Dari Aktif di OSIS, Cerita Esther ke Panggung Global untuk Penanganan Krisis Iklim

Esther NS Tamara lulusan SMAK Penabur yang kini berkarir di organisasi filantropi iklim global yang berbasis di Amerika Serikat. Istimewa

Dari Aktif di OSIS, Cerita Esther ke Panggung Global untuk Penanganan Krisis Iklim

Whisnu Mardiansyah • 30 October 2026 15:43

Jakarta: Esther NS Tamara, lulusan SMAK Penabur Kota Wisata, kini meniti karier di sebuah organisasi filantropi iklim global yang berbasis di Amerika Serikat. Melalui pekerjaannya, Esther terlibat dalam upaya memobilisasi modal dan pendanaan internasional untuk mengatasi krisis iklim serta mempercepat transisi energi bersih di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Perjalanan Esther hingga berkecimpung dalam isu iklim global tidak terlepas dari pengalaman dan aktivitasnya semasa menempuh pendidikan di SMAK Penabur Kota Wisata. Saat duduk di bangku sekolah, ia aktif mengikuti kegiatan organisasi dan ekstrakurikuler, termasuk menjadi bagian dari kepengurusan OSIS serta English Club.

Pengalaman berorganisasi selama di SMA turut membentuk kemampuan kepemimpinan, kerja sama, dan pengelolaan organisasi yang menjadi bekal dalam perjalanan profesionalnya.

“Bergabung dalam kepengurusan OSIS sepanjang menempuh pendidikan di SMA membuat jiwa kepemimpinan saya terasah. Selain itu, saya jadi mampu bekerja sama dan mengatur manajemen organisasi.” ujar Esther.

Aktivitas Esther di English Club juga memberinya kesempatan mengikuti berbagai kompetisi. Ia meraih prestasi dalam lomba storytelling dan berpartisipasi dalam Model United Nations (MUN), sebuah simulasi sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bagi pelajar.

Keterlibatan dalam MUN menjadi salah satu pengalaman yang memperluas pandangannya terhadap persoalan internasional. Kegiatan tersebut juga membuka kesempatan bagi Esther untuk mengembangkan kemampuan diplomasi dan memperoleh berbagai penghargaan.

“Lewat partisipasi saya di MUN, cakrawala global saya semakin terbuka dan mengantarkan saya meraih berbagai penghargaan diplomasi.” tutur Esther.
 


Ketertarikan Esther terhadap isu global semakin berkembang setelah mengenal berbagai persoalan dunia melalui MUN. Ia mulai menaruh perhatian pada isu kemanusiaan, peperangan, hingga tantangan geopolitik. Dari pengalaman tersebut, Esther kemudian menemukan bidang yang ingin digelutinya, yakni persoalan iklim.

“Sejak mata saya terbuka terhadap dinamika dunia, mulai dari krisis kemanusiaan, peperangan, hingga tantangan geopolitik, saya merasa terpanggil untuk turut berkontribusi dalam penyelesaian isu-isu global ini. Krisis iklim adalah tantangan universal paling mendesak di generasi kita dan itulah yang mendorong saya mendedikasikan diri di ranah filantropi untuk isu iklim.” ungkap Esther.

Kini, pekerjaan Esther mencakup pemantauan perkembangan kebijakan iklim dan energi bersih di berbagai kawasan. Wilayah yang menjadi perhatiannya meliputi Asia Tenggara, Asia Timur seperti Jepang dan Korea, Eropa, Brasil, serta India.

Dalam menjalankan tugasnya, Esther bekerja sama dengan lembaga penelitian, organisasi masyarakat sipil, dan pembuat kebijakan. Kolaborasi tersebut diarahkan untuk mengembangkan inisiatif mitigasi emisi dan mendukung upaya menekan laju pemanasan global. Ia juga terlibat dalam penyaluran pendanaan filantropi agar berbagai strategi dan program dapat diterapkan.

“Saya bekerja sama erat dengan berbagai lembaga penelitian, organisasi yang dijalankan masyarakat sipil, dan berperan sebagai pembuat kebijakan untuk mengembangkan inisiatif mitigasi emisi serta menahan laju pemanasan global sekaligus menyalurkan dukungan pendanaan filantropi agar strategi dan inisiatif tersebut dapat terwujud nyata di lapangan.” jelasnya.

Bagi Esther, pekerjaan di bidang filantropi iklim bukan sekadar pilihan profesi. Ia memandang bidang tersebut sebagai panggilan hidup yang selaras dengan latar belakang akademis, kemampuan, dan nilai-nilai personal yang dimilikinya.

“Kompas hidup saya berakar pada titik temu antara talenta, minat pribadi, dan apa yang paling dibutuhkan oleh dunia saat ini.” tutur Esther.

