204 Satuan Baru Diharapkan Dongkrak Daya Tempur TNI

Prajurit TNI membawa panji-panji satuan baru saat peringatan HUT Ke-81 TNI di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur. Foto: ANTARA FOTO/Galih Pradipta.

204 Satuan Baru Diharapkan Dongkrak Daya Tempur TNI

Fachri Audhia Hafiez • 7 October 2026 11:01

Jakarta: Sebanyak 204 satuan baru di tubuh TNI telah diresmikan pada momentum HUT ke-81 TNI. Penambahan struktur masif ini dinilai perlu berfokus pada peningkatan kemampuan nyata militer Indonesia.

“Yang ingin kita capai adalah meningkatnya daya tempur dan daya tangkal Indonesia,” kata Wakil Ketua Komisi I DPR Sukamta dalam keterangannya di Jakarta, Rabu, 7 Oktober 2026.
 


Sukamta menjelaskan, tujuan utama dari penambahan pembentukan struktur di tubuh TNI, seperti enam Kodam, brigade, hingga ratusan batalyon, bukan sekadar formalitas ekspansi organisasi. Penambahan tersebut harus dibarengi dengan kesiapan menyeluruh, mulai dari kualitas personel, modernisasi alutsista, infrastruktur, kelengkapan logistik, hingga dukungan anggaran operasional yang seimbang.

Panglima TNI Jenderal Agus Subiyanto sebelumnya membeberkan bahwa pembentukan 204 satuan baru oleh Presiden Prabowo Subianto ditujukan untuk memperkuat kedaulatan negara. Terutama menjaga wilayah kepulauan terluar dan tak berpenghuni. 

Sukamta menyetujui urgensi tersebut mengingat luasnya wilayah Indonesia di kawasan strategis. Namun, ia mengingatkan agar pengembangan tiap unit disesuaikan dengan karakteristik geografis serta potensi ancaman lokal.


Ilustrasi prajurit TNI. Foto: Dok. Medcom.id.

Mengenai hadirnya satuan teritorial pembangunan, Sukamta berpesan agar peran TNI dalam membantu pembangunan masyarakat tetap berada dalam porsi proporsional, tanpa mengaburkan orientasi utamanya sebagai alat pertahanan negara.

Sukamta turut menggarisbawahi eskalasi ancaman global terkini yang mulai bertransisi ke era perang siber, kecerdasan buatan (AI), hingga sistem tanpa awak. Penguatan struktur kewilayahan dinilai wajib berjalan selaras dengan penguasaan teknologi pertahanan modern.

"Hari ini kita berbicara tentang drone, rudal presisi, sistem tanpa awak, serangan siber, kecerdasan buatan, peperangan elektronik dan operasi informasi," kata Sukamta.

(Fachri Audhia Hafiez)