Ia mengatakan, rupiah terdepresiasi secara moderat, sejalan dengan penguatan dolar AS secara global, dan relatif lebih baik dibandingkan banyak peer countries (negara-negara sejawat).
“Rupiah terdepresiasi sebesar 0,3 persen (month-to-date/mtd, sejak perang dimulai hingga hari ini), jauh lebih baik dengan mata uang negara-negara di sekeliling kita,” kata Purbaya Yudhi Sadewa di Jakarta, dikutip dari Antara, Rabu, 11 Maret 2026.
Ia menyebutkan, Ringgit Malaysia terdepresiasi sebesar 0,5 persen mtd dan Baht Thailand turun sebesar 1,6 persen mtd.
Selain itu, Peso Filipina juga tercatat mengalami depresiasi sebesar 1,4 persen mtd. Sedangkan Dolar Singapura memiliki nilai depresiasi yang sama seperti rupiah, yakni 0,3 persen mtd.
“Ini mencerminkan ketahanan eksternal Indonesia serta koordinasi fiskal-moneter yang kuat,” ujar dia.
Baca Juga :
Ekonomi Global Tak Pasti Pemerintah Belum Berencana Revisi APBN

(Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Foto: Dok MI)
Purbaya menuturkan, banyak masyarakat yang menyampaikan kritik pada dirinya melalui media sosial terkait pelemahan rupiah tersebut.
Ia pun meminta publik untuk menilai secara adil dan memahami bagaimana posisi rupiah yang sesungguhnya dibandingkan dengan mata uang lainnya.
“(Rupiah) kita masih oke, artinya kita masih dianggap menjaga kebijakan fisikal dan moneter yang baik dan fondasi ekonomi kita cukup baik,” ucapnya.
Fundamental ekonomi terjaga positif
Ia berharap kinerja fundamental ekonomi Indonesia yang terjaga positif tersebut akan terus mendorong penguatan pasar modal domestik, terutama pada investasi saham.“Kalau ekonominya, fundamentalnya baik terus, otomatis pelan-pelan saham akan naik lagi ke level yang lebih baik dari sekarang,” tutur dia.
Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Rabu, bergerak menguat 12 poin atau 0,07 persen menjadi Rp16.851 per USD dari penutupan sebelumnya yang tercatat Rp16.863 per USD.
Analis mata uang dari Doo Financial Futures Lukman Leong mengatakan, penguatan rupiah terjadi seiring penurunan harga minyak yang cukup signifikan.
Namun, ia juga menyampaikan perang yang masih berlangsung akan terus membebani rupiah. Berdasarkan faktor-faktor tersebut, nilai tukar rupiah diprediksi berada pada kisaran Rp16.800-Rp16.950 per USD.