Menjalani pekerjaan di lingkungan internasional juga menghadirkan tantangan tersendiri. Esther harus berinteraksi dengan berbagai pihak yang memiliki latar belakang negara, bahasa, dan budaya berbeda. Perbedaan kebiasaan berkomunikasi dapat memunculkan potensi kesalahpahaman dalam kerja sama.

Untuk mengatasinya, ia menerapkan kebiasaan mendengarkan secara aktif dan melakukan klarifikasi secara berkala. Cara tersebut membantunya menyamakan pemahaman serta membangun hubungan profesional yang dilandasi rasa saling percaya.

“Pada ranah kerja internasional, saya berinteraksi dengan berbagai pihak lintas negara, bahasa, dan budaya, di mana setiap orang membawa norma komunikasi yang berbeda. Oleh karena bahasa Inggris kerap menjadi bahasa kedua atau ketiga bagi banyak rekan kerja, termasuk juga untuk saya sendiri, potensi misinterpretasi pesan selalu ada. Untuk mengatasinya, saya menerapkan kebiasaan mendengar aktif dan klarifikasi berkala untuk menyelaraskan persepsi, sehingga mencegah kesalahpahaman dan dapat membangun kemitraan yang solid berlandaskan rasa saling percaya.” tutur Esther.

Sebelum menapaki karier di organisasi filantropi iklim global, Esther melewati masa pendidikan yang menurutnya turut membentuk karakter dan kedisiplinannya. Ia mengenang pengalaman bersekolah di SMAK Penabur Kota Wisata sebagai periode yang membutuhkan dedikasi tinggi, terutama untuk menyeimbangkan tuntutan akademis dengan kegiatan di luar kelas.

“Perlu dedikasi tinggi selama bersekolah di Penabur, baik secara akademis maupun fisik. Bagaimana menyeimbangkan kurikulum yang padat, standar capaian yang tinggi, serta jadwal ekstrakurikuler dan bimbingan belajar yang menuntut kedisiplinan tanpa kompromi. Tidak dipungkiri ritme tersebut sempat terasa sangat berat bagi saya saat itu.” ujar Esther.

Meski menghadapi rutinitas yang padat, Esther juga menyimpan kenangan menyenangkan selama menjadi siswa. Salah satunya adalah perhatian seorang guru kepada teman sekelasnya yang tertidur saat pelajaran karena kelelahan belajar.

Alih-alih menegur, guru tersebut justru memberikan kesempatan kepada siswa itu untuk beristirahat sejenak. Pengalaman sederhana tersebut membekas bagi Esther karena memperlihatkan kepedulian guru terhadap kondisi para siswa.

“Saya ingat dulu ada teman yang tertidur lelap di tengah jam pelajaran karena kelelahan belajar, alih-alih menegur atau memarahi, guru kami justru menunjukkan kebaikan hatinya dan berkata, ‘biarin dia tidur dulu 10 menit lagi, pasti kecapekan belajar.’ Perhatian kecil seperti itu memperlihatkan bahwa para guru juga peduli dengan kondisi kami, bukan semata-mata menuntut pencapaian akademis.” cerita Esther.

Ia juga mengingat keramahan para staf sekolah, termasuk petugas keamanan yang membantu siswa ketika perlu menghubungi orang tua. Saat itu, siswa tidak diperbolehkan membawa ponsel ke sekolah. Bantuan petugas keamanan menjadi berarti, terutama ketika Esther dan teman-temannya harus pulang lebih malam karena kegiatan OSIS maupun ekstrakurikuler.

“Ketika itu kami tidak diperbolehkan membawa ponsel ke sekolah, ponsel personal Bapak Satpam menjadi penyelamat saya dan teman-teman. Mereka dengan sabar membantu kami menelepon orang tua setiap kali kami harus pulang larut karena kegiatan OSIS ataupun ekskul.” kenang Esther.

Selama tiga tahun menempuh pendidikan di SMAK Penabur Kota Wisata, Esther memperoleh bekal yang dirasakannya bermanfaat hingga memasuki dunia perkuliahan dan profesional. Ia menilai pengalaman tersebut membentuk ketangguhan mental, kedisiplinan, serta rasa tanggung jawab.

Selain itu, fondasi akademis yang diperoleh, terutama dalam kemampuan analitis dan kuantitatif, turut membantunya menjalani masa transisi dari sekolah ke perguruan tinggi.

“Saya memasuki universitas dengan kesiapan mental, mampu mengatur waktu, dan memiliki daya tahan belajar yang terbiasa bersaing dengan standar tinggi.” ungkap Esther.

(Whisnu M